<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219</id><updated>2011-04-22T06:26:38.323+10:00</updated><category term='Personal'/><category term='Bangsa'/><category term='Islam'/><category term='Life'/><category term='weekly up date'/><category term='Melbourne'/><category term='Motivasi'/><category term='Refleksi'/><category term='Blog'/><title type='text'>Khabar dari Melbourne</title><subtitle type='html'>Karena blog hanya untuk iseng. Saya juga tetap akan hidup andai saja saya tidak menjadi penulis.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rudyland.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>268</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2961117129557487462</id><published>2007-10-26T20:09:00.000+10:00</published><updated>2007-10-27T23:55:25.833+10:00</updated><title type='text'>Miskin Prioritas</title><content type='html'>Marsya, saat ini telah berumur 5.5 bulan. Geli rasanya mengamati tingkah lakunya. Akhir-akhir ini Marsya lagi punya hobi baru yaitu mencoba memasukkan apa saja ke dalam  mulutnya. Kata dokter ini adalah tanda-tanda &lt;span style="font-style:italic;"&gt;teething&lt;/span&gt; (mau tumbuh gigi). Pokoknya apa saya yang bisa dia pegang otomatis akan coba dimasukkan ke dalam mulutnya, termasuk kemarin dia berupaya memasukin bola yang besarnya segedhe bola voli. Indera perasa Marsya tentu belum bisa membedakan mana makanan dan mana mainan, untuk itu kita harus hati-hati dalam mengawasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir, apa yang dilakukan Marsya sekarang, sebenarnya mirip yang dialami bapaknya. Tinggal satu bulan lagi Bapaknya Marsya akan berada di Melbourne, setelah 1.5 tahun lamanya menimba ilmu disini. Tingkah laku Bapaknya Marsya mirip kayak orang yang kegirangan melihat telaga setelah melewati padang pasir yang panjang. Apa saja coba dimasukkan ke dalam mulutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya segala sesuatu yang berhubungan dengan disipilin ilmunya tetapi juga beberapa pengetahuan terkait dengan bidang lain seperti politik, teori pembangunan, sastra, fotografi dan juga fisika! Mulai dari pemikiran Amarty Sen sampai dengan teori Cellular Automata nya Stephen Wolfram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seperti Marsya yang mencoba memasukkan semua ke dalam mulutnya, tidak semua 'mainan' itu enak dimakan dan perlu. Perlu ada 'indera perasa' untuk menyaring mana bacaan yang perlu dan mana bacaan 'untuk mainan', dan tentu saja bacaan yang perlu haruslah lebih banyak dari bacaan mainan bukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pentingnya prioritatas. Karen waktu kita terbatas sedang keinginan kita tidak terbatas. Mencoba memenuhi apa yang menjadi keinginan kita tentu akan membuat kita kelelahan dan kehabisan tenaga sebelum mencapai 'puncak'.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2961117129557487462?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2961117129557487462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2961117129557487462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/10/miskin-prioritas.html' title='Miskin Prioritas'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7896380955726076375</id><published>2007-10-21T10:56:00.001+10:00</published><updated>2007-10-21T11:35:27.567+10:00</updated><title type='text'>Memulai dengan Bertanya!</title><content type='html'>Cara belajar mandiri yang efektif!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ada perkembangan baru di dunia pendidikan tentang pentingnya kemampuan belajar mandiri dalam kesuksesan proses belajar mengajar. Pendekatan ini sering disebut dengan metode active learning atau dalam tulisan ini selanjutnya akan disebut dengan belajar mandiri. Argumen utama dari pengusung pendekatan ini adalah anak didik layaknya diperlakukan sebagai subjek bukan objek dan masing-masing anak adalah unik. Pola didik yang lebih menekankan pada upaya untuk mencecoki siswa sebanyak mungkin informasi dan pengetahuan terbukti tidak efektif. Pendekatan seperti itu hanya akan membuat siswa menjadi 'kelelahan' dan menjadi insan-insan 'generalis'. Padahal saat ini ditengah sengitnya persaingan mencari kerja dan perkembangan teknologi serta pengetahuan yang semakin cepat, diperlukan insan-insan yang mandiri,cepat beradaptasi dan tahan banting (long life learners)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan yang ada saat ini (baca di Indonesia) sayangnya tidak memfasilitasi kemampuan untuk belajar yang mandiri. Walaupun kurikulum telah diubah untuk lebih mengarah pada pengajaran 'berbasis kompetisi' namun sistem pendidikan di Indonesia masihlah sentralistik, misalnya masih diterapkannya UAN (Ujian Akhir Nasional). Oleh karenanya anak didik atau pendidik yang ingin menerapkan metode ini haruslah kreatif.  Kemampuan untuk belajar mandiri, ditengah sistem pendidikan Indonesia yang masih tradisional, tentu akan jadi nilai tambah dan nilai pembeda yang akan membantu mereka untuk menjadi pemenang di masa depan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun banyak pihak telah sadar akan pentingnya belajar mandiri, namun masih banyak kendala ditemukan di tataran praktek. Kendala pertama adalah ketersediaan bahan. Tentu literatur dan database di Indonesia tidak bisa dibandingkan dengan literatur dan database di negara maju. Akibatnya, murid kemudian menjadi tergantung pada guru sebagai sumber utama pembelajaran. Kedua, adalah kesalahan konsepsional tentang belajar mandiri itu sendiri. Banyak yang salah kaprah menyamakan belajar mandiri dengan belajar sendiri, padahal sebaliknya belajar mandiri justru membutuhkan kemampuan untuk belajar kolaboratif untuk men-sintesa pemahaman dan pengetahuan dengan murid lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar mandiri bisa dipandang lebih menekankan pada soft skill. Bukan menekankan pada kemampuan untuk menyerap informasi, tetapi lebih pada bagaimana cara berproses yang efektif dalam belajar (learn to learning). Individu yang memiliki kemampuan ini tentu saja akan memililiki kemampuan untuk lebih beradaptasi di lingkungan yang cepat berubah seperti saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu buku atau tulisan yang mengupas mendalam tentang konsep belajar mandiri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mau mencoba untuk memulai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin awal yang baik adalah mulai dengan membuat sederetan pertanyaan untuk dijawab, karena esensi dari belajar mandiri adalah membangkitkan kemampuan untuk bertanya secara kritis (critical thinking).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7896380955726076375?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7896380955726076375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7896380955726076375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/10/memulai-dengan-bertanya.html' title='Memulai dengan Bertanya!'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7072183156115458794</id><published>2007-10-13T00:38:00.000+10:00</published><updated>2007-10-13T06:19:25.111+10:00</updated><title type='text'>Lebaran di Melbourne</title><content type='html'>Iedul Fitri - 1428 H&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rw-I91jWEuI/AAAAAAAAAIU/JzDLauRnVrk/s1600-h/Iedul+Fitri+004.jpg"&gt;&lt;img style="margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rw-I91jWEuI/AAAAAAAAAIU/JzDLauRnVrk/s400/Iedul+Fitri+004.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5120461897272267490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto-foto lain ada di  : &lt;a href="http://rudyland.multiply.com/photos/album/14/Photo_Album_2007-10-12" target="_blank"&gt;Iedul Fitri di Melbourne Uni&lt;br /&gt;&lt;br&gt;Liputan Media:&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://republika.co.id/Online_detail.asp?id=310227&amp;kat_id=248" target="_blank" &gt;"Muslim Indonesia di Australia umumnya berlebaran Sabtu"&lt;/a&gt; Republika Online &lt;br&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7072183156115458794?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7072183156115458794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7072183156115458794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/10/lebaran-di-melbourne.html' title='Lebaran di Melbourne'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rw-I91jWEuI/AAAAAAAAAIU/JzDLauRnVrk/s72-c/Iedul+Fitri+004.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8880514098741483414</id><published>2007-09-27T20:36:00.000+10:00</published><updated>2007-09-27T20:50:14.047+10:00</updated><title type='text'>Menerima Beasiswa adalah Korupsi</title><content type='html'>Indonesia kembali masuk dalam daftar 32 negara terkorup versi Transparency International. Ranking transaparansinya pun melorot dari rangking 130 menjadi rangking 143 dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kalau anda coba bertanya ke lembaga pemerintah (yang dianggap sarang terbesar korupsi di Indonesia) maka jawaban mereka adalah "korupsi apa? apanya yang dikorupsi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar seperti diungkap Ariel Heryanto waktu ICOC di Monash University kemarin, sebelum ada pemisahan yang tegas antara ranah publik dan privata maka tindak korupsi menjadi kabur. Usaha memperkaya diri bisa dengan mudah ditutupi jubah 'demi pembangunan'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu menurut saya pribadi, korupsi menjadi kabur karena tidak ada pembedaan (atau bangsa kita biasa mengabaikan) antara hak dan kewajiban. Seharusnya ketika kita menerima hak ada kewajiban yang harus ditunaikan, karena keduanya bagaikan dua mata sisi uang yang tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kebanyakan kita sering teriak kalau hak kita dihambat, namun pura-pura tidak tahu kalau kita lalai menunaikan kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya adalah waktu kita menerima beasiswa. Saya adalah penerima beasiswa abadi sejak SMA dulu, karena memang saya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tetapi apakah semua beasiswa yang saya terima telah saya gunakan sesuai peruntukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari teman saya setelah menerima beasiswa, mereka membelanjakan uang tersebut untuk membeli &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tape Player&lt;/span&gt;, baju, jalan-jalan atau hal-hal lain yang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar. Saya termasuk juga yang 'sedikit banyak' berbuat hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering berkilah, "loh khan kita butuh hiburan juga? selama kita memberikan prestasi yang memuaskan tidak masalah khan?" Pembenaran-pembenaran semacam itulah yang lambat laun menggerogoti integritas kita sehingga kemudian kita semakin berani melakukan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya saat ini kemudian merasa takut, karena beasiswa yang saya terima saat ini jauh lebih besar dari beasiswa yang saya terima sebelumnya, dan tentu ada tanggung jawab ikutan atas penerimaan uang tersebut. Apakah saya cukup pulang dengan membawa gelar? Ataukah saya perlu memerankan diri sebagai agen perubahan, seperti yang diamanatkan oleh pemberi beasiswa? Apakah selama saya disini saya telah mengoptimalkan waktu untuk belajar dan menyerap ilmu? Ataukah saya terlalu sibuk untuk kerja sampingan dan kegiatan berorganisasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu bagi yang telah menerima beasiswa dan siap berangkat ke luar negeri, ada baiknya di mantabkan dulu niatnya. Karena silau dan gemerlap dunia lain sering kali membuat kita terpesona dan lalai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima beasiswa tentu jadi tindak korupsi apabila kita tidak mempergunakannya sesuai peruntukan, terlepas apakah ada aspek hukum atau tidak dibalik itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8880514098741483414?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8880514098741483414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8880514098741483414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/menerima-beasiswa-adalah-korupsi.html' title='Menerima Beasiswa adalah Korupsi'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7031457444153224083</id><published>2007-09-27T01:02:00.000+10:00</published><updated>2007-09-27T01:57:59.735+10:00</updated><title type='text'>What this man made of?</title><content type='html'>Fully quoted from Eye of Strom. The book review of latest Alan Greenspan's book. The greatest US central bankers (at least what media say)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.theaustralian.news.com.au/story/0,25197,22441518-28737,00.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;I was supposed to fly on Monday afternoon to Dallas. That morning I conferred with the board of governors and we agreed that I should make the trip, lest it seem the Fed was in a panic. There was no telephone on the plane. So the first thing I did when I arrived was to ask one of the people who greeted me from the Federal Reserve Bank of Dallas: "How did the stock market finally go?" He said: "It was down five oh eight."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usually when someone says "five oh eight", he means 5.08. So the market had dropped only five points. "Great," I replied. "What a terrific rally." But as I said it, I saw that the expression on his face was not shared relief. In fact the market had crashed by 508 points, a 22.5 per cent drop, the biggest one-day loss in history and bigger even than on the day that started the Depression, Black Friday in 1929.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I went straight to the hotel where I stayed on the phone into the night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was not inclined to panic, because I understood the nature of the problems we would face. Still, when I hung up the phone around midnight, I wondered if I'd be able to sleep. That would be the real test. "Now we're going to see what you're made of," I told myself as I went to bed, and I'm proud to say I slept for a good five hours. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7031457444153224083?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7031457444153224083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7031457444153224083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/what-this-man-made-of.html' title='What this man made of?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-122900874436496442</id><published>2007-09-25T19:52:00.000+10:00</published><updated>2007-09-25T19:53:42.815+10:00</updated><title type='text'>The best defense</title><content type='html'>the best defense is no defense. You might hear that the best defense is offense, but that is in soccer, not in the real life, or to be specific in human relationship. When you are attacked by any person, and you fire back, often it will give no good to you. Yes you might win the argument, but definitely you will not win a friend. Not many people can accept defeat gracefully; they become envy and seek the right time to revenge. That is why on my opinion that we should accept criticism, attack and whatsoever, and reply them not by word but by action. Action speaks more than million words right?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-122900874436496442?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/122900874436496442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/122900874436496442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/best-defense.html' title='The best defense'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2914953894598213584</id><published>2007-09-19T21:02:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:56:41.048+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><title type='text'>Mereka tidak pernah memanggil saya Indon</title><content type='html'>Berat rasanya harus memosting tulisan ini. Saya menunggu suasana benar-benar tenang agar bisa berpikir jernih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah kecongkakan di seberang laut sana yang tega memanggil saudaranya dengan panggilan hina 'indon'? Panggilan yang mengingatkan dulu para penjajah memanggil bangsaku yang kucintai ini sebagai 'budak'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat cerita tentang dua orang babu yang saling menjelekkan satu sama lain hanya untuk mencari muka tuannya. Apakah hal sama terjadi antara bangsaku dan saudaranya? Saat satu menjelekkan yang lain, dan dibalas hal yang sama, ada 'tuan' disana yang sedang tersenyum-senyum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, karena saya tidak pernah merasakannya. Walau pernah diri ini ditanya apa saya dari 'indon', tetapi ibu yang renta itu tentu tidak dalam 'mode' menghina, karena saya telah berbudi baik untuk menolongnya saat dia kesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun melihat orang-orang sebangsa, dipaksa duduk dalam panas, diperlakukan seperti kriminal, diusir dari tanah rantau, sungguh menyesakkan dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mereka tidak takut, gambaran yang demikian bisa membekas dalam ke anak muda dan anak kecilku, sehingga menanamkan kebencian yang dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau mereka sekarang tengah jaya dengan ekonominya, namun itu tidaklah seberapa. Kita ingat bahwa harta itu hanya titipan, sedikit tiupan saja semuanya bisa binasa. Lalu mengapa mereka menjadi congkak, dan menganggap bangsaku bangsa yang rendah? bangsa yang suka onar? bangsa yang memang layak diperlakukan dengan kasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat pemimpin mereka, mereka telah minta maaf. Walau hanya lewat sepatah kata via telepon di malam hari. Tentu itu tidak membunuh sakit yang ada didada ini. Sakit yang butuh pelepasan, lebih dari sekedar kata 'menyesalkan bahwa peristiwa itu terjadi'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana pengusutan para cecungguk praja yang telah berbuat kejam itu? Kami belum dengar! Mana ganti rugi yang sepadan bagi bangsa kami yang kalian aniaya itu. Kami belum dengar! Atau memang kalian menunggu kami lupa, seperti biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ini adalah bulan yang suci. Bulan yang bangsa kami dan saudara kami junjung tinggi. Semoga ada jalan penerang bagi saudara-saudara kami di seberang laut sana, bahwa kecongkakkan selalu menjadi awal sebuah kehancuran. Saudara yang baik adalah saudara yang selalu mengingatkan saat saudaranya sedang lena bukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2914953894598213584?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2914953894598213584'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2914953894598213584'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/mereka-tidak-pernah-memanggil-saya.html' title='Mereka tidak pernah memanggil saya Indon'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1665335413191801384</id><published>2007-09-12T13:10:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:55:36.983+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Ramadhan di negeri orang</title><content type='html'>Saya sedang terburu untuk kuliah siang ini. Namun rasanya janggal saya tidak menuliskan sedikit tulisan untuk tamu istimewa yang bakal datang besok. Tamu yang begitu istimewa sehingga saya sering malu karena tidak membuat persiapan ala kadarnya. Saya malu karena dari tahun ke tahun hanya itu-itu saja hidangan yang saya bisa berikan. Tamu istimewa itu adalah bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan masa kecil akan ramadhan yang indah dan meriah masih melekat dalam benak saya. Bagaimana saya dengan tidak sabar menunggu bedug, mandi berkali-kali agar tidak haus, atau males-malesan bangun sahur. Melewatkan malam untuk bergadang di masjid bersama teman-teman, ikut menyiapkan buka puasa buat adik-adik TPA dan tentu saja kesana-kesini untuk mengikuti pengajian dan buka bersama. Saya melakukan semuanya dengan sukacita. Banyak momen-momen spesial yang telah saya lewatkan bersama bulan yang lebih baik dari seribu bulan itu. Oleh karenya agal janggal saya kembali melewatinya tahun ini dalam sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitulah keadaan bagi kita kaum perantaun. Sejak saya merantau di Jakarta dulu, saya telah sering 'terlewat' atau 'melewatkan' sholat tarawih berjamaah. Saya cukup puas bisa sholat tarawih bila dirasa badan tidak terlalu pegal-pegal sehabis bekerja sehari semalaman. Seringkali bahkan saya dan rekan-rekan sekerja menyantap sahur di kantor atau di tempat klien. Saya lakukan dengan nestapa, tetapi apa mau dikata, saya hanyalah seorang perantuan tanpa punya banyak pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali kekampung halaman dan harus merantau lagi ke negeri seberang. Kembali kerinduan itu menyeruak. Tidak ada kumandang adzan atau bunyi sirene tanda buka puasa. Tidak ada orang beramai-ramai, bersahut-sahutan membangunkan orang untuk sahur. Tidak ada kupat dan kolak dan juga tidak ada sanak kerabat keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya masih bersyukur bisa puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya anggap ini tantangan. Karena toh puasa bukan hanya menahan makan dan minum. Banyak hal lain yang harus kita lakukan atau tidak kita lakukan. Bergunjing, marah-marah, dan berpikiran kotor harus dijauhi selama bulan puasa ini. Mengaji, mendegarkan bacaan kitab suci, mengikuti pengajian dan berbuat amal baik yang lain perlu kita tingkatkan. Ketika syetan dibelenggu, tetapi dijalan-jalan banyak 'kulit' mulai terbuka menjelang summer, ya harus sabar. Ketika kita haus dan lapar ketika yang lainnya makan dengan enak, ya kita harus sabar. Bukankah puasa adalah latihan pengendalian diri. Semakin banyak tantangan, dan kita tetap bertahan, bukankah itu lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Allah menjadikan bulan puasa ini dan kemarin lebih spesial. Karena melewati ramadhan di negeri orang memang tidak senikmat melewatkan ramadhan di negeri sendiri. Tetapi siapa tahu banyak berkah dibaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menjalankan ibadah puasa 1428 H bagi yang menjalankan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1665335413191801384?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1665335413191801384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1665335413191801384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/ramadhan-di-negeri-orang.html' title='Ramadhan di negeri orang'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8056319142921575763</id><published>2007-09-12T12:54:00.000+10:00</published><updated>2007-09-12T13:09:53.754+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='weekly up date'/><title type='text'>What's up!</title><content type='html'>Oh I missed a lot of thing to be posted, anyway there are some sites you must know!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Do you want some lucks in your second life? You don't have to wait just go to &lt;a href="http://secondlife.com/"&gt;www.secondlife.com&lt;/a&gt;. This site will make revolution in the internet caused by myspace, blogger and youtube looks ordinary. Oh..the world has not running out some crazzy-genius people yet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Do you miss Indonesia in old days. Just go to &lt;a href="http://www.kitlv.nl/"&gt;www.kitlv.nl&lt;/a&gt; for thousand of photos and videos of ancient Indonesia. You will be amazed I bet!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;a href="http://gohsuket.vox.com/library/post/iphone-pradaphone-gphone.html"&gt;Do you think hand phone has become fashion now?&lt;/a&gt; After iPhone, now there is PradaPhone, or Samsung E-500 Versus (in collaboration with Versace), or you can check Dolce&amp;Galbana, or Nokia-Virtu? What a fuss! I am happy with my old phone anyway. As long as I can use it for SMS that's enough!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ramadhan is coming. If you are in Australia maybe this site will be helpful. &lt;a href="http://www.ramadan.com.au"&gt;www.ramadan.com.au&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Do you interest in moonsighting? See this web http://moonsighting.com/&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. What's next!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8056319142921575763?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8056319142921575763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8056319142921575763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/whats-up.html' title='What&apos;s up!'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4021006758118510134</id><published>2007-09-03T02:11:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.788+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Fathers Day</title><content type='html'>Today, Australians celebrates Fathers Day. They celebrate it in many ways, but one common thing is to give the father a gift. Suddenly, I miss my father back home. He still struggles with leg-injury due to last year earthquake, but surely he will laugh if I tell him that people here celebrate Fathers Day. I myself find it quite funny too, why do we need to celebrate Fathers Day?  However, if you think that we necessarily need to celebrate Mothers Day, why not Fathers day? Most of people think that being a mother is the toughest job to do in the world, but being a father it is not easier to do though. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, I have been thinking what I will give to my father if Indonesian people celebrate Fathers Day. I know my father really want a thick and comfortable jacket. The other things he likes are food (traditional Indonesian food). Or what about buy a ticket for him to go to Australia? Some of my friends do it so, but not for my father. He had allergy to cold weather, and he doesn’t like to go to a place where he cannot understand the language (because just like me he likes to talk). And he also doesn’t like fancy-sophisticated things such as electronic device or other new technology. The only one electronic device he likes is a small radio to listen Wayang (a traditional javanese puppet show) each night. My father is also an old-fashioned guy who wears the ‘standard’ outfit in 70’s style. So it always complicated whenever it comes to what a gift should I give to him. But finally I know what I should give him as a gift, but let me tell you a long story first before that.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I admire him, despite of a quite long time of bumpy relationship between us. I remember that we always had debate about Indonesian politics, how to deal with our neighbours and other daily-minor-things. He is intelligent and has a good logic despite of his low education. But he is really a stubborn man. One of his dreams is to have a son/daughter who studies abroad. He repeatedly said that he regretted that he missed to get to high school just because his father was too poor to pay the education fee. He had to work after junior high school so his younger brother can go to high school. That's why, he promised to himself that he will do whatever he can to get all of his children to have high education. He sacrificed many things to get his promised done. But eventually, he was successfully to achieve it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember that he really wanted me to become a soldier in the first place, like his long-life obsession when he was young. Indeed, I went through some tests to become a soldier just to make him happy. After I failed to do that, he gave me all of independence that I need to decide about my future. I know that he was reluctant when I wanted to pursue my undergraduate in Accounting. He preferred me to go to Engineering, but I successfully convinced him that Accounting degree, despite cheaper it would give me immediate job after I graduate.  He also let me go when I decided that I wanted to pursue career in Jakarta. Other than be a soldier, he wanted me to become a teacher or lecturer just like my mom. But he knew as a young man, I need to have a new challenge after spending entire my life living peacefully in Jogja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I worked in Jakarta, it was my first time to live far away from him. I routinely go back and forth Jakarta-Jogja once in two months, then once in a month and then once a week. I realized that I cannot live far away from my family. Then, I faced a difficult situation in my Jakarta office which pushed me to resign. I called my dad on that day, and he insisted that I had to resign immediately and go back to Jojga. He said why you work so hard but you live not peacefully. He said that it is useless to live with a lot of money but we are unhappy. So he suggested that I leave my work and start a new career in Jogja, although he knew that there was not much work to do in Jogja. I had to wait another 3 months to actually resign from my office. That was one of the most difficult decision I had to make in my life. Then, I came back to Jogja, with an empty mind about my future. Maybe God himself had given me a way, at that time, coincidently there was a huge recruitment for Government Officer in all of department of Indonesian Government. My father insisted that I had to take the opportunity. I was really reluctant to do it. After spending two and half years in Public Firm, I think I will not survive in such static, bureaucratic and boring environment. But I think God works in mysterious way, firstly I had my friend who asked for my help to get the documents needed for the application to a local government. What happened was I also apply for the same position with her. Secondly, a friend coming from Jakarta asked for my help to lodge another application to government education agency. When I asked her what position she intended to apply, she said “lecturer”. Wow, I didn’t know there was such vacancy. Suddenly, I became very interested to that position, so I quickly made application letter, CV and completed with documents I intended to apply for local government officer. It took me two months to complete all of requirements and followed the tests. And in the whole two months, I completely became unemployment. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without I expected, I had a call from my previous manager that he offered me a position to his new office. At that time, I haven’t received any news from the government agency and I was running out of money. Without much thinking I take the train to Jakarta. It took me only two days to know that I was hired. But, I had to go back to Jogja first to celebrate Iedul Fitri. Then, I worked in the same job and in the same position only in difference Company. My father hesitantly let me go to Jakarta again, since he was sad looking me spent days doing nothing. Exactly one month after I worked in the new company, the government agency released the result of the recruitment. To everybody surprise, I succeed. I was really happy to hear that and my father was even more. He started to tell the good news to my neighbor and other relatives so I was really embarrassed. But then once again, I had to wait for 5 months just to know where my post is. Meanwhile, I went to Jakarta again to continue business as usual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And now I am here, in part, fulfilling one of my father dreams. I am happy since I am doing what I am dreaming for and love to do. I have so many things I want to say to my father. I would like to thank him for everything he has done, so I can be what I wanted to be today. I learn a lot from him. Some of them are valuing hard work, putting family first and willing to help others. Through my hardest days in here, I always remember that I shall go home with title. I will dedicate my postgraduate title to him and to my mother. Maybe, that is the only thing that I could give to them as a gift for now. As a gift from a child who barely to say I love you to them, or to say ‘happy fathers day’. And I hope they will proud of me someday. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Hopefully I also can be a good father for Marsya too&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4021006758118510134?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4021006758118510134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4021006758118510134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/09/fathers-day.html' title='Fathers Day'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2909364611458005705</id><published>2007-08-31T01:20:00.000+10:00</published><updated>2007-08-31T01:44:32.286+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Panggung Mimpi Melbourne</title><content type='html'>Epilog untuk sebuah kenangan indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita adalah kenangan, rasanya tak mudah dilupakan&lt;br /&gt;“Kita adalah harapan, indahnya tak mudah dibayangkan&lt;br /&gt;“Tangisan, dan Tawa, serta Riang Canda, &lt;br /&gt;“Berjuta mimpi, Juga rindu,&lt;br /&gt;“Semua Tumbuh Jadi Satu&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Malyda feat Deddi Dhukun dekade 80-an&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang pengelana di jagad kecil Melbourne ini, mata dan telinga saya tidak bisa lepas dari sebuah panggung gemerlap bernama PANGGUNG MIMPI. PANGGUNG MIMPI adalah panggung nyata bagi para pemain didalamnya. Panggung itu awalnyanya kecil, dan dimainkan oleh beberapa orang yang memang telah kenal dekat di dunia nyata. Oleh karenanya pertunjukkannya terlihat begitu mengalir dan natural. Mereka dengan bebas saling cela mencela, membuka rahasia satu sama lain dan kritik mengkritik. Itulah yang mengapa tontonan yang disuguhkan begitu hidup dan segar. Apalagi diantara mereka ada beberapa yang terjangkit cinta lokasi, ramai sudahlah panggung kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun panggung itu pun mulai ramai dikunjungi banyak orang, layaknya sebuah Pasar Malam. Keramaian itu mengundang banyak pihak untuk mendirikan pangung-panggung serupa, tetapi masih dalam kawasan yang sama. Sebagai seorang  pengelana itu berita bagus, karena semakin ramai semakin saya menikmatinya. Namun alangkah eloknya, walau tidak ada yang mengatur pangung-panggung tersebut bisa saling menjajakan pentas tanpa harus rebutan pengunjung. Entah ada kesepakatan atau tidak, ketika satu panggung beraksi, panggung lain tahu diri, sehingga penonton tidaklah menjadi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa saya cepat merasa kerasan dan segeralah saya mencari tempat yang enak sekedar jongkok menikmati keramaian. Semakin lama saya menjadi begitu terkesima dengan keanggunan dan keserasian Pasar Malam tersebut, seolah berbagai bunyi keramaian dan orang berlalu lalang menciptakan  sebuah orkestra dan sendra tari yang harmonis. Saya yang sudah bosan dengan banyaknya aturan tanpa ketaatan, seperti yang terjadi di negeri saya dibesarkan, seolah mendapatkan oase kesadaran. Mata dan pikiran saya sontak terbuka, ternyata keserasian hidup bermasyarakat bisa terwujud tanpa harus ada penguasa yang mengatur segalanya! Tanpa perlu ada aturan tertulis! Tanpa perlu adanya ijin sana ijin sini! Tanpa perlu prosedur dan birokrasi! Semua bisa berjalan serasi. Seolah ada ’tangan-tangan yang tidak terlihat’ yang mengatur Pasar Malam ini. Saya menjadi larut dan merenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah duduk dan mengamati lama, saya menjadi begitu penasarannya dengan fenomena ’tangan-tangan yang tidak terlihat tersebut’, sehingga saya tidak bisa menahan diri untuk ikut berdendang dan menari mengikuti irama yang ada. Tidak hanya sampai disitu, saya sangat penasaran juga dengan rahasia di’balik panggung’ untuk pentas yang elok ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu beberapa waktu untuk nyungsep ke bilik dapur mereka, ikut gladi resik, mencuri dengar, berdiskusi dengan beberapa pemain, melakukan observasi langsung, dan bahkan ikut pentas, hanya untuk tahu rahasia kesuksesan dibalik PANGGUNG MIMPI ini (beberapa temuan sangat mengejutkan saya). &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;1. ’Pemimpin yang membumi’.&lt;/span&gt; Walau tidak ada penguasa resmi, namun PANGGUNG MIMPI ini punya figur pemimpin kharismatik. Dia tidak pernah menyebut dirinya seorang pemimpin, tetapi warga secara sukarela mematuhi dan menobatkannya sebagai pemimpin mereka. Dia dihormati dan dipatuhi bukan karena kekuatan ataupun kekuasaannya. Dia punya kematangan dan kebijakan yang sering kali memberi jalan keluar bagi banyak kebuntuan dan perselisihan di PANGGUNG MIMPI tersebut. Tutur katanya yang menyejukkan dan dedikasinya yang luar biasa buat PANGGUNG MIMPI, membuat semua orang menghormatinya. Mungkin dia bisa dikategorikan memiliki kharakteristik ’Level 5 Leadership’ memakai konsep Jim Collins dalam bukunya Good to Great.  Dia sukses menjadi pendorong, pemberi inspirasi, pengayom dan juga penyokong dana untuk kegiatan-kegiatan PANGGUNG MIMPI.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. “Dari Kita, Untuk Kita dan Oleh Kita”&lt;/span&gt; adalah semboyan PANGGUNG MIMPI. Semboyan PANGGUNG MIMPI tersebut sangatlah ‘powerful’. Semboyan ini benar-benar membumi dan memenuhi apa yang menjadi kebutuhan warganya. Semboyan itu menjiwai acara-acara awal PANGGUNG MIMPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. “Team Hula-Hula” &lt;/span&gt;Team ini bukan hanya sangat kreatif, tetapi mereka juga pekerja keras. Team ini beranggota 5-6 orang dan merekalah yang menjadi tulang punggung PANGGUNG MIMPI dalam setiap kegiatan. Baik pemimpin dan team Hula-Hula memiliki sifat dasar yang sama, yaitu mereka memiliki kepedulian yang membuncah terhadap nasib orang lain, baik itu orang yang mereka kenal ataupun orang yang sama sekali belum pernah mereka temui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat-kiat sukses lainnya saya pikir sangat umum dan lebih sebagai akibat dari ketiga hal diatas. Selintas kegiatan para pemain PANGGUNG MIMPI seperti makan-makan bareng, nonton bareng, bowling dan lain sebagainya terkesan acara penuh hura-hura dan khas anak gaul, tetapi selain itu mereka juga punya acara seperti pengaajian rutin dan pemberian santunan anak yatim, sehingga terwujudlah sebuah keseimbangan kegiatan antara berburu kesenangan pribadi dan kepedulian sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, antara satu anggota dengan anggota Team Hula-Hula PANGGUNG MIMPI lainnya juga sangat dekat secara pribadi, walau bukan berarti mereka tidak pernah ada konflik. Banyak konflik yang terjadi antara mereka, tetapi selalu bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik (walau kadang konsekuensinya mereka harus membayar tagihan telepon ratusan dollar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya seperti semua cerita indah dalam aneka pertunjukkan, semua ada akhirnya. Orkestra dan sendra tari yang begitu indah dan natural itu menjadi terberai hanya karena adanya ketakutan-ketakutan (yang sebenarnya sangat beralasan) atas keberlangsungan PANGGUNG MIMPI di masa datang. PANGGUNG MIMPI yang semula digelar dilapangan luas, saat ini mulai terlihat ada pagar-pagarnya, karena takut dirusak oleh penonton yang ugal-ugalan. Baik penonton dan pemain mulai dikenai berbagai peraturan, demi menjaga ketertiban katanya. Kemudian beberapa waktu lalu digelarlah rapat warga akbar untuk memilih dan menobatkan SUTRADARA untuk menggantikan Sang Pemimpin yang telah pergi mengembara. Beberapa tokoh PANGGUNG MIMPI juga menginginkan adanya keteraturan dalam pementasan, dengan meniadakan ruang improvisasi dan menghilangkan budaya kritik mengkritik antar permain dengan mengatasnamakan ’menjaga kerukunan’. Setiap pihak yang mau membuat pentas baru harus minta ijin SUTRADARA. Kemudian ditunjuk juga pembantu SUTRADARA, serta ditetapkannya ketentuan-ketentuan lain yang mengatur para pemain baru dan pemain lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapannya adalah dengan adanya manajemen yang rapi PANGGUNG MIMPI akan tambah ramai dan keberlangsungannya ditahun-tahun mendatang terjamin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenyataan berkata lain. Memang ada pelonjakkan jumlah pengunjung dan pentas-pentas baru menjelang dan beberapa saat setelah pelantikan SUTRADARA, namun setelah itu lambat laun, pentas-pentas mulai terasa hambar membosankan dan penonton pun berangsur-angsur menurun. Semua seolah menunggu arahan SUTRADARA untuk bergerak, berbeda dengan dahulu saat semua pemain bebas berimprovisasi. Mulai lagi antar pemain satu dan pemain lainnya mulai menggunakan bahasa-bahasa daerah masing-masing yang kurang diketahui oleh penonton, hal yang sangat tabu sebenarnya untuk dilakukan. Selain itu komunikasi diluar panggung macet! Antar pemain satu dengan pemain lainnya nampaknya tidak menganggap penting 'sentuhan personal lagi', mereka berpikiran bahwa mereka cuma perlu 'memainkan skenario' yang telah ada. Cukup. Tidak perlu lagi membangun 'chemistry' di luar panggung seperti dulu, toh para pemain sudah profesional bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau berspekulasi baik untuk penyebab masalah penurunan jumlah penonton  ataupun untuk masa depan PANGGUNG MIMPI. Mungkin masalah-masalah tersebut disebabkan kesibukan masing-masing pemain sehingga lawakannya terasa garing dan itu-itu saja, atau mungkin karena dampak penurunan global jumlah penonton karena mereka lebih senang nonton Thukul. Kekhawatiran saya sebenarnya adalah jangan-jangan pamor PANGGUNG MIMPI luntur karena hilangnya ketiga kunci keberhasilan PANGGUNG MIMPI diatas?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanyalah seorang pengelana yang sebentar lagi meninggalkan kota ini. Tidak sopan bagi saya untuk berceloteh macam-macam untuk pentas yang tengah berlangsung, apalagi setelah saya dijamu dengan berbagai kenikmatan. Epilog ini hanyalah untuk pengingat saja, untuk semua kenangan saya bersama PANGGUNG MIMPI baik suka maupun duka, baik maupun buruk, yang semuanya telah tumbuh menjadi satu. Bagi saya episode PANGGUNG MIMPI ini telah berakhir, entah bagi yang lain. Episode indah tersebut telah berganti dengan episode PANGGUNG NYATA. Panggung yang nyata tetapi penuh kepalsuan dan pura-pura. Panggung Nyata yang penuh aturan ini itu yang sebenarnya tidak perlu. Panggung Nyata yang penuh asumsi dan ketakutan-ketakutan yang tidak perlu. Panggung Nyata yang menyita perhatian penonton hanya untuk berita-berita rutin atau berita buruk. Panggung Nyata yang tidak punya kehidupan di luar panggung. Panggung Nyata yang membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kadang mimpi itu perlu? Supaya kita tidak larut dalam kenyataan yang semu. Supaya kita tetap sadar bahwa kenyataan saat ini tidaklah baik dan perlu kita rubah. Jujur saya merindukan PANGGUNG MIMPI sebelum dia bermetamorfosa menjadi PANGGUNG NYATA. Hei, teman dimanakah kamu? Apakah kamu temukan PANGGUNG MIMPI disitu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2909364611458005705?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2909364611458005705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2909364611458005705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/panggung-mimpi-melbourne.html' title='Panggung Mimpi Melbourne'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7801941394359766538</id><published>2007-08-28T22:18:00.000+10:00</published><updated>2007-08-26T23:25:32.058+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Good Hunting :  Camberwell Sunday Market</title><content type='html'>I found it always interesting to buy a high quality second hand stuffs (which I usually call it antiques ;-p). There are a lot of surprised, blessed feeling and adventures which we can proudly share with the others (the second hand lovers what I mean). That is why I love Melbourne very much, Melbourne is like a heaven for second hand stuff hunting. There are many spots that we can explore. I will share them to you one by one under heading "Good Hunting". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't know why I always be passionate to do the hunting, but it is like fishing, although you can get fish easily and cheaply in the market, but it will not buy the adventurous and challenging kind of feeling if you're fishing. It is not about 'the fish' but how you get it. Even though, hunting second hand stuffs can put us to pay more for less value, but I found a lot of people still do it. This turns to be a hobby for certain people, and the more you do it the more you can get addicted. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, do you have the same hobby with me? Maybe we can hunt together sometime. Herewith I post some FAQ's&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;How to get there&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Go to Flinder Street Station. Get a train to Lilydale or Glen Waverly, and get off in Camberwell Station. Go out and turn right. Just follow the crowd to the market. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;What you can get?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Branded clothes and Jeans (1$ - 5$ each), souveniers, antiques, electronics, jacket, CD, disc, books, toys, etc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;How much do you need to pay to enter?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Free, but usually we drop a coin in the Charity Box near the entrance gate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;What about time?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Every sunday at 8.oo am - 12.oo pm&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Can we bargain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Off course. You have to. The price will drop near the closing time, but usually the good stuff sold out in the first two hours from opening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Happy hunting!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7801941394359766538?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7801941394359766538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7801941394359766538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/good-hunting-camberwell-sunday-market.html' title='Good Hunting :  Camberwell Sunday Market'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8776096891135697925</id><published>2007-08-26T23:28:00.000+10:00</published><updated>2007-08-26T23:40:07.258+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='weekly up date'/><title type='text'>Weekly Up Date</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;What I read within this week&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;a href="http://news.google.com.au/news?q=equine+flu&amp;hl=en&amp;safe=off&amp;um=1&amp;sa=X&amp;oi=news_result&amp;resnum=1&amp;ct=title"&gt;+ Australian fears of Horse Flu (Equine Flu)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://magneto.net.au/documents/WritingWrongs-HRMonthly-Aug07.pdf"&gt;+ Bad writing, bad to your business :&lt;/a&gt; how to write on business sense&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ &lt;a href="http://jimcollins.com"&gt;Jim Collins : The new strategic management guru&lt;/a&gt; (for anyone who think Michael E Porters' concept is obsolete)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ &lt;a href="http://grammarbook.com"&gt;Learn Grammar (again and again)&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8776096891135697925?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8776096891135697925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8776096891135697925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/weekly-up-date.html' title='Weekly Up Date'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7233547302735338927</id><published>2007-08-26T21:28:00.000+10:00</published><updated>2007-08-26T22:17:26.717+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog'/><title type='text'>A boring accountant tries to become a writer</title><content type='html'>A boring accountant? Yes, it is neatly sum up who I am (and hundred thousand people out there). Actually, I am bored to become an accountant, and eventually that makes my life boring (one of them is because I always complain about everything). You might want to know why? Let's imagine the whole life dealing with numbers, busy to count other people's money, and in the month-end we receive underpaid salary. Not mentioned, we always live in fear of risks to go to jail if anything goes wrong with our financial report. Can you mention any interesting part of becoming an accountant? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks God it is not the end, since we cannot be so unlucky all the time (even a totally looser has chance to win right?). I finally found what makes my life interesting, I have bunch of stories of my boring life which can be put into a novel. So I decided why don't I try to become a writer. It is look so interesting. You can work anywhere, write what you like, and if you're lucky you can be rich (and do you know how many unlucky writers out there, not many isn't it?). But I trained to become an accountant, who think and act in the most conservatively manner, especially there is money involved. So I have made my calculation as below;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. If I wrote a novel about a boring accountant, who will buy it? If nobody will buy it isn't that makes my life more boring. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. If I made it and eventually it becomes a huge success. Then what? I can write if I am bored, so if I want to keep on writing, I have maintained to work as an accountant, otherwise my life will get happily, and I cannot write anymore (is there any happy writer out there?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So what do I need to do? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maybe I just need to take a break, that's all. You cannot be somebody else or change your whole career in a day. Do I have courage to change my career now? Do I have a passion on writing? Does career as a writer sustainable? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of my friend, who is a boring accountant also, makes a huge jump in his life. He took a whole month long traveling to Thailand, Vietnam, Kambodia, Jakarta and finally Bali. He said the most interesting place of all is Jakarta ( he he I'm kidding), and he is a very good writer. He sneaked to find an internet cafe to give us up date of his traveling, and his stories were very alive with a lot of interesting stuff that we were never know before. But he is an old-fashioned writer, who don't know how to make a blog, well maybe next time I will asked him to write here, to spice up this soon to be boring blog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7233547302735338927?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7233547302735338927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7233547302735338927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/boring-accountant-tries-to-become.html' title='A boring accountant tries to become a writer'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5068835126032516965</id><published>2007-08-25T00:03:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:56:12.753+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Tears in Melbourne</title><content type='html'>I wish living in Melbourne just as easy as to breathe the fresh air of sunny morning. The fact is the opposite. Living in Melbourne is as unpredictable as everyday weather. You can find a very warm morning then turn to a very cold afternoon. It is so weird.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But man got to do what a man got to do. I was fully aware of any issues when I chose Melbourne as my destination to study. But I never expect that live can be so hard when you're in abroad. This is my first time living in place which I become minority.  I don't really matter about the weather, lifestyle, people, culture and even food, but I found it really hard to live far away from my family and closed friends.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don't know why I choose to study in Melbourne University, at the first place. Surely, It is not because Melbourne University per se. I don't really care in the beginning that Melbourne University is one of the best University in Australia (and number 22 in the world). I chose to study here just because of the city. Yeah, Melbourne is one of the most livable city in the world, and this city reminds me a lot of Jogja, my beloved hometown (which I think is the best city to live in the world). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I firstly arrived, I am astonished by the beauty of the city which blends the tall classic building and the art deco building. The street is wide and full with cafe on both sides. There is a tram which can brings us anywhere cheaply and safely. It's very comfy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But, as time goes, I found that this city (and it's life) is so standard. Everything becomes routine. There is not much fun anymore. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I made a lot of new friends in here, some of them are very closed to me. I trusted them, as I trust my best friends back home. I share my deepest thoughts and what I want to be. They had helped and rescued me through many bad times. I indebted to them, and I don't know what I can offer to pay for it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suddenly living in this city seems very sad and lonely, when I found I could do nothing to help them in their very difficult times. I feel really bad. Where I am when they need me most? I guessed I'm too busy to pursue my own dream and neglected my dear friends. Really It is not easy to see one by one of my closest friends stumbling down. Melbourne University now is very demanding, and in pursuing their vision of so called Dream Large there are a lot of student's fate got sacrificed. Some of them unfortunately are my friends. They are very disappointed with the changing rules (in the name of in search of excellent)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We arrived in this city together, facing the same problem as new comer, share the same joy and bitterness, and I have to see you going home too soon. It's almost there but now it is time to say goodbye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And I only can sing...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Would you know my name, if I saw you in Melbourne...&lt;br /&gt;"Would it be the same, If I saw you in Melbourne..&lt;br /&gt;"I've got be strong, and carry on, &lt;br /&gt;"Cause I know, there will be no more&lt;br /&gt;"Tears in Melbourne"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5068835126032516965?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5068835126032516965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5068835126032516965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/tears-in-melbourne.html' title='Tears in Melbourne'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-301108289896163484</id><published>2007-08-21T12:23:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:56:12.754+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Things You Can't miss at Melbourne</title><content type='html'>Copied from International Student Newsletter Edition 3 Semester 2 2007&lt;br /&gt; - Melbourne University.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Check out the beautiful old buildings in the city, including Curtin House, Nicholas Building, ANZ "gothic" bank, Melbourne Town Hall.  Lots of funky designers and jewellers sell their handcrafted wares.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: &lt;br /&gt;- The Age - &lt;a href="http://www.theage.com.au/news/victoria/up-where-we-belong/2007/08/03/1185648111531.html?page=fullpage#contentSwap1"&gt;Where we belong?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;-Take a haunted ghost tour of Melbourne via &lt;a href="http://www.haunted.com.au/ghosttour.html"&gt;the Haunted Bookshop&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;-If you're feeling rich, book on &lt;a href="www.tramrestaurant.com.au"&gt;the tram car restuarant&lt;/a&gt; ! &lt;br /&gt;-&lt;a href="www.eurekaskydeck.com.au"&gt;Eureka Skydeck 88&lt;/a&gt; (highest public vantage point) &lt;br /&gt;-Art &amp; Design Walks - &lt;a href="http://www.hiddensecretstours.com"&gt;Hidden Secret Tours&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;-774 &lt;a href="http://www.abc.net.au/melbourne"&gt;Melbourne PodTours&lt;/a&gt;:  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;-Events in Melbourne&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;14 April – 7 October:  &lt;a href="http://www.hilite.com.au"&gt;Giant Sky Wheel&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;20 June – 7 October:  &lt;a href="http://www.ngv.vic.gov.au/guggenheim"&gt;Guggenheim Collection: 1940s to Now&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;28 June – 14 October: &lt;a href="http://www.acmi.net.au"&gt;Pixar: 20 Years of Animation Exhibition&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;13 July – 11 November: &lt;a href="http://www.slv.vic.gov.au/programs/exhibitions/kmg/2007/famous/"&gt;FAMOUS – Karin Catt Portraits  &lt;br /&gt;&lt;/a&gt;19 July – 22 November: &lt;a href="http://www.phantomoftheopera.com.au"&gt;The Phantom of the Opera&lt;/a&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;For more information on upcoming events, &lt;br /&gt;visit www.thatsmelbourne.com.au, &lt;br /&gt;www.visitvictoria.com &lt;br /&gt;or http://melbourne.citysearch.com.au&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-301108289896163484?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/301108289896163484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/301108289896163484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/things-you-cant-miss-at-melbourne.html' title='Things You Can&apos;t miss at Melbourne'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6595900577889843060</id><published>2007-08-19T23:28:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.788+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Pulled Elbow</title><content type='html'>After worked on something till 2.30am last night, I woke up this morning when suddenly I heard my daughter cries loudly. I asked to my wife what happened to her and she said she doesn’t know, but she was panic since our baby’s left hand cannot be moved. I held on to my baby girl and tried to calm her down. But in the way she’s crying, I know that she was hurt, and then I also began to panic. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My wife immediately suggested that we should call ambulance to go to hospital, but I still half-wake-up and I said why don’t we just go to the Health Center near our house, without noticing that it was Sunday and still 7.00am. I urged my wife to call a taxi, and 5 minutes later it came. We rushed to the taxi, without ever changing our sleeping wear. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While in the taxi, we still don’t really sure where hospital to go, is it Royal Women Hospital or Royal Children Hospital, so then my wife rang one of our neighbour to asked about it. My neighbour said that we should go to emergency room at Royal Children Hospital. Emergency room? Oh my god, is that serious?, but we were a little bit relax to hear that it is a normal procedure here to go to emergency room for every case of sudden health problem. We are lucky that we are living near the hospital (and also malls), so it only took about 10 minutes to get there. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After entered the emergency room, we were directed to Reception Desk. Thanks god it was not a long queue that we have to be in, so we only need to wait for one patient to be served. I found that the officer in duty is not a doctor but a nurse. “What happen?” I’ll try to explain to the nurse but my wife did better. “Did she fall down?” NO! We’re yelling. “Ok let me see her hand”. Then she replied, "Ok, I know what happen, you don’t need to see the doctor”. After that she pulled my baby’s hand down and twisted it up ward and suddenly our baby can move her hand again. She explained that “What happened is that your baby had ‘pulled elbow’. It is normally happened to children older than your baby, so you have to be careful next time, because once it happened, it more likely would happened again. But nothing is serious” she explained very briefly yet complete. My wife then asked her how if it happens again, can we do the same thing that she has done (it looks really simple). “No, you cannot try this at home (it sounds like after TV show isn’t it), if this is happened to your daughter, come here and see us”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh My God, we are suddenly relieved that our baby is OK. She started to smile to us again as nothing happened. The nursed asked for me to wait for a while to make sure that our baby is back to normal. After waiting for 15 minutes, she came by and said that we can go home. We only need to go back if our baby is unhappy or continue to cry. Oh what a wonderful Sunday morning. When we reached our home, our baby was fall a sleep , and then I have two important lessons this morning, which is “Don’t be panic and don’t sleep too late”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6595900577889843060?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6595900577889843060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6595900577889843060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/pulled-elbow.html' title='Pulled Elbow'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-717022751777783121</id><published>2007-08-19T23:18:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.788+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Haruskah ASI?</title><content type='html'>Haruskah ASI?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASI adalah yang terbaik, semua setuju akan hal itu. ASI memiliki kandungan makanan yang ideal untuk bayi dan sangat bagus untuk kekebalan tubuh si kecil. Tetapi apakah ibu yang tidak bisa memberi ASI harus merasa tertekan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Sunday Age tanggal 20 Agustus 2007 membuat ulasan yang menarik tentang suka duka ibu yang memberikan susu botol kepada bayi di Australia yang berjudul “A different formula for success: special report the bottle-feeding debate”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan pentingnya ASI di Australia sangatlah tinggi, karena kampanye yang gencar oleh Asosiasi ASI Australia (Australian Breastfeeding Association – www.breastfeeding.asn.au). Dokter dan bidan juga menyerukan hal yang sama, berlandaskan hasil-hasil riset dan inisiatif WHO untuk menciptakan perawatan kesehatan (healthcare) bayi yang memposisikan susu ibu sebagai hal yang utama. Oleh karenya banyak bidan maupun dokter yang bersemangat menyarankan penggunaan ASI kepada ibu-ibu yang sedang hamil maupun menyusui. Hal ini menimbulkan ekses negatif kepada para ibu yang kebetulan produksi ASI nya sedikit atau bayinya mengalami alergi ASI, yang biasanya merasa tertekan, mempunyai perasaan gagal atau kejam sebagai ibu karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk bayi. Perasaan-perasaan negatif para ibu, menurut psikolog Sarah Godfrey, bisa merusak ikatan batin antara ibu dan anak. Oleh karenanya Sarah Godfrey menambahkan bahwa perdebatan antara penggunaan susu botol dan ASI sangatlah merugikan, karena selama bayi sehat dan diberi makan dengan baik, maka ibunya pun akan bahagia, dan bayipun akan bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para dokter dan bidan kebanyakan mempunyai pandangan tunggal (single minded) untuk penggunaan ASI, dan mengesampingkan kebutuhan ibu-ibu tertentu untuk penggunaan susu botol. Akibatnya informasi tentang penggunaan susu botol yang baik sangatlah sedikit. Hal ini mendorong beberapa ibu yang concern dengan masalah ini untuk membuat sebuah website tentang penggunaan susu botol www.bottlefed.com.au. Website tersebut sangatlah berguna bagi Ibu Staggard-Trewern yang tidak bisa memberi ASI kepada bayinya karena ASI nya terkontaminasi obat yang rutin dia harus minum. Walaupun tidak punya pilihan lain selain menggunakan susu formula, namun ibu Staggard-Trewern masih punya banyak keraguan dan pertanyaan tentang penggunaan susu formula. Hal itulah yang membuat adanya situs diatas menjadi penting.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*dipersembahkan buat teman-temanku yang habis melahirkan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-717022751777783121?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/717022751777783121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/717022751777783121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/haruskah-asi.html' title='Haruskah ASI?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7717573597498174646</id><published>2007-08-17T14:17:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.789+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Dirgahayu RI ke 62: Catatan Bangsa Kuli</title><content type='html'>&lt;em&gt;Catatan dibawah ini adalah catatan seorang kuli yang cinta akan bangsanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seperti Usman bin Affan ketika pertama kali sampai ke Madinah, pertanyaan pertama yang kutanyakan sesampai di negeri benua ini adalah "dimanakah letak pasar terbesar?", tetapi tidak sama dengan Usman yang kemudian berdagang, saya memutuskan untuk melanjutkan profesi lama saya di negeri asal sebagai seorang kuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama mencoba mencari peruntungan, tiba saatnya ulam pun tiba. Seorang kuli harus meninggalkan posnya, karena mendapatkan kesempatan nguli di tempat lain dengan hasil yang jauh lebih besar. Setelah training beberapa hari, dimulailah episode nguli 5 hari kerja yang sekarang jadi bagian tak terpisahkan dari perjuangan menimba ilmu di negeri kangguru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi kuli bukan barang baru bagiku. Saat masih di tanah air tercinta saya telah bergelut dengan profesi satu ini. Cuma saat itu saya diharuskan untuk memakai dasi, sehingga wajarlah kalau kemudian kita dipanggil "Kuli Berdasi". Mungkin anda akan bertanya setengah mencibir, "mosok ada kuli berdasi?". Mungkin perlu saya gambarkan apa saja yang saya kerjakan waktu itu, berangkat cukup pagi agar sampai di kantor tepat pukul 9.00. Setor muka sama bos, kemudian dikasih titah apa saja yang harus dikerjakan hari itu, yang kurang lebih, angkat-angkat berkas, fotokopi, dan kemudian memelototi Laptop sepanjang hari. Siang harinya bos akan telepon dan menanyakan apa saja yang sudah dapat diselesaikan, apabila sudah banyak yang diselesaikan bos akan menambah pekerjaan, tetapi apabila terlalu sedikit yang diselesaikan maka bos akan marah-marah. Sore hari, bos datang lagi. Apabila pekerjaan kita sudah selesai, kita akan ditambah lagi pekerjaan, kalau belum selesai kita akan dimarahi. Seseorang yang memakai kecepatan superman pun tidak akan mungkin menyelesaikan semua beban pekerjaan itu dalam sehari, sehingga tidak ada pilihan lain untuk lembur. Pukul 9.00 malam bos akan mengecek lagi apakah pekerjaan kita sudah selesai, apabila belum selesai kita tidak boleh mencatatkan jam lembur, karena kita dianggap tidak efektif. Kalau pekerjaan sudah selesai, dan bos lagi senang, kitapun boleh pulang. Begitu seterusnya, sampai saatnya kita terima gaji. Satu-satunya momen kita bahagia sebagai kuli adalah sehari waktu gajian, karena sehari kemudian uang yang kita dapatkan itu telah dikapling-kapling untuk cicilan inilah, bayar itulah, beli tetek bengek lah dan lain-lain,sehingga tengah bulan uang kita hanya cukup buat makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saya terlalu banyak bercerita tentang pengalaman lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya tidaklah terlalu mempermasalahkan kerja berat diatas,karena sebagai seorang yang lahir sebagai kuli, sudah kewajiban saya patuh dan taat pada bos, dan selalu bekerja keras, namun satu hal yang saya tidak suka dari bos saya, yaitu dia menganggap saya sebagai seorang kuli. Mungkin anda akan tertawa terbahak-bahak atas ketidaksukaan saya itu, tetapi anda patut tahu, sebagai seorang kuli kita juga perlu gengsi. Kita senang kalau dipuji-puji dan dianggap aset bagi perusahaan. Kita senang jika mereka memerintah kita dengan penuh penghargaan. Bahkan kitapun cukup senang dihibur dengan slogan-slogan perusahaan, seperti Put the People First atau People is our best asset, dll. Awalnya kita cukup terkesan ketika mereka melabelli kita sebagai management trainee, atau junior staff, tetapi cara mereka memandang, cara mereka memperlakukan kita, menguak semua kebohongan mereka semua, kalau mereka sebenarnya cuma menganggap kita sebagai kuli (walau-pun itu benar adanya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kawan saya satu persatu tidak tahan atas perlakuan itu dan memilih untuk berhenti. Tetapi mereka tidak berhenti sebagai kuli, mereka hanya berhenti dari majikan satu ke majikan lainnya saja. Ada juga beberapa yang benar-benar memutuskan berhenti jadi kuli, dan memilih menjadi majikan. Kita semua para kuli menjadi heboh atas kenekatan dan kekurangajaran mereka. Langkah-demi-langkah mereka selalu menjadi berita dan pantauan kami sehari-hari, waktu satu persatu dari mereka menemukan kesukaran atau kegagalan, beberapa kuli yang tersisa bilang " apa yang aku bilang, kita ini hanya perlu menjadi kuli yang baik, tidak usah mencoba menjadi sesuatu yang tidak kita bisa, serahkan saja semua pada majikan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu, sehingga sampai satu titik bagi saya untuk berhenti. Namun saya bukanlah seorang pemberani seperti orang-orang sebelum saya, yang memilih berpindah pada majikan yang lebih baik atau benar-benar berganti propfesi. Saya menunggu lama untuk ahli menjadi kuli, karena saya beranggapan dengan keahlian saya tersebut, saya gampang cari kerja lagi. Namun semuanya tidak semudah yang saya bayangkan, majikan saya adalah orang yang sangat berkuasa. Semua orang tahu keberadaannya, sehingga majikan-majikan lain tidaklah mau menerima saya, karena saya dicap sebagai seorang pembangkang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada majikan yang mau menerima saya di negeri saya tercinta, sehingga saya memutuskan untuk mencoba peruntungan merantau di negeri orang. Saya berpikir siapa tahu ada yang mau menerima saya sebagai kuli.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm susah juga membuat cerita, apalagi mencoba masuk menjadi seseorang yang lain. Kuliah Marketing beberapa saat lalu diisi dengann pemutaran film John Pilger tentang nasib buruh Nike di Indonesia. Sontak sekelas menjadi hening, dan kitapun sebagai orang Indonesia menjadi malu. Saya tidak tahu apakah film itu juga yang jadi pemicu Nike untuk memindahkan pabriknya dari Indonesia ke Vietnam, karena siapapun yang melihat film itu pasti akan merasa jijik memakai sepatu Nike. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini seperti biasa aku pergi ke pasar, dan temanku menyalami aku dan mengucapkan selamat. Aku tentu terkejut, ada apa gerangan, ternyata hari ini adalah 17 Agustus - hari kemerdekaan kita. Bagaimana saya bisa lupa. Misalkan ibu pertiwi adalah ibu atau seorang pacar, maka dia pasti akan marah besar anaknya yang durhaka ini sampai tega melupakan hari yang paling berarti baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terlanjur ada janji untuk mengerjakan tugas Strategic Management, sehingga saya tidak bisa datang mengikuti upacara ke Konjen. Sewaktu sholat Jum'at tadi banyak yang bertanya kepada saya, mengapa saya tidak datang, apakah nasionalisme saya telah luntur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal jauh dari ibu pertiwi saya akui mengubah banyak hal. Saya menjadi miris, kenapa saya tidak tega meninggalkan kerja kelompok, untuk mengikuti upacara bendera. Sudah tahunan rasanya sejak upacara bendera terakhir saya waktu SMA. Mendengarkan lagu Indonesia Raya seiring bendera meninggi, mungkin bisa membuat saya sangat terharu (dan bahkan menangis). Begitu panjang perjalanan kita merdeka, tetapi begitu mudah dan konyolnya kita menyi-nyiakannya. Kita malah lebih senang menjual tanah, perusahaan, dan segala kekayaan kepada orang-orang asing itu.  Bung Karno mungkin akan menanggis melihat bangsa Indonesia saat ini, karena kita lebih senang menjadi kuli daripada majikan di negeri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya harus lebih larut dalam kehidupan seorang kuli atau kajian sejarah, untuk mencari secercah cara untuk membebaskan belenggu yang membelit bangsa Indonesia berabad-abad lamanya, sehingga suatu saat kita bisa jadi majikan di negeri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirgahay RI ke 62&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7717573597498174646?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7717573597498174646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7717573597498174646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/dirgahayu-ri-ke-62-catatan-bangsa-kuli.html' title='Dirgahayu RI ke 62: Catatan Bangsa Kuli'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2811161220560498295</id><published>2007-08-09T19:04:00.000+10:00</published><updated>2007-08-09T21:48:38.672+10:00</updated><title type='text'>Karena blog hanya untuk iseng</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menilai kualitas tulisan atau pemikiran seseorang dari blog-nya, bisa menyesatkan. Mengapa? Karena blog hanyalah untuk iseng bagi kebanyakan orang. Oleh karena itu perlu adanya para "Blogger Sejati" yang bisa memperbaiki keadaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya dunia per-bloggingan di Indonesia diwarnai dengan gairah dan hangatnya semangat kekeluargaan. Hal itu ditandai dengan banyak lahirnya klub-klub blogger semisal Blogbugs, Blogfam, Angkringan dll yang kemudian melahirkan gathering-gathering, milis-milis maupun forum-forum. Namun, sekarang ini suasananya sungguh lain, sepertinya para blogger (terutama blogger yang baru bermunculan)lebih mengutamakan mencari popularitas daripada mencari sebentuk keluarga virtual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan kita gerakan "Jangan Komen di Blog Seleb", dan Geger "NgaduTrafik" beberapa waktu lalu. Perseteruan tersebut sungguh memalukan dan tidak layak terjadi. Peristiwa tersebut men-degradasi komunitas blog yang seolah hanya komunitas para iseng yang sekedar berebut popularitas semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cara-cara untuk populer secara instant&lt;/span&gt;, mulai dari rajin komen ke blog-blog terkenal, rajin nge-link sampai ngutak utik kode html dllnya. Hal itu dimungkinkan karena pirangti pencarian Google mendasarkan pada berapa jumlah tautan sebuah blog, dan apabila sebuah blog di taut oleh blog yang lebih populer maka blog tersebut akan terdongkrak rangkignya. Seharusnya, seperti pendapat Budi Putra, kesuksesan blog harusnya bertumpu pada konten. Tetapi dalam konteks komunitas blogger yang diisi oleh orang beragam dan sayangnya kebanyakan iseng, maka postingan-postingan enteng dan gokil, seringkali justru yang paling banyak di komen. Blog-blog seleb kadang banyak di komen juga bukan karena komennya, tetapi lebih pada ajang 'cari muka' seperti menuliskan komen 'hore saya yang pertama' dll. Semua itu sepertinya dipicu oleh prinsipnya semakin terkenal sebuah blog, maka semakin sukses dia (syukur-syukur masuk 100 blog Indonesia versi Priyadi atau lainnya). Akibatny orang jadi malas posting, kalau postingannya menuai sedikit komen. Bagaimana kita bisa berharap adanya blogosphere yang bermutu dengan insentif semacam ini???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas-komunitas blogger yang dulunya sangat aktif dan garang menjual ide, sepertinya saat ini semakin surut saja. Secara pasti tidak diketahui apa penyebab hal itu. Ataukah mungkin komunitas blogger hanya 'tren sesaat'? Saat ini sepertinya hanya Blogfam yang masih eksis dengan kegiatan-kegiatannya yang segar dan forumnya yang selalu rame, komunitas lain seperti BlogBugs, ANgkringan dll, seperti mati segan hidup tak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita membaca fenomena tersebut, maka analisa 'pakar telematika' Roy Suryo, yang jadi musuh bebuyutan beberapa blogger senior, layak di pikirkan lagi, apakah benar blog nantinya hanya akan jadi trend sesaat, dan dipenuhi para katarsis saja?. Apakah nasib per-bloggingan di Indonesia, bakalan mirip dengan MLM, rame di awalnya kemudianan BOOOM. Tamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin diantara anda ada yang bilang, 'tetapi banyak juga khan blog yang sukses di Indonesia ?" Namun kalau kita cermati sungguh-sungguh, blog-blog yang dianggap sukses tersebut seperti punya &lt;a href="http://enda.goblogmedia.com"&gt;Enda&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://priyadi.net"&gt;Priyadi&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://blogombal.org"&gt;Paman Tyo&lt;/a&gt; dan blog seleb lainnya, dibelakangnya adalah orang-orang yang lama berkecimpung di media. Merekapun telah nge-blog dengan serius, salah satunya dengan membeli domain dan hosting. Kita mungkin perlu memberi catatan khusus pada &lt;a href="http://gbt.blogspot.com"&gt;GBT&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://afsyuhud.blogspot.com/"&gt;A Fatih Syuhud&lt;/a&gt; yang blognya sangat populer, tapi masih memakai blog gratisan. Orang-orang tersebut adalah orang-orang yang telah 'jadi' sebelum jadi blogger. Jadi dengan atau tanpa blogger mereka sebenarnya telah eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita berbicara tentang pengaruh blog kepada para penggunanya tentu kita tidak sedang berbicara individu per individu. Beberapa saat yang lalu banyak analisa yang mengatakan bahwa adanya blog akan mengancam media-media konvensional. Saya sepakat akan hal itu tetapi dalam konteks Amerika Serikat. Untuk konteks Indonesia, menurtu saya masih terlalu jauh. Alasannya pertama, kita masih kesulitan menemukan konten yang bermutu, tapat waktu dan konsisten dalam sebuah blog (baca: dalam sebuah blog). Kedua, professional atau corporate blogger di Indonesia masihlah jarang (tanpa lupa menyebut Budi Putra). Bandingkan dengan Amerika Serikat dengan www.huffingtonpost.com, boing-boing.com, slashdot.com dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau ada pertanyaan apakah dengan adanya BLogger.com, Wordpress.com, Blogdrive.com bisa menyemai kemampuan menulis di Indonesia. Jawaban saya singkat dan tegas. Tidak. Selama driver atau pemicu utama di kancah per-blogingan di Indonesia adalah banyaknya komen, banyaknya tautan yang berujung pada tingginya rangking entah di Technorati atau di Google, maka blog hanya akan jadi tren sesaat. Karena untuk jadi penulis yang handal kita perlu salah satu, idealis yang kuat atau insentif material (baca honorarium atau singkatnya uang). Apabila aktifitas blogging tidak bisa mendukung dua hal tersebut, maka lupakan saja blogger. Saya perlu memberi catatan khusus blog para peneliti CSIS, yang mengusung aliran pemikiran tertentu dan mematikan atau meminimalisir fungsi komen, seperi blognya AP atau PVJ, sebagai beberapa contoh blog yang bisa bertahan dan diperlukan oleh komunitas blogger di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya sarankan kalau anda benar-benar mau jadi penulis, atau belajar jadi penulis, jangan memulainya dengan membuat blog gratisan. Kalaupun anda buat blog gratisan jangan mendasarkan hal itu untuk sekedar cari popularitas. Jangan komen ke blog lain, karena anda berharap dia akan membuat kunjungan balik. Jangan membuat tautan blog lain, dan kemudian anda marah karena mereka tidak mentaut anda balik. Mengapa? Karena hal itu hanya akan merusak gaya tulis dan idealisme anda sendiri, karena anda memulai menulis dengan alasan yang salah dan kemudian anda hanya akan dipaksa untuk memuaskan selera orang lain, agar mereka rela berkunjung atau komen ke blog anda.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat cerita si Paijo di kampung yang mau buka warung dawet dikampung dulu. Pagi-pagi sebelum buka warung, Paijo pinjem meja di tetangga sebelah rumah, kemudian pinjem ember di tetangga lainnya, pinjem kursi, panci dlsb, sehingga yang terjadi si Paijo selalu telat membuka warung tiap paginya, selalu kerepotan karena direcoki tetangganya, dan akhirnya lebih banyak memikirkan apa yang dipikirkan tetangganya daripada apa yang penting bagi bisnisnya. Begitulah dengan blog, awalnya kita buat blog di blogger, terus pasang fasilitas komen di Haloscan, pinjem site counter di sitemap, pinjem fasilitas shoutbox di shoutmix dll (kecuali anda nge-blog via wordpress). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Boleh khan sesekali membuat oto-kritik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2811161220560498295?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2811161220560498295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2811161220560498295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/karena-blog-hanya-untuk-iseng.html' title='Karena blog hanya untuk iseng'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2095035167336535915</id><published>2007-08-02T21:04:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.789+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Happy besdey Mommy!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RrG9PM9xfSI/AAAAAAAAAIM/070h-U74cj0/s1600-h/Image035.jpg"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RrG9PM9xfSI/AAAAAAAAAIM/070h-U74cj0/s400/Image035.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5094060722408750370" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When the sun shines, we'll shine together&lt;br /&gt;Told you I'll be here forever&lt;br /&gt;Said I'll always be a friend&lt;br /&gt;Took an oath I'ma stick it out till the end&lt;br /&gt;Now that it's raining more than ever&lt;br /&gt;Know that we'll still have each other&lt;br /&gt;You can stand under my umbrella&lt;br /&gt;You can stand under my umbrella&lt;br /&gt;(Ella ella eh eh eh)*&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eh eh bukan ELLA lah yaw, apalagi Rihanna. Itu sepatunya Nyak-Babenya Marsya. Met ultah Mommy. Moga tambah sabar dan disayang Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudy+Marsya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Lyric taken from Umbrella by Rihanna&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2095035167336535915?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2095035167336535915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2095035167336535915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/happy-besdey-my-love.html' title='Happy besdey Mommy!'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RrG9PM9xfSI/AAAAAAAAAIM/070h-U74cj0/s72-c/Image035.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4236867771762689248</id><published>2007-08-01T23:06:00.000+10:00</published><updated>2007-08-02T00:56:32.339+10:00</updated><title type='text'>Cara berkenalan untuk pebisnis</title><content type='html'>Apabila anda seorang pebisnis dan anda berada dalam sebuah konferensi atau pertemuan besar, apa yang akan ada lakukan agar anda berhasil menggalang relasi sebanyak mungkin dan membuat anda dikenal dan juga dikenang?. Kalau anda berkesempatan menjadi pembicara mungkin hal tersebut bisa anda lakukan dengan lebih mudah, namun kalau anda berada di situ sebagai peserta biasa maka anda perlu memutar otak agar anda dapat membuat perkenalan yang mengesankan, sehingga syukur-syukur anda akan diingat. Relasi dalam bisnis seperti kita tahu bersama adalah modal sosial yang sangat penting. Oleh karenanya tema ini akan saya jadikan tema tulisan kali ini, dan seperti biasa tulisan ini akan lebih enak dibaca waktu santai, sambil mendengarkan musik dan menyeruput secangkir kopi. Selamat menikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, Jono (bukan nama sebenarnya), memperoleh kesempatan langka mengikuti konferensi bisnis di Bali, mewakili pengusaha kecil dari Bantul. Jono disana akan bertemu Direktur-direktur perusahaan besar di Indonesia dan juga calon-calon investor dari Eropa dan Amerika Serikat. Jono senang bukan kepalang. Jauh hari sebelum acara itu, Jono sibuk keluar masuk pasar mencari sepatu kulit, celana panjang, dasi dan kain untuk sepasang jas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jono tidak punya sanak saudara di Bali, maka satu-satunya tempat untuk menginap adala h hotel. Jono ingin hotel yang murah dan dekat dengan Kuta Bali. Salah satu teman Jono yang biasa pulang balik Jogja Bali, menyarankan Jono untuk menginap di salah satu hotel di &lt;a href="http://www.google.com.au/search?q=poppies+lane&amp;btnG=Search&amp;hl=en&amp;safe=off"&gt;Poppies Lane&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, Jono telah berada di lokasi konferensi yang bertempat di salah satu hotel elit di Nusa Dua. Penjagaan sangat ketat karena acara akan dibuka oleh Bapak Wakil Presiden. Jono segera duduk di belakang dan tak lama kemudian ada seorang bule yang minta ijin untuk duduk di sebelah Jono. Jono tidak bisa tidak kecuali mengijinkan bule tersebut untuk duduk disebelahnya. Tak lama kemudian ada seorang executive muda yang duduk di sebelah kanan Jono tanpa menyapa apalagi minta ijin. Eksekutif muda itu tampak perlente dan terpelajar, tidak lama setelah dia duduk eksekutif muda tersebut langsung basa basi sama si bule, tanpa mengindahkan Jono sedikit pun. Jono merasa terjepit. Jono kemudian mengeluarkan HP buluknya, dan kemudian mengirim SMS ke Mr. Personality. Bunyi SMS tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas XXXX, saya lagi konferensi ni. Banyak bule dan esmud. ada tips buat perkenalan dan membuka pembicaraan tidak ya?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencermati ilustrasi diatas, apa yang perlu dilakukan Jono? Apa saja yang perlu dipersiapkan, agar kita tidak mati kutu seperti Jono? Apa hal-hal yang perlu kita perhatikan, agar kesempatan langka bertemu banyak calon customer tidak lewat begitu saja?. Tips-tips dibawah ini diberikan oleh Mr. Personality dan mungkin berguna bagi anda para pebisnis atau calon pebisnis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Kenali medan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum datang ke sebuah acara, penting bagi kita untuk dapat gambaran umum dan kalau perlu gambaran detil tentang acara tersebut. Mendapatkan gambaran acara akan membantu kita untuk mendapatkan bayangan siapa saja yang akan datang dalam acara tersebut, apa latar belakang mereka, dan selanjutnya dapat mengira-ira apa bahan obrolan yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Tentukan target&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita menghadapi kerumunan yang mayoritas belum kita kenal, ada baiknya kita mengincar target-target yang akan kita ajak berkenalan. Ingat waktu anda terbatas, jadi lebih baik mengenal sedikit orang namun ada kelanjutan, daripada mengenal banyak orang tetapi kurang ada prospeknya. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita tahu  dari sebegitu banyak orang yang akan kita temui dalam acara tersebut, berprospek atau tidak? Jawabannya kembali pada langkah pertama, kenali medan. Kalau anda merasa cukup  PD, mungkin ada bisa mencoba berkenalan pada para pembicara, atau tamu undangan dalam acara tersebut. Tentu anda harus mempersiapkan langkah jitu untuk membuka pembicaraan bukan? Nah itu bisa bisa kita temukan di langkah ketiga dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Perkenalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Halo nama saya Jono, saya dari bantul, pekerjaan saya bla bla". Anda bisa bayangkan berapa banyak orang yang mengucapkan perkenalan standar ala jaman Belanda dalam pertemuan itu. Kunci untuk dikenal adalah buat impresi yang berbeda! Anda bisa menggunakan beberapa tips dibawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkenalkan nama saya Jono Suharjono pak, bapak bisa memanggil saya Jono, saya tinggal dari Bantul pak, supaya bapak tidak lupa, bapak bisa panggil saya Jono dari Bantul"&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Orang kebanyakan tidak mengingat nama orang waktu pertama kali kenalan. Karena beberapa orang saat perkenalan pertama cenderung melihat wajah. Itulah mengapa kita sering lebih ingat wajah daripada nama. Untuk mengatasi hal ini, kita bisa mensiasati dengan menyebutkan nama kita tiga kali, seperti contoh diatas.&lt;/span&gt; Cara lain untuk menyebut nama kita tiga kali adalah seperti dibawah ini. Tetapi untuk contoh berikut lebih untuk perkenalan non formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perkenalkan pak saya Jono. J-O-N-O. Jono"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain, adalah dengan memberikan pujian terlebih dahulu seperti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Presentasi bapak tadi sangat bagus, terutama pada bagian ....., saya jadi termotivasi. Tetapi pak, bukankah..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian orang yang akan kita ajak kenalan akan menjawab, dan menjelaskan panjang lebar. Diakhir jawaban dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" O ya pak, nama saya Jono, saya jauh-jauh dari Bantul hanya pingin dengar presentasi Bapak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita perlu memberikan pujian terlebih dahulu. Karena waktu dipuji orang biasanya mendengarkan (entah dia perlihatkan atau tidak), kemudian waktu kita bertanya, otak dia kemudian bekerja, selanjutnya, kita baru berkenalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, otak manusia itu terbatas kapasitasnya, dia tidak bisa mengingat nama sekaligus mengingat wajah dalam sekali waktu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain yang lebih elegan adalah dengan memberi jeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Tegak. Ayunkan tangan dengan santai. Bersalaman selama 5. Detik. Tersenyum. Kemudian baru perkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu masih banyak cara berkenalan yang lain. Ada yang bisa menambahi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Membuka Pembicaraan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang cenderung berkumpul atau mengidentifiksikan dirinya dengan orang yang mempunyai paling banyak kesamaan dengan dirinya. Jadi waktu membuka pembicaraan mulailah dengan menjajagi apa kesamaan kita dengan orang tersebut. Hal yang paling umum yang jadi bahan pembicaraan adalah olahraga, musik, makanan, tempat favorit dan hobi lainnya. Tema-tema tersebut adalah tema ringan yang tidak pernah ada habisnya untuk dibicarakan. Ketika anda menemukan kesamaan yang sama, terus gali dan kembangkan pembicaraan ke arah situ. Semakin anda menemukan banyak kesamaan, anda berdua akan semakin menemukan kebersamaan dan kedekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Tinggalkan kesan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Langkah ke 5 adalah langkah terpenting. Langkah 2-4 bisa disebut langkah pembuka, atau orang dengan sinis menyebutnya sebagai basa basi. Namun di langkah ke 5 inilah langkah terpenting untuk bisnis anda. Yaitu meninggalkan kesan, agar di suatu saat nanti anda bisa menghubungi mereka, atau dihubungi terkait dengan urusan bisnis. Salah satu cara terbaik untuk meninggalkan kesan, adalah tunjukkan kalau anda mempunyai kelas. Seperti memberikan pendapat kritis tentang apa yang telah diutarakan oleh lawan bicara, sehingga tercipta sebuah diskusi yang hangat. Atau anda menawarkan sebuah bentuk kerja sama, misal, "Pak saat ini saya sedang mengembangkan a, b, c, d. Nantinya saya akan melakukan e, f, g, h. Oleh karenanya saat ini saya butuh, i,j,k. Bapak ada kontak atau info tidak ya terkait hal itu". Orang biasanya senang dengan orang yang mau membuat inisiatif, dan tidak hannya menggantungkan bantuan dari orang lain. Oleh karenanya anda harus atur kalimat dan kata-kata agar jangan sampai inisiatif yang anda kemukakan adalah bentuk lain mencari sumbangan. Selanjutnya, apapun respon lawan bicara anda, segera lakukan langkah beritkut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Tingggalkan kartu nama&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Kartu nama bagi pebisnis, adalah seperti papan nama bagi toko di jalan raya. Begitu banyak orang yang anda temui dalam pertemuan tersebut, sehingga sangat susah mengingat nama dan pekerjaan mereka masing-masing, maka cara termudah dan paling efektif adalah bertukar kartu nama atau nomer HP. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisan diatas bisa membantu Jono bila diundang dalam pertemuan bisnis di waktu mendatang, dan menginspirasi Jono-Jono yang lain untuk berinisiatif dan berani membuka pembicaraan dengan orang lain. Karena siapa tahu orang yang akan anda kenal, adalah orang yang membawa banyak kebaikan bagi diri anda. Selamat mencoba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Tulisan ini dibuat karena sebuah temuan yang aneh. Blog ini muncul di halaman terdepan di Google untuk pencarian  &lt;a href="http://www.google.com.au/search?hl=en&amp;q=cara+berkenalan&amp;btnG=Google+Search&amp;meta="&gt;"cara berkenalan"&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4236867771762689248?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4236867771762689248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4236867771762689248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/cara-berkenalan-untuk-pebisnis.html' title='Cara berkenalan untuk pebisnis'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2644572052386848755</id><published>2007-08-01T12:01:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:39.242+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Being a Moslem in Australia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Is there any of you who never been treated badly or differently in Australia, just because you are a Moslem?” a speaker asked the audience to open a public lecture in Melbourne University. The audiences were all but silence. “Long times a go, our parents or our grand parents chose to migrate to Australia because Australia known as a multicultural and open nation. But, it is much different now. Post 9/11 everybody, especially media, always sees Islam as a threat. We heard, watched and read many reports in the media that our brother or sister Moslem treated badly. But look us now. Do we get weakened by the situation? No! In fact, now Islam is one of fastest growing religion in Australia, and even in the world. And the most interesting part is that the growing is not due to immigration, as a lot of people thought, but it is because conversion! Why people interested in Islam?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I heard the passage in public lectures which routinely held in Copland Theatre, Melbourne University by local Moslem Organization in Melbourne. I found it like an oasis in middle of the desert. When I firstly came to the lecture, I was staggering. There were too many people gathered in the 500-seated room, so some of them sat in the floor. What surprised me most is there were a lot of non-Moslem audiences in that event. Their appearance was obvious. They were usually Caucasian, with casual dress, sit at the back, do not wear hijab (veil) for ladies, clean-shaved for male, bring notes and sometimes bring some soft drinks in the room. Moreover, if you were a Moslem who lived long enough in the multicultural society, even you can differentiate a Moslem from the other simply by looking his/her face. The other things that surprised me was how simple the theme brought by the speaker. Usually, they talked about the principle of Islam, the Moslem's way of life in general, how to pray in Islam, how someone can be a Moslem, etc, etc. After the speaker delivered his speech, usually there is question and answer session, and don't get surprised if the questions asked are often a simple things that a Moslem obviously know, like, is it gay/lesbian allowed in Islam, do we have to pray 5 times a day all the time, is it abortion allowed, etc. The speaker will then answer the question briefly and eloquently. I think that's why many non-moslem (mostly scholar who wishes to study more on Islam) interested to join this event.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When I landed to this beautiful city a year ago, there were a lot of things come along in my head. It was my first experience to live outside of my country, and that country happened to be non-moslem country. Before I went here, many people told me about horror stories about racism against Moslem and the difficulties to find halal food and prayer room. However, two hours after I exited from the airport, all of the anxiety feeling was gone. We, the new student of Melbourne University, picked up by    a driver who were very kind and friendly. He told a lot about Melbourne and its people. We have a very good impression on him, and along the way to my friend's house, as my temporary accomodation, I saw many shop and cafe which serve halal food. I began a little bit relax and not too worry anymore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After I arrived in my friend's house, he told me many things about the Moslem's life here in down under. To my surprise, there were a lot of mosques around city and halal foods were very easy to get. After spending two days in my friend's house, my friend took me to the Islamic public lecture in Melbourne University. That was the first public lecture which I attended in Melbourne. In the next couple days, my friends took me to Indonesian moslem gathering, we called it "pengajian". There were a lot of Indonesian moslem students and families who gathered there. I was very pleased with everything at that stage, it seemed to me that living in a country with moslems as minority as not too bad. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, there were a lot of things done differently when you are a minority. Such as when we celebrated Idul Fitri, the biggest celebration in Moslem community, there was no carnival held in the night before. We also to be wise enough not deliver adzan (the calling for prayer) using the powerful sound system as we always did in moslem countries. Those were all a technical things, actually. We still can performed our ritual as free as in our country. Even sometimes we pray in the park, lobby, or any other open space, if we cannot find any prayer room available. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Back to the first paragraph in this posting. When the speaker asked everybody to raised their hand if we never had different treatment just because we are moslem, actually I wanted to raise my hand. I never had been treated badly or differently because of my religion here in Australia. However, I am fully aware that I might be a few person that lucky enough to have such privilege. Moslem in Australia had scrutinized now days. I recalled that Moslem community had been targeted to bad publication several times. I list down some of them below&lt;br /&gt;+ &lt;a href="http://www.theaustralian.news.com.au/story/0,20867,20646437-601,00.html"&gt;Moslem leader blames women on rape&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;+ &lt;a href="http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/asia-pacific/6918569.stm"&gt;If you are terrorist, you must be a moslem&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;To be continued&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2644572052386848755?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2644572052386848755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2644572052386848755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/08/being-moslem-in-australia.html' title='Being a Moslem in Australia'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7821205422995974548</id><published>2007-07-26T22:44:00.001+10:00</published><updated>2007-07-27T12:25:52.280+10:00</updated><title type='text'>Ausaid Club Committee - the Best Moment</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;A party at that cold winter night would be remembered as the best party we have ever had. We’ve never seen such people’s hypes and enthusiasms in any other parties that we held before. It was such a wonderful ending after long hours of discussion and hard work to prepare the party. However, sadly it marked the end of our duty. It was the end of such a happy committee and team work. But it was not the end of our friendship and network. &lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rqiaks9xfQI/AAAAAAAAAH8/mutdFTz_KzU/s1600-h/celebration.JPG"&gt;&lt;img style="right; margin:20 50px 10px 10;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rqiaks9xfQI/AAAAAAAAAH8/mutdFTz_KzU/s400/celebration.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091489334078569730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;It seems like yesterday when all of my friends pushed me to run as a vice president candidate in the AusAID Club election last year. It was a bold but silly move I reckon now, since I was only about two weeks arriving in Melbourne. Nobody knew me at that time, even for most of Indonesian students studying in Melbourne University. And then I had an important lesson from what I did. The committee gave me two minutes to introduce my self and told the crowd why I interested to become vice president of the Club, and guess what, with hundreds of people walked around and jumped around to each other, my voice was just like a whisper in the middle of jungle. We were not surprised, that I lost that election with a wider margin; despite the fact that Indonesian students comprised about 80% of the Club members.  I never regretted my decision to enter the election, because it become the beginning of one of the most rewarding experiences during my study in Melbourne University. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on the election rule, whoever lost in the election will be automatically become a committee member (non executive committee). I was very happy about that. However my happiness was not last longer. As soon as the party ended, and people made their way home in a hurry, there were pile of garbage and chaotic chairs everywhere which need to be tidy up. At that moment, I understand that behind the glaring party and the outstanding speeches, there were a lot of dirty jobs need to be done. I helped the current committee to tidy up the mess, but not till the end. I said good bye on my way out to some people who still finished up the things, and I walked out Asia Center building to catch the tram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was a sort of busy day, and I felt a little bit tired and overwhelming with the new role that I had. I didn’t know what my responsibility as a committee member is, but I was sure it will need a lot of hard work. And poor me, in the first day of becoming a committee member, I had a bad experience already. I remember that I sat in the middle row of the tram facing to the window. I heard some students from Indonesia chatted in the back row. After talked about many things, they ended up talk about the election that we had just did, and one of them commented on me (without they noticed that I sat only couple rows from them). They started to ask each other who am I, did anybody know me? All of them said nope. They admitted that all of them didn’t vote for me, because they did not know me, and because President’s position held by Indonesian. I tried to focus on other thing, but I was failed. Their voice was so clear in my ear, and it made me so uneasy. Finally, I arrived at my stop, and I stand up. As I stand up, they just realized that I was in there. On my way to the door, I still heard one of them whispered to the others “itu loh orangnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I understand there is a risk when you enter or hold position in public organization. What you might thing true and necessary, some other might think otherwise. I came to Melbourne with a lot of expectation. One of the aims of the scholarship that I and most of Indonesian Student in Melbourne University had is to become an agent of change. So I thought I will meet many people with a lot of idealistic of a better Indonesia. But I was wrong. At the beginning of my study at Melbourne, I feel lonely. I surprised that many of students were so pragmatic. Some of them more care to work than to study, and some others only want just to get pass or consider this scholarship as a ticket to have a free holiday to overseas. I was also dreaming about that, how to work and saving a lot of money as possible, or traveling to many beautiful places in Australia, but I always remember that I am here to study and to build capacity to make a change in Indonesia, at least in the place where I work. And I feel very thankful that I became one of AusAid Club committee member. Here I met with many talented, smart, organized and idealist people. They all had a high desire to serve and help others, which I think one of the most important characteristic as a leader. When we discussed something, I remember that we often caught in bitter debates or rough conversation, but we always ended up with smile and joy. The meetings were full of jokes and some notable conclusion. One of the debate that I considered as the most notable is when we discuss about should we amended our constitution to restrict an Undergraduate Student to become President in the future so the Club can meet one of condition to affiliate with UMPA (University of Melbourne Postgraduate Association). The possibility of any Undergraduate to nominate him/herself to become President of the Club is less than one percent, but in the end we agreed that in order to pursue a benefit, which in this case to affiliate with UMPA, we cannot sacrifice the interest of minority group, which in this case Undergraduate students who join our club. From that moment I understood and believed that the good organization or society is the organization or society which value and protect minority rights. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We started our activities one by one as we planned. All of the activities that we held had a great success. We had never seen such warm response and participation from member at the time before. After the event we always run evaluation sessions both from our self and also conducted a member’s survey and the result were in general very satisfying.  We should put the credit to our President who had laid a clear and solid framework for our team work. The plan outlined that each of committee members would be responsible for one project. We also involved non committee members to become project managers or volunteers, things that the Club didn’t do before. Beside the clear and well organized plan, a good team work was the other major reason why we were so successful. I remembered at the very first meeting that we had, we invited the former President of the Club to give an overview about what should be done. The former President was a very good leader with a lot of network and a good communication skill. He explained and outlined the major hurdles in the Club and how the best to overcome. We had a valuable insight from him. His suggestion to overcome the hurdles was simple, “everybody in the Club is equal”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The time flies so fast. Our plan, one by one, was done. In the first we had a winter trip to Mount Buller, and then we had Cultural Gathering and Farewell to the outgoing students. The other events that we held were BBQ for Welcoming Party, Summer Trip to Philip Island, and the last is Annual and General Meeting. There were a lot of hard works to prepare and organize those events. Normally we will have 200-500 participants per event. I didn’t involve much on those events. I usually involved in D-Day as field coordinator. But I always had routine task which is anything related with computers or IT. It was my job to maintain the Club’s mailing list and prepare the powerpoint for each event. However my big project was to build the Club website. We called the project as Spiderman Project because we have an ambitious mission to connect everybody in the Club through internet. We realized that the members had busy enough with assignments or study and the events that we had only happened in each two or three months. That is why we don’t know each other. I never had any experience to build a website. People chose me to do it just because at the first meeting I happened to bring my laptop, so they thought I am an IT guy. Luckily I have a best friend who very good at IT, and he was willing to help me. So, I finally made it, but two days before the hand over to the new committee the website was down because we forget to renew the domain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are many things that I cannot share in this writing. The things that are very personal that made us very close. This committee had become more than a club, it becomes a family. As we always said in every events, that the vision of our club is to become a home away from home. And it proved to be happened in the last Committee. Just two days after we handed over to the new committee, Lucia, the AusAid Liasion officer, stated in the email which sent to every one who received the AusAid scholarship that since the Club was established at 10 years ago, our committee is the most hardworking committee the Club ever had. In personal conversation with me, Lucia stated that our committee is the most outstanding committee she ever seen. However, the compliments are not the most important of all. I am lucky to be part of such outstanding committee. I learnt a lot from them, and we become closed friends ever since. I am wondering if at that night I was afraid to nominate my self just because I am afraid to loose, I will miss one of the best moment of my life. Thanks to all my friends and everyone who made the moment happen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. For the website that finally work properly again please visit &lt;a href="http://www.ausaidclub.org"&gt;www.ausaidclub.org&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ5s9xfLI/AAAAAAAAAHU/duJKcAsKLko/s1600-h/AUSAID+CLub+1.JPG"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ5s9xfLI/AAAAAAAAAHU/duJKcAsKLko/s400/AUSAID+CLub+1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091488595344194738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;The crowded people just before the party begin&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ589xfMI/AAAAAAAAAHc/cC9C2WYwGqs/s1600-h/Antri+Makanan.JPG"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ589xfMI/AAAAAAAAAHc/cC9C2WYwGqs/s400/Antri+Makanan.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091488599639162050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;A long queue and inpatient crowd to the dinner &lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ589xfNI/AAAAAAAAAHk/AFD1QjIRh6o/s1600-h/Duet.JPG"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ589xfNI/AAAAAAAAAHk/AFD1QjIRh6o/s400/Duet.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091488599639162066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;It takes two to duet. A couple from Vietnam sung some oldies&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ6M9xfOI/AAAAAAAAAHs/WG3Npi_5AQA/s1600-h/Maut.JPG"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ6M9xfOI/AAAAAAAAAHs/WG3Npi_5AQA/s400/Maut.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091488603934129378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;The night was getting hot&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ6M9xfPI/AAAAAAAAAH0/jtnQhdZ2TH8/s1600-h/Saman.JPG"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RqiZ6M9xfPI/AAAAAAAAAH0/jtnQhdZ2TH8/s400/Saman.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091488603934129394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;The outstanding performance of Indonesian Students who perform SAMAN Dance&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rqiaks9xfRI/AAAAAAAAAIE/7XSumzY0yy4/s1600-h/excom.JPG"&gt;&lt;img style="left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rqiaks9xfRI/AAAAAAAAAIE/7XSumzY0yy4/s400/excom.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5091489334078569746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Some of the ex-committee, the new committee, and liasion officers&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7821205422995974548?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7821205422995974548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7821205422995974548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/ausaid-club-committee-best-moment_26.html' title='Ausaid Club Committee - the Best Moment'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rqiaks9xfQI/AAAAAAAAAH8/mutdFTz_KzU/s72-c/celebration.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6371648396248101342</id><published>2007-07-21T17:24:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.789+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Mendung</title><content type='html'>&lt;TR&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RoS4CQMBvEI/AAAAAAAAAEw/B1Ya0bpTZps/s800-h/2007_0620marsya0004.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 12px 12px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RoS4CQMBvEI/AAAAAAAAAEw/B1Ya0bpTZps/s400/2007_0620marsya0004.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5081388628425423938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/TR&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu merasa tidak nyaman saat mendung. Bukan saja karena hari menjadi gerah, namun ada suasana batin yang tidak nyaman. Memandang mendung, seperti kita melihat batas antara terjadi atau tidak terjadinya sesuatu. Sebuah ketidakpastian. Mendung bisa berujung dengan hujan, atau tersapu angin sehingga menjadi hari yang cerah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pengalaman lucu sekaligus getir berhubungan dengan mendung. Ketika masih tinggal di Jogja dulu, saya ingat betul warga Jogja dibuat mencekam dengan adanya proyeksi bahwa Jogja akan terkena badai. Kemudian Sri Sultan berdasarkan wangsit yang beliau terima menginstruksikan warga Jogja untuk memasak sayur lodeh 5 macam. Serentak warga Jogja  ’sendiko dhawuh’ ramai-ramai melaksanakan perintah tersebut, sampai-sampai bahan membuat sayur lodeh menjadi mahal dan langka di pasar-pasar. Entah ada hubungannya atau tidak, setelah badai memang tidak muncul. Namun beberapa saat kemudian Jogja digoncang oleh gempa, dan setahun sesudahnya badai yang sebelumnya ”berhasil’ diredam dengan lodeh,pun mengoyak Jogja. Beberapa orang berkelakar, sang Penunggu marah karena cuma dikasih lodeh, padahal KFC dan McDonald sekarang bertebaran dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu ini Melbourne juga sedang dibalut mendung. Ada hal yang aneh ketika saya melihat mendung itu. Sepertinya mendung yang sama seperti yang saya lihat di Jogja. Seakan mendung itu mengikuti kemana saya pergi. Walaupun bentuknya beda, tetapi saya mempunyai suasana batin yang sama ketika melihatnya. Bayangan rasa cemas, tidak nyaman, ingin segera beranjak dan campur aduk perasaan tidak enak lainnya campur jadi satu. Kadang saya suka berpikir, Ayo lekas hujan! Ayo kita selesaikan urusan ini, apapun nanti hasilnya. Basah kuyup oleh hujan, gigil kedinginan, dan bahkan demam setelahnya, kadang terasa lebih ringan daripada perasaan tidak menentu di ambang ketidak pastian : Apakah hari akan hujan, atau mendung ini akan hilang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belajar dari pengalaman. Beberapa hari terakhir ini setiap saya keluar, saya sempatkan untuk membawa payung. Dan ketika saya lihat mendung menggelantung di atas sana, betapa bahagianya saya, karena ternyata di sana ada pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga suatu saat saya bisa menikmati mendung, seperti halnya saya menikmati pagi yang cerah setelah malam panjang, atau hujan yang deras ditengah kemarau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6371648396248101342?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6371648396248101342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6371648396248101342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/mendung.html' title='Mendung'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RoS4CQMBvEI/AAAAAAAAAEw/B1Ya0bpTZps/s72-c/2007_0620marsya0004.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1500740257669072205</id><published>2007-07-18T11:36:00.000+10:00</published><updated>2007-07-18T12:06:25.514+10:00</updated><title type='text'>Harun Yahya Menggebrak Dunia!</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.nytimes.com/2007/07/17/science/17book.html?em&amp;ex=1184817600&amp;en=8078aae8ea6ebc0c&amp;ei=5087%0A"&gt;New York Times 7/17 &lt;/a&gt;menurunkan laporan menarik tentang buku  baru yang menghebohkan dunia sains barat karya Harun Yahya yang berjudul "“Atlas of Creation”. Komentar dari New York Times adalah "Atlas of creation is probably the largest and most beautiful creationist challenge yet to Darwin’s theory". Disamping karena isi dan penampilannya, buku ini menjadi pembicaraan serius di kalangan sains Amerika Serikat, karena buku ini secara misterius dikirimkan ke berbagai ahli pendukung Darwinism di seluruh Universitas besar Amerika Serikat dalam jumlah besar. Perkiraan total dana yang dibutuhkan dalam kampanye buku ini, kemungkinan mendekatai angka jutaan dollar, seperti dilaporkan dalam artikel diatas "The production costs alone are astronomical. We are talking millions of dollars". Siapakah yang berada dibalik kampanye besar-besaran ini? Saat ini masih misterius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli pendukung Darwinism di Amerika Serikat rame-rame mengkritik buku ini, yang mereka bilang sampah dan hanyalah sebuah produk politik. Namun, buku ini telah berhasil menarik perhatian masyarakat luas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Amerika Serikat, hal serupa juga terjadi di Perancis awal tahun ini, namun kali ini bukan para ahli pendukung Darwinism yang mendapatkan kiriman buku, namun murid-murid sekolah dan museum-museum. Buku ini dianggap memberikan sumbangan berarti bagi langkanya literatur penentang Darwinism. Buku ini juga memberikan sinyal penting tentang penolakan kaum muslim terhadap Teori Darwin, yang selama ini bagi orang barat dianggap hanya ditentang oleh Kristen Fundamentalis. Penulis buku ini bernama asli Adnan Oktar kelahiran Turki tahun 1956, doktor lulusan John Hopkins Univeristy, salah satu universitas elit di Amerika Serikat. Adnan Oktar lebih dikenal publik dengan nama Harun Yahya. Bagi kalangan muslim di Indonesia, nama Harun Yahya sudah cukup dikenal, tetapi bagi kalangan barat, baru kali ini mungkin mereka menaruh perhatian terhadap pemikir muslim yang bercita-cita untuk memulai masa renaissance bagi kaum muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ringkasan buku Atlas of Creation &lt;a href="http://www.harunyahya.com/books/darwinism/atlas_creation/atlas_creation_02.php"&gt;bisa dilihat disini.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selainya bisa lihat di Webnya- &lt;a href="http://harunyahya.com/"&gt; website Harun Yahya&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1500740257669072205?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1500740257669072205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1500740257669072205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/harun-yahya-menggebrak-dunia.html' title='Harun Yahya Menggebrak Dunia!'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4118915013095785227</id><published>2007-07-16T21:04:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:56:12.754+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Just another stop</title><content type='html'>Dalam setiap jengkal episode hidup, akan selalu ada momen pertemuan dan momen perpisahan. Begitu juga yang kami rasakan dalam episode indah tinggal di kota Melbourne ini. Setiap semesternya, kita selalu bergembira kedatangan rekan-rekan baru dari Indonesia, namun disisi lain kita juga sedih karena teman-teman kita disini akan meninggalkan kita untuk kembali ke tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalau boleh jujur, semester kemarin sebenarnya yang terasa begitu berat dan sedih ditinggalkan oleh orang-orang yang begitu baik. Bukan karena orang-orang yang pergi semester ini kalah baik, namun ada penjelasan dibalik itu. Waktu semester kemarin kita baru senang-senangnya menikmati kota Melbourne, dan mulai akrab dengan beberapa teman. Saat kita mulai akrab dengan beberapa teman, dan sadar bahwa kita harus berpisah, sungguh terasa berat. Berbeda dengan berpisah dengan teman-teman yang akan pulang semester ini, karena 6 bulan mendatangpun kita akan menyusul mereka untuk kembali ke tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh diibaratkan, episode sejenak tinggal di Melbourne, adalah seperti mimpi dalam tidur siang. Semua begitu indah, teratur dan mudah, namun kita sadar bahwa ini hanya mimpi siang hari, tidak lama lagi kita akan kembali ke realita. Oleh karena itu tidak pada tempatnya kalau kita terlalu menikmati hidup di kota ini. Ini bukan negeri kita, dan tanah tumpah darah kita, yang perlu kita bangun dan jaga, ada di seberang benua ini. Kita patut terus sadar akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, tidak disangkal Melbourne telah memberikan banyak, apa yang sebelumnya hanya bisa diimpikan oleh seorang anak dari desa bernama Piyungan. Tata kotanya yang rapih, jalur transportasi yang bisa diakses dengan mudah, hawanya yang eksotis, serta keramah tamahan orang-orangnya, tentu akan membekas dalam dan sukar untuk dilupakan. Kadang terasa aneh juga, saat tiduran di flat dan bangun di pagi hari, serasa tempat ini adalah bagian dari kota asalku tercinta Jogjakarta. Mungkin karena saking merasa homie-nya dengan kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hidup itu seperti perjalanan antar kota naik bis. Kita berhenti sejenak di salah satu terminal, dengan hiruk pikuk dan keanekaragaman peristiwa, namun setelahnya kita beranjak untuk menuju terminal selanjutnya. Dan saya pun masih semangat untuk menuai hari esok, dan menuju terminal lain setelah ini, yang mungkin keadaannya tidak sebagus disini, namun saya yakin disana akan banyak hal yang bisa saya kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4118915013095785227?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4118915013095785227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4118915013095785227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/just-another-stop.html' title='Just another stop'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3342745228136760286</id><published>2007-07-11T21:09:00.000+10:00</published><updated>2007-07-13T14:46:34.830+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Melbourne di Kala Malam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpS7EAMBvTI/AAAAAAAAAGk/stWaNatodXE/s1600-h/BW3-edited.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpS7EAMBvTI/AAAAAAAAAGk/stWaNatodXE/s400/BW3-edited.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085895556652449074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3342745228136760286?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3342745228136760286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3342745228136760286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/melbourne-di-kala-malam_11.html' title='Melbourne di Kala Malam'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpS7EAMBvTI/AAAAAAAAAGk/stWaNatodXE/s72-c/BW3-edited.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8020584541274312524</id><published>2007-07-11T21:03:00.000+10:00</published><updated>2007-07-11T21:06:15.940+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Melbourne di Kala Malam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpS5fgMBvSI/AAAAAAAAAGc/sEYnyqjqQfM/s1600-h/City+of+Light.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpS5fgMBvSI/AAAAAAAAAGc/sEYnyqjqQfM/s400/City+of+Light.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085893830075596066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8020584541274312524?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8020584541274312524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8020584541274312524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/melbourne-di-kala-malam.html' title='Melbourne di Kala Malam'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpS5fgMBvSI/AAAAAAAAAGc/sEYnyqjqQfM/s72-c/City+of+Light.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3233480500102198007</id><published>2007-07-09T23:13:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:57:10.789+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>5000 kata perminggu, berani?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpJH9wMBvMI/AAAAAAAAAFw/EH8xoXuwQ5U/s1600-h/messsy+desk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:3 14px 14px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpJH9wMBvMI/AAAAAAAAAFw/EH8xoXuwQ5U/s400/messsy+desk.jpg" border="3" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085206055487651010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;Br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu saya menerima curhatan seorang teman yang binggung karena tidak punya target setelah lulus kuliah. Saya sendiri malah binggung karena saya tidak merasa binggung karena tidak memiliki target (kalau anda binggung membaca karena terlalu banyak kata binggung, mungkin anda tidak sendirian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut! Setelahnya saja jadi mikir, hidup nampaknya tidak asyik kalau kita tidak punya target. Memang bener kita jadi stres, terbebani, atau apalah gara-gara target tersebut. Tetapi paling tidak kita 'stres' pada arah yang tepat, dari pada stres karena tidak tau arah? Malah lebih susah bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok. Kemudian saya berpikir target jangka pendek apa yang perlu saya capai (karena target jangka panjang saya sudah berderet panjang kayak orang antri beras. Target itu tentu harus SMART dong, alis Simple, Measurable, Achievable, Realistic dan Timeline. Kalau anda kesusahan mengartikannya, ya cari kamus deh. Tetapi intinya target itu haruslah simple, terukur, bisa dicapai, realistis dan bisa dicapai dalam waktu dekat (whalah malah jadinya menterjemahkah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir punya pikir, ternyata susah juga nentuin target yang SMART, yang ada malah target yang muluk-muluk dan melanglang buana (kayak yang biasa diobralkan oleh politikus atau kandidat pemimpin kita tuh). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merenung dan mencari inspirasi didapatlah ide untuk membuat kerangka pikir demi mencapai target yang SMART tersebut. Target tersebut tentunya harus terkait pada hasil akhir dong, atau output apa yang ingin kita hasilkan. Apabila target tersebut dijangkarkan pada sesuatu yang tidak melekat pada hasil akhir, wah nantinya kita bisa kayak menempelkan tangga pada dinding yang salah. Sudah capek-capek berusaha mencapainya, tetapi kita tidak sampai pada titik yang diinginkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, apa hasil akhir yang ingin saya capai dalam waktu dekat, dalam sesuatu yang bisa diukur. Apa coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau bukan tulisan. Gampangnya, kalau petani keberhasilannya diukur dari berapa luas tanah yang bisa dia garap setiap harinya, atau nelayan diukur dari berapa kilo tangkapan ikan perhari, sebagai seorang pelajar yang berniat untuk menimba ilmu disini, ukuran yang layak harusnya adalah berapa banyak 'setoran kata' yang bisa kita himpun. Alias berapa banyak kata yang bisa kita tulis tiap harinya. Namun karena proses menulis membutuhkan perenungan, diskusi, konsultasi, mencari bahan, membuat struktur, menulis draft dan mengedit maka kalau jangka waktunya per hari kayaknya kurang pas deh. Mungkin lebih baik dikasih jangka waktu seminggu, biar semua atau beberapa proses tersebut telah terlampaui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok. Selesai masalah target yang bisa diukur yaitu tulisan atau jumlah kata, dan jangka waktunya, yaitu seminggu. Sekarang tinggal berapa besarnya. Berapa kata yang harusnya 'disetor' tiap minggu???? Ini pertanyaan yang sulit, namun tidak terlalu susah dibandingkan menentukan target dan jangka waktu diatas. Ok, berapa ya? Apa ukuran yang harus kita perhatikan, apakah kemampuan kita sekarang, ataukahan kemampuan kita seharusnya? Jadi bingung euy. Kalau binggung pilih tengah-tengah aja deh. Bagaimana kalau 5000 kata per - minggu?? Cukup lumayan menantang bukan?? Namun masih bisa dijangkau. Yup. Kayaknya pas tuh 5000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm. Sepertinya kurang detail kalau hanya menulis 5000 kata per minggu, maksudnya dalam bentuk apa? Apa kontrolnya? Bagaimana dengan kualitasnya? Wah kok jadi panjang ya. Ehmm. Mungkin untuk gampangnya, kita liat pengalaman yang sudah ada aja. Minggu ini aku nulis apa aja ya?? Nulis ini, itu....ehmm. Ok. Sip. Jadi 5000 kata per-minggu bisa didapat dari menulis postingan blog seperti ini kurang lebih 750 kata, dikali dua kali dalam seminggu jadi 1500 kata. Menulis draft artikel satu kali dalam seminggu 800 kata. Menulis draft modul 1200 kata per minggu. Ehmm sudah berapa ya 1500 ditambah 800 ditambah 1200 jadinya 3500, masih kurang 1500 lagi. Buat perencanaan 500 kata dan sisanya buat korespondensi email, friendster, buat lamaran kerja part time, buat tulisan iseng, dan nulis lain-lain, cukuplah. Sepertinya, bisa tercapai nih, dan realistis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat minggu depan. Konsistenkah?? Itu yang sulit bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Buat yang ingin nulis buku, link ini mungkin berguna "&lt;a href="http://oreilly.com/oreilly/author/index.html"&gt;So you want to write a book - huh!&lt;/a&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3233480500102198007?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3233480500102198007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3233480500102198007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/5000-kata-perminggu-berani.html' title='5000 kata perminggu, berani?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RpJH9wMBvMI/AAAAAAAAAFw/EH8xoXuwQ5U/s72-c/messsy+desk.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4852460563508181031</id><published>2007-07-05T13:09:00.001+10:00</published><updated>2007-09-21T16:56:12.754+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Don’t Dream Large = Jangan Kasih kita Harapan</title><content type='html'>People say be careful with telling your dream to the other. Especially, when you make it so convincingly that people might think that is a fact or a promised truth. Sometimes in hardship condition, we tend to entertain people by telling them many good things or hopes. However, by giving them hopes, yes it will relieve them for a moment, but as time goes, and you realize that you cannot make all dreams come true, it just defer the pain. Off course we need a leader who can bring us to a better place, however, but let’s not forget, it is more dangerous to defer people's pain or dissatisfaction than to deal with it. We should admit that we have a limitation to change something and adjust people expectation accordingly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A good leader is not the one who gives us hope, but the one who inspire us to have that hope or common objective. What is the difference? The first case puts the leader and follower at difference  level, and the second case makes the two at the same boat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I, myself, prefer a leader who has courage to tell me about an inconvenient truth than promise me many hope. The great work always starts with simple steps, namely convincing people to work together to achieve certain goals. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin yang baik, menurut saya haruslah seperti dokter yang handal. Pertama dia bisa mendiagnosa penyakit dan permasalahan yang ada, kemudian memberikan perawatan dan obat yang sesuai. Kesalahan dalam mendiagnosa apa yang dibutuhkan oleh rakyat atau anggota akan berakibat program-program yang ditawarkan nanti kurang direspons dengan baik. Sedangkan, perawatan yang tidak sesuai akan menyebabkan permasalahan bertambah parah, atau timbulnya masalah baru. Kita tidak mengobati flu dengan operasi bedah bukan? Baik diagnosa maupun perumusan langkah-langkah sebagai antisipasinya haruslah melibatkan semua &lt;span style="font-style:italic;"&gt;stakeholder&lt;/span&gt; yang ada, untuk itulah seorang pemimpin besar butuh hati seluas lapangan bola dan kemampuan berkomunikasi yang prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini untuk mengomentari Visi Universitas Melbourne yang baru DreamLarge yang melahirkan apa yang dinamakan Melbourne Model. Mengutip salah satu komen dari rekan saya, '..they don't care about us, they only care about reputation (in the cost of student need)...they don't do education, they just teach, and see what happened to us, we are nothing than a model....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4852460563508181031?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4852460563508181031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4852460563508181031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/dont-dream-large.html' title='Don’t Dream Large = Jangan Kasih kita Harapan'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1259564465164864746</id><published>2007-07-05T12:23:00.000+10:00</published><updated>2007-07-11T19:00:24.725+10:00</updated><title type='text'>When I'm feeling blue</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RoxXAQMBvKI/AAAAAAAAAFg/4CyaYDTzF-Q/s1600-h/2007_0705marsya0006.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RoxXAQMBvKI/AAAAAAAAAFg/4CyaYDTzF-Q/s400/2007_0705marsya0006.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5083533741251476642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;all I need is just take a look at you...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1259564465164864746?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1259564465164864746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1259564465164864746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/when-im-feeling-blue.html' title='When I&apos;m feeling blue'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RoxXAQMBvKI/AAAAAAAAAFg/4CyaYDTzF-Q/s72-c/2007_0705marsya0006.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6135613734197350351</id><published>2007-07-01T00:26:00.000+10:00</published><updated>2007-07-01T01:10:55.229+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Salah Peruntukan</title><content type='html'>Salah satu keistimewaan Melbourne dibanding kota-kota lain di Australia adalah adanya tram sebagai alat transportasi utama. Kita bisa menyusuri kota dengan nyaman dan mudah karena adanya tram. Walaupun kadang suka telat jadwal dan terjebak dalam kemacetan, namun tram tetap handal untuk mengantarkan kita sampai di tujuan. Salah satu keunikan tram adalah sistem pembayaran karcisnya, karena selain dibatasi zone kita dibatasi oleh waktu. Misalkan contohnya kita membeli tiket 2 hours Zone 1, maka kita berhak menggunakannya untuk naik tram, bis atau train dalam Zone 1 selama 2 jam. Keunikan yang lainnya adalah sistem pengawasannya. Kondektur tidak berada dalam setiap tram atau train, tetapi mereka melakukan pemeriksaan secara random, dan apabila kita tertangkap tidak membawa tiket yang seharusnya atau tidak mem-validasi karcis yang kita bawa, maka kita akan kena denda yang lumayan mahal, sekitar 200 dollar. Jadi apabila kita tidak membeli tiket tram senilai 2.5-3.0 dollar per jamnya, maka kita mempetaruhkan uang 200 dollar kalau kita tertangkap. Jadi apa hubungan tiket tram dengan judul diatas, "salah peruntukan"?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika saya dan istri saya naik tram sehabis pulang dari suatu acara. Pada waktu itu istri saya sedang hamil. Istri saya sesampainya di dalam tram celingukan ke kanan ke kiri. Kemudian saya tanya ada apa? Dia bilang sedang lihat-lihat apakah ada petugas tram, sehingga dia bisa mengirit untuk tidak mem-validasi karcis yang telah dia beli. Saya kemudian menasehatinya, "dik, kamu lagi mengandung, jangan ajari anak kita untuk berbuat tidak jujur". Nasehat itu seolah terucap saja. Sejak saat itu, baik saya dan istri saya selalu berusaha untuk memvalidasi karcis yang telah kita beli, walau itu tengah malam sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme pengawasan karcis tram diatas mengajarkan kita untuk berbuat jujur. Apakah ketika tengah malam, dan tanpa ada seorangpun yang mengawasi kita, kita akan berbuat jujur? Saya teringat cerita tentang seorang gembala yang diuji kejujurannya. Saat tidak ada seorangpun melihat dia, dia digoda untuk berbuat curang. Namun, kemudian dia sadar dan menjawab kepada sang penggoda tersebut,bahwa "Saya lebih takut kepada Allah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan yang sama sering menghantui saya akhir-akhir ini. Apakah saya telah berbuat jujur dan adil. Apakah saya telah menunaikan semua kewajiban dan menuntut hak saya dengan cara yang benar dan dalam kadar yang sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti teman-teman saya yang lain, saya begitu bersuka cita ketika menerima beasiswa yang mengantarkan saya sampai ke benua kangguru ini. Sesampainya disinipun saya sangat menikmati panorama dan kehidupan kota yang begitu hidup ini (the most livable city in the world, begitu iklannya). Kemudian saya larut dalam belajar, bekerja dan mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi yang ada disini. Namun, suatu ketika saya tercenung, ketika saya menyadari bahwa saya begitu asyik bekerja, dan lupa untuk mendulang prestasi. Walaupun pekerjaaan tersebut tidak sampai membuat saya tidak lulus dalam mata kuliah yang saya ambil, namun jauh di lubuk hati saya, saya tahu bahwa saya bisa belajar dan berkarya lebih banyak andai saja saya tidak bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya bertanya, untuk apakah saya disini &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;salah peruntukan&lt;/span&gt;? Apakah saya tidak memenuhi amanat apa yang terkandung dalam beasiswa yang saya peroleh?. Sewaktu mengisi proposal untuk keperluan aplikasi beasiswa, saya menuliskan sepulangnya nanti ke Indonesia saya akan berbuat A,B,C,D dst. Kemudian saya bertanya, sejauh mana persiapan yang telah saya lakukan untuk memenuhi janji saya tersebut. Terngiang di benak saya, ketika koorinator beasiwa menegaskan bahwa "all you must to do is to study, not to make money or babies" Kita tertawa saat itu ketika mendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat tulisan EMHA di kumpulan tulisannya Slilit Sang Kyai. Ditamsilkan, ada seorang kyai yang meninggal, dan kemudian menghantui murid-muridnya. Kyai itu tidak dapat masuk surga, karena sesaat sebelum meninggal dia mengambil sesuatu yang bukan haknya. Apakah itu? Sewaktu dia pulang dari memimpin kenduri, dia baru terasa ada slilit di giginya. Kemudian dia mengambil secuil kayu dari pagar tetangganya untuk mencungkil slilit tersebut. Namun sampai dia meninggal dia lupa untuk meminta ijin kepada si empunya tersebut. Dia telah mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat banyak perenungan dan juga diskusi dengan kawan-kawan dekat, akhirnya saya menemukan pencerahaan. Bagaimanapun Allah tidak akan membebani hambanya melebihi beban yang sanggup hambanya tersebut pikul. Hal tersebut menjadi motivasi, untuk melihat agenda-agenda yang ingin saya lakukan di Melbourne tetapi belum terlaksana. Saya tidak mau menyiakan sisa waktu saya di Melbourne yang tinggal sedikit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu dilema tersebut terlampaui, muncul dilema lain yang cukup mengganggu hari-hari saya terakhir ini. Awalnya sebenarnya masalahnya sepele. Masa bakti saya sebagai pengurus salah satu klub disini hampir habis, sesuai biasanya akan ada pemilihan ketua yang baru. Karena pada waktu itu kebanyakan teman-teman saya tidak tertarik, maka saya mencoba mencari-cari kandidat agar jangan sampai ada kekosongan kepemimpinan. Akhirnya saya menemukan orang yang bersedia dan saya memberikan komitment pribadi untuk membantunya. Hal ini menjadi masalah pelik, ketika klub tersebut kemudian memilih saya menjadi election committee atau KPU untuk pemilihan ketua tersebut. Ada dilema etis yang perlu dipecahkah disini, apakah saya akan tetap membantu teman saya sesuai komitmen pribadi saya tersebut, atau saya mengundurkan diri dari KPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah posisi saya sekarang salah peruntukan? Apakah saya melanggar wewenang dan kewajiban saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan termudah dan terbaik bagi saya untuk keluar dari kemelut tersebut adalah dengan mengundurkan diri dari KPU. Namun semua anggota komite dalam klub tersebut telah mempunyai tugas masing-masing, dan akan sangat tidak bertanggungjawab bagi saya dan mungkin akan mengacaukan proses pemilihan ketua yang baru, jika saya serta merta mengundurkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membatalkan komitment pribadi saya terhadap kandidat tersebut juga mungkin dilakukan, namun sangat tidak adil, karena sayalah yang mendorong dia untuk maju. Akan tetapi berdiam diri dan tetap dalam dua fungsi yang seharusnya tidak boleh dirangkap tersebut, juga sangat beresiko. Pihak lawan bisa saja menggunakan isu ini dan mempermasalahkan di masa depan jikalau mereka kalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat berdiskusi panjang dengan teman-teman dekat dan orang-orang yang selalu saya mintai nasehat selama ini, yaitu tak lain dan tak bukan adalah istri saya. Istri saya menasehati karena sudah terlanjur, dan tidak ada jalan untuk mundur, maka yang terpenting adalah saya jujur dan tidak menyalahgunakan wewenang. Saya tahu hal ini pun tidak akan menghilangkan resiko saya akan dituduh macam-macam setelah pemilihan ketua itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada hal yang selalu ingat ketika menghadapi dilema-dilema seperti ini, yaitu apa yang diucapkan oleh gembala diatas bahwa 'saya lebih takut kepada Allah". Dan cukuplah Allah bagiku. Semoga Allah memberikan kekuatan dan hidayahnya agar saya 'tidak salah peruntukan' dalam hidup ini. Semoga saya memenuhi hakikat dan kewajiban saya diciptakan sebagai manusia. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;p.s. saya persembahkan tulisan diatas buat Dhany. Semoga tidak bosan-bosan untuk memberikan masukan dan kritikan kepada saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6135613734197350351?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6135613734197350351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6135613734197350351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/07/salah-peruntukan.html' title='Salah Peruntukan'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8338982004787146716</id><published>2007-06-28T00:46:00.000+10:00</published><updated>2007-06-28T01:02:56.296+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melbourne'/><title type='text'>Demokrasi Mati di Indomelb</title><content type='html'>Indomelb adalah sebuah keluarga yang menaungi para cendik cendikia yang sedang belajar di Melbourne. Layaknya seperti Indonesia Kecil yang kita cita-citakan, seyogyanya keluarga tersebut berisi orang-orang yang telah dewasa dan mampu berpikir secara rasional. Namun apa lacur, mimpi indah bahwa tingginya level pendidikan akan berbanding lurus dengan tingkat pemahaman demokratisasi ternyata tidak terbukti di Indonesia kecil ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus dilarangnya para anggota milis Indomelb untuk posting dukung mendukung kandidat calon Presiden AUSAID Club, akan dilihat dan diingat sebagai perseden buruk bagi pendewasaan politik bagi para warga Indomelb. Langkah tersebut adalah pemunduran luar biasa, seolah mengembalikan kita pada nuansa Orde Baru, dimana atas nama kerukunan bersama, kebebasan berpendapat harus diredam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sangat ironis sebenarnya, karena mayoritas penduduk Indomelb adalah orang-orang yang mendapatkan beasiswa bergengsi dari AUSAID untuk studi S2 atau S3. Beasiswa tersebut diperuntukkan kepada orang-orang yang diharapkan sepulangnya nanti ke Indonesia, bisa menjadi agen perubahan. Namun sepertinya, kita tidak perlu menunggu lama, untuk mengetahui apakah tujuan dari beasiswa tersebut berhasil atau tidak. Ketika warga Indomelb hidup di Melbourne dengan budaya yang sangat terbuka dan tanpa tekanan apapun, banyak pihak yang masih takut untuk adanya perbedaan dan perubahan dengan alasan akan merusak tata kerukunan yang ada, maka bisa kita pertanyakan, ketika mereka pulang nanti, beranikah mereka menyuarakan perubahan di lingkungannya? atau tetap ikut arus dan cari aman saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah artinya kerukunan dan kedamaian kalau semuanya itu hanya semu. Apa hidup terkekang selama 32 tahun lamanya saat di jaman Orde Baru tidaklah cukup untuk kita jadikan pelajaran bersama? Berapa ribu lagi rakyat kita perlu menderita dan mati, hanya buat kita sadar bahwa kerukunan dan kedamaian yang dipaksakan adalah bagaikan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, ramah tamah, suka bertoleransi dll. Semua menjadi omong kosong, ketika beberapa tahun lalu, Indonesia dilanda berbargai kerusuhan antar etnis dan agama. Semuanya menjadi omong kosong, ketika wajah manis tersebut dicapai lewat pembantaian dan tindakan-tindakan yang tidak mengahargai HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja tidak ada krisis moneter 1997 apakah jutaan massa akan bergerak untuk menurunkan Soeharto? Apakah kita perlu mengulangi kesalahan yang sama, selama 32 tahun patuh hidup rukun dalam ketakutan dan menunggu datangnya krisis supaya kita bisa tergerak. Mengapa dari pengalaman tersebut tidak muncul sebuah kesadaran baru? Mengapa orang Indonesia tetapa saja menikmati hidup dikekang dan dibawah kendali orang lain? Jawabnya, menurut saya karena pikiran kita sampai saat ini masih terjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang saat ini berpendapat, hidup terjajah tidak apa asal sandang pangan terpenuhi, daripada hidup bebas dalam era reformasi namun harga-harga semua naik. Benar kata pengamat, rakyat sudah mulai bosan hidup bebas, rakyat sekarang merindukan sosok kuat seperti Soeharto yang akan menyelamatkan mereka dari krisis berkepanjangan, dan mereka pun rela dijajah sekali lagi. Karena itu pepatah bangsa Indonesia cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan menurut saya berkaca dari Indonesia Kecil Indomelb, adalah omong kosong belaka. Itu adalah pepatah yang ditulis di buku sejarah atau mitos agar bangsa Indonesia nampak besar saja. Kita patut akui bahwa sebenarnya kita kerdil, kita belum siap menjadi besar. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menerima perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekanku warga Indomelb. Kapan kita mau berubah kalau tidak sekarang! Saat kita hidup di negeri impian, tanpa harus susah-susah mencari uang untuk makan dan takut-takut dipecat karena berbeda pendapat. Mengapa kita tidak punya keberanian, sekali saja seumur hidup, untuk membebaskan diri dari belenggu dan ketakutan yang selama ada di pikiran kita sendiri. Mengapa kita tidak sekali lagi memproklamasikan kemerdekaan diri kita dari belenggu pikiran kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita belum cukup dewasa untuk menerima perbedaan?, Apakah kita memang harus selalu belajar untuk ikut saja apa kemauan orang banyak?. Apakah demi kerukunan memang kita layak untuk mematikan demokrasi? Kalau itu benar, saya menangis sekali lagi untuk Indomelb dan Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8338982004787146716?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8338982004787146716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8338982004787146716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/06/demokrasi-mati-di-indomelb.html' title='Demokrasi Mati di Indomelb'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2877659241066969594</id><published>2007-06-21T14:11:00.000+10:00</published><updated>2007-06-21T14:52:31.029+10:00</updated><title type='text'>The Groovy Kind of Daddy</title><content type='html'>This video is a debut of Rudyland as a scriptwriter and video clip director (;P). The video illustrates how a new daddy has to cope with his new role as a house husband while strugling to study in Melbourne University. He has to learn to cook and take care the baby all at once. But, in the end all the daddys want to say is ..when I'm feeling blue, all I have to do is just take a look at you...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A special attribute to my little gorgeous Marsya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/zUcVB12j8jA"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/zUcVB12j8jA" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2877659241066969594?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2877659241066969594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2877659241066969594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/06/groovy-kind-of-dady.html' title='The Groovy Kind of Daddy'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7919118018768592240</id><published>2007-06-21T12:47:00.000+10:00</published><updated>2007-06-21T14:47:23.265+10:00</updated><title type='text'>Marsya's Big Day Out</title><content type='html'>Setelah lama mlungker di rumah tiba saatnya Marsya jalan-jalan. Tapi..oo..dingin banget diluar.... jadi Marsya perlu pakai baju tiga lapis. Terus Marsya di gendong Bapak pakai Baby Bejo (Baby BJorn..maklum Marysa masih lidah Jawa). Setelahnya Marsya dikerukupin pake selimut. Anget deh. La la la la&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rnnn71BNVVI/AAAAAAAAAD4/GTJqk8fXz8s/s1600-h/2007_0620marsya0014.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rnnn71BNVVI/AAAAAAAAAD4/GTJqk8fXz8s/s400/2007_0620marsya0014.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078345069867390290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. Pertama kali Bapak mengajakku ke Border. Mungkin biar kalau gede nanti aku juga suka baca buku. Buku disini bagus-bagus, gambarnya lucu-lucu. Tetapi sementara ini aku baru bisa dengar Mommy cerita dongeng sebelum aku tidur. Oiii pingin cepat gedhe rasanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnokFBNVWI/AAAAAAAAAEA/7WYyjGeCQv8/s1600-h/2007_0620marsya0023.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnokFBNVWI/AAAAAAAAAEA/7WYyjGeCQv8/s400/2007_0620marsya0023.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078345761357124962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ke Border, Bapak ngajak mommy ke MYERS karena lagi ada diskon gedhe-gedhean. Pak aku juga dibeliiin..&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnsKlBNVXI/AAAAAAAAAEI/bqKgBc1WT18/s1600-h/2007_0620marsya0028.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnsKlBNVXI/AAAAAAAAAEI/bqKgBc1WT18/s400/2007_0620marsya0028.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078349721316971890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh kok malah Mommy yang borong-borong. Tuh liat sampai susah bawanya. Mommy ingat bapak cuma PNS lho...(Tenang Marsya, ini Mommy lagi mbeliin kado buat Tante-tantemu kok)&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnntGVBNVYI/AAAAAAAAAEQ/2Ebs2xwSP7o/s1600-h/2007_0620marsya0032.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;"src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnntGVBNVYI/AAAAAAAAAEQ/2Ebs2xwSP7o/s400/2007_0620marsya0032.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078350747814155650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Marsya lapar....Hi hi asyik, Bapak ngajak Marsya dan Mommy ke Pancake Parlour. Orang bilang jangan tinggalkan Melbourne sebelum coba pancake ini. EHmm lezat. Yummy-yummy...&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnntcFBNVZI/AAAAAAAAAEY/j06XMxlcakY/s1600-h/2007_0620marsya0035.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnntcFBNVZI/AAAAAAAAAEY/j06XMxlcakY/s400/2007_0620marsya0035.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078351121476310418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak makan Pancake, Ibu minum Coklat, Marsya minum cucu.....&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnuXVBNVaI/AAAAAAAAAEg/GPB_Cc-rbfg/s1600-h/2007_0620marsya0040.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnuXVBNVaI/AAAAAAAAAEg/GPB_Cc-rbfg/s400/2007_0620marsya0040.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078352139383559586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... ini lho Bapak sama Mommmy ku yang sayang banget sama aku...&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnuxVBNVbI/AAAAAAAAAEo/sDtP___K65E/s1600-h/2007_0620marsya0043.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RnnuxVBNVbI/AAAAAAAAAEo/sDtP___K65E/s400/2007_0620marsya0043.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078352586060158386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7919118018768592240?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7919118018768592240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7919118018768592240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/06/marsyas-big-day-out.html' title='Marsya&apos;s Big Day Out'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rnnn71BNVVI/AAAAAAAAAD4/GTJqk8fXz8s/s72-c/2007_0620marsya0014.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8259636091473373451</id><published>2007-06-21T00:45:00.001+10:00</published><updated>2007-06-21T02:14:17.511+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Kerja Keras (tidak sama dengan) Ngoyo</title><content type='html'>Sebagai orang Jawa yang dibesarkan di lingkungan Jawa, sejak kecil saya telah dicekoki berbagai mitos dan petuah yang setelah saya besar sering kali saya tidak temukan releveansinya. Salah satunya adalah "urip ki ojo ngoyo' atau "hidup itu jangan ngoyo'. Saya belum dapat menemukan padanan kata yang tepat untuk istilah 'ngoyo' baik dalam bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris, bisa jadi karena konsep yang tidak jelas ini hanya ada dalam masyarakat Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya 'ngoyo'? sejauh penangkapan saya, orang-orang suka menyebut 'ngoyo' untuk orang yang berusaha atau menginginkan sesuatu di luar batas kemampuannya.  Disinilah saya temukan ketidakjelasan itu, dimanakah kita tahu batas kita? Pengalaman hidup orang-orang yang saya kenal maupun kisah yang saya baca di buku-buku mengajarkan bahwa apa yang bisa dipelajari, diperbuat dan dihasilkan manusia itu tidak terbatas. Sebagai contohnya beberapa penemuan ilmu pengetahuan terbaru seperti nano teknologi, stem cell, clonning, dan kemajuan teknologi informasi. Semuanya nampak mustahil beberapa puluh tahun yang lalu, namun kini beberapa diantara teknologi canggih tersebut telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita. Atau kisah-kisah para pemimpin dunia yang dahulunya hanya seorang buruh bisa menjadi seorang presiden, atau orang yang disiksa, dipenjara selama 27 tahun kemudian juga bisa jadi presiden, atau kisah-kisah hebat lainnya. Untuk tahu bahwa kita 'ngoyo' atau 'tidak', satu-satunya cara adalah berusaha sekeras mungkin, dan setelah semua upaya dicoba, berkali-kali, dan kita tetap tidak mencapainya, mungkin 'layakla/fair enough' kalau kita disebut 'ngoyo'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit bercerita pengalaman pribadi, saat sekolah di SD dulu, ketika bergaul dengan teman-teman yang beberapa tahun diatas saya, mereka beberapa elalu bilang, 'ngapain belajar rajin-rajin, santai aja, rileks, ga usah serius-serius, nanti stres lho!' Saya biasanya menjawab, 'apa kalau main terus itu juga ga capek?. Mereka kemudian menimpali 'alah orang kayak kita-kita ini, paling kalau lulus mau jadi apa? orang yang belajar terus itu khan yang pinter-pinter aja", saya kemudian biasanya menjawab 'apa ga kebalik tuh, orang yang mau belajar rajin itu karena sadar dia ga pinter, klo orang sudah pinter ngapain sekolah? mending tidur aja dirumah". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya benar-benar menjadi minoritas di lingkungan sekitar. Teman-teman sebaya saya sangat heran, dan kemudian mencemooh, ketika kecuali malam minggu, saya tidak mau keluar rumah. "Rud, malam selasa ada pertemuan pemuda desa, datang ya'. "Waduh saya harus belajar", begitu jawabku biasanya. "Alah hidup itu mbok ya jangan  kaku-kaku, tidak belajar semalam emangnya kenapa?". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian-kejadian seperti itu berlanjut, hingga sampai titik saya dikucilkan dari pemuda desa, karena sewaktu persiapan UMPTN praktis selama setahun saya tidak ikut kegiatan pemuda sama sekali, entah itu dilaksanakan malam minggu atau malam lainnya. Teman dekatku waktu itu mencoba menanyakan bagaimana perasaanku atas peristiwa itu. Saya menjawab dengan singkat 'kalau saya tidak lolos UMPTN, apa mereka ikut bersedih?'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cap anti sosial, individu, tidak mau bergaul dan cap-cap buruk lainnya terus menancap, hingga saya tingkat dua kuliah. Setelah tingkat kedua kuliah, baru saya banyak keluar rumah. Saking seringnya,sampai-sampai dirumah cuma ibarat numpang makan dan tidur saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tiba saatnya merantau ke ibukota. Bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam (minimal). Untung tetangga, teman kanan kiri, dan 'komentator-komentator' itu tidak mengetahuinya, kalaupun mereka tahu paling-paling komentar mereka 'ngapain kerja susah-susah, toh ketika mati harta ga dibawa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Episode kerja 'mati-matian" itu telah berlalu, sekarang diganti dengan episode belajar di negeri kangguru. Tetapi mungkin sudah jadi kebiasaan, selalu saja saya ingin 'push-to-the-limit'. Seolah sebuah tantangan luar biasa untuk 'mendobrak' apa yang selama ini tidak bisa kita capai. Masih ingat benar, ketika dulu saya mau ke Singapura untuk liburan perusahaan, teman-teman bilang..'lho Rud, disana itu pakai bahasa Inggris lho..kalau kamu tersesat bagaimana (karena memang saya agak parah dalam orientasi arah)'. Bahasa Inggris adalah salah satu halangan terbesar saya waktu itu untuk menggapai cita-cita menimba ilmu di negeri luar. Saya masih ingat, hasil review Senior saya waktu kerja jadi buruh berdasi dulu, selalu saja..You need to improve your english. Bahkan sampai sekarang. Oleh karenanya ketika hasil IELTS saya melebihi batas yang ditentukan untuk diterima di jurusan saya sekarang, saya sendiri sampai kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat masa-masa saya di kampung dulu, ketika orang mentertawakan impian saya untuk bersekolah di Luar Negeri, orang akan mengira bahwa saya sekarang cukup percaya diri. Saya heran kenapa yang terjadi malah sebaliknya. Saya heran kenapa saya sekarang tidak se-semangat dulu lagi, untuk mendobrak batas-batas yang banyak orang tidak bisa tembus. Ketika banyak kandidat Phd disini berkeluhkesah tentang susahnya  tantangan yang mereka hadapi, saya jadi minder. Ketika banyak orang berkeluhkesah tentang susahnya menerbitkan tulisan di jurnal internasional, saya juga mengamininya. Ketika banyak orang yang menjadi pragmatis, sibuk berburu dollar, bingung mengisi liburan dengan jalan-jalan, saya juga larut kedalamnya. Mengapa setelah perjuangan  lama untuk bisa melakukan hal-hal yang orang pikir tidak bisa lakukan,sekarang saya malah suka berkutat pada area nyaman (comfort zone). Mengapa saya menjadi orang yang takut mempunyai mimpi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya sederhana. Karena sekarang saya mulai mendapatkan pengakuan. Setelah saya pikir dalam, ternyata orang-orang yang dahulu menghina, mencaci, mencemooh, dalam satu sisi mereka telah membantu saya untuk tetap kuat dan fokus dalam meraih cita-cita. Ketika orang-orang itu tidak ada, saya seolah menjadi limbung dan tidak terarah. Untuk itu saya berterimakasih kepada mereka (tanpa ada dendam).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat petuah sahabat saya dulu, "Ketika kamu mencapai puncak, yang ada adalah jalan menurun'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu ketika kemarin ada sms pendek "....bagaimana mas dengan amanah-amanah yang telah kita rintis selama ini..", bagaikan saya terkena petir di siang bolong. Sepertinya saya terlalu memanjakan diri dengan target-target pendek dan mudah dicapai. Kenapa tidak melakukan lagi seperti dulu, Rudy. Itulah gunanya mempunyai sahabat, yang tidak hanya sibut menghibur dan memberi pujian, tetapi sahabat yang bisa memberikan kritikan tajam ketika kita lemah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8259636091473373451?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8259636091473373451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8259636091473373451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/06/kerja-keras-tidak-sama-dengan-ngoyo_21.html' title='Kerja Keras (tidak sama dengan) Ngoyo'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7119349855833655522</id><published>2007-06-04T14:07:00.000+10:00</published><updated>2007-06-04T16:31:13.983+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Istriku</title><content type='html'>Secangkir Kopi, dan sepotong pagi&lt;br /&gt;satu hitam, satu putih&lt;br /&gt;tetapi saling melengkapi bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hari ini aku ke kebun,&lt;br /&gt;pastilah kan kubawakan kau bunga,&lt;br /&gt;tapi masih harus tertunda dinda,&lt;br /&gt;karena aku masih saja terseok di perpustakaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh karenanya kubawakan sepucuk puisi&lt;br /&gt;yang kupetik dari buku-buku berdebu&lt;br /&gt;sebagai oleh-oleh dariku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Winter night is long, they say falsely,&lt;br /&gt; When my love visits me&lt;br /&gt; Envious heaven stirs up the rooster&lt;br /&gt; And the loud rooster awakens my love, hastening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; The sudden gust last night&lt;br /&gt; Brought down the peach flowers&lt;br /&gt; and covered the courtyard&lt;br /&gt; Hold your broom, my lad!&lt;br /&gt; Though fallen, are they not still flowers?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Is love a dream, or is it love for it's not a dream?&lt;br /&gt; while the sweet in the bitter and the bitter in the sweet&lt;br /&gt; Few wake up to this, and I say love is a dream"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taken from an Ancient Korean Poetry called Sijo and translated by Don'o Kim, with title   Cylcle of Love. Used to be played with traditional musical instruments Taegum and Kyagum (flute and cello).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7119349855833655522?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7119349855833655522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7119349855833655522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/06/istriku.html' title='Istriku'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6238042112928813238</id><published>2007-05-30T22:13:00.000+10:00</published><updated>2007-05-30T22:35:12.196+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>(Karena) Semua Untuk Anak</title><content type='html'>(Karena) Semua untuk Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya bukan penggemar acara Empat Mata – Thukul, namun sekali dua saya juga menyempatkan melihatnya via – YouTube. Ada satu episode yang cukup membuat saya terharu yaitu ketika Mas Thukul mewancarai Tamara Blezynski mengenai apa arti anak bagi dirinya. Si Ratu sinetron ini kemudian menjawab bahwa anak adalah segala-galanya. Namun bukan bagian ini yang membuat saya terharu (sebagaian mungkin karena saya merasa jawaban itu dibuat-buat). Jawaban Mas Thukul-lah yang membuat saya terharu. Thukul mengatakan bahwa tidak apa-apa dirinya dicaci maki, kerja keras, dan jadi bahan tertawaan karena semua itu dilakukan demi anak. Tidak cukup sampai disini, Thukul juga menceritakan bagaimana besarnya pengorbanan yang dilakukan ibu untuk anaknya, mulai saat mengandung, melahirkan, terjaga setiap malam untuk menyusui dan mengganti popok anak, (setelah selesai ganti digangguin bapaknya), semua itu dilakukan dengan sukarela dan bahagia, karena semuanya demi anak. Kemudian Thukul terdiam dan matanya berkaca-kaca, dan menurut pengamatan saya hal itu tidaklah dia buat-buat (berbeda dengan pengakuan Tamara yang kelihatannya sangat ndakik-ndakik namun miskin pemaknaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak akan mengubah banyak hal, termasuk cara kita memandang dunia. Teman baik saya, Mr Gatoso tempo hari membuat tamsil, ketika seorang pembalap telah punya anak, dan dia tetap membalap dengan baik, maka dia adalah pembalap jagoan. Saya bukanlah pembalap, namun ketika ditempatkan dalam posisi tersebut, saya yakin saya tidak akan bisa membalap sekencang dahulu, karena ada yang saya perlu perhatikan lebih dari sebelumnya, yaitu bayi mungil yang baru saja melengkapi keluarga baru kami. Oleh karena itu untuk beberapa saat saya ‘undur diri’ dari dunia persilatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah, paragraf diatas bukanlah paragraf yang menyiratkan penyesalan, namun sebaliknya paragraf yang memuat banyak arti syukur. Setelah anak kita lahir, maka pikiran, tenaga dan ide kita tidak bisa lepas dari anak kita. Beberapa saat dahulu, saat masih bekerja sebagai kuli berdasi, teman-teman sekantor selalu menceritakan, bahwa betapun capeknya, namun saat sampai dirumah dan melihat anak kita tertidur, atau menyambut di depan rumah dengan memanggil ‘ayah, ayah’ rasa capek kita sedetik itupun sirna. Saya waktu itu mangut-mangut saja, dan berharap masa itu cepat terwujud. Dan saat ini, ketika hal itu benar-benar terwujud, saya benar-benar menikmati kenikmatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya menjadi bapak? Pertanyaan itu selalu terlontar dari teman-teman yang berkunjung menjenguk ke rumah sakit sesaat setelah Marsya lahir. Saya hanya tersenyum, dan tak bisa berkata lebih banya. Memang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Saya masih sering tersenyum-senyum sendiri saat mengendong Marsya, dan melihat wajah mungil itu, seperti miniatur saya. Hidungnya, matanya, alisnya, bentuk wajahnya, semua mirip Bapaknya. Bahkan cara tidurnya yang miring kekanan persis saya. Bintangnya juga Taurus mirip saya. Lucu rasanya, seperti memasuki lorong waktu dan melihat diri kita saat kita kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;„Aku masih tidak percaya, saat ini kamu telah menjadi Bapak“, salah seorang teman blogger berkata demikian, dan sejujurnya kadang saya juga merasa tidak percaya, benar-benar anugerah yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Marsya jugalah yang memacuku untuk belajar dan bekerja lebih keras. Namun karena ibunya Marsya masih repot, saat ini sepertinya lebih penting untuk mendampingi mereka dahulu sampai semuanya settle. Untungnya kami punya sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga yang luar biasa baik. Saat tidak punya mobil untuk ke rumah sakit, ada yang bersedia mengantarkan. Saat berada di rumah sakit dan tidak bisa memasak, ada yang rela mengantarkan makanan secara bergiliran. Terlebih dari itu, mereka selalu memberikan bimbingan moral, selama kami di rumah sakit, dan menunggu kelahiran, hal tersebut sangatlah berarti ketika tidak ada anggota keluarga di kota nan sepi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jalan panjang terbentang didepan. Menjadi bapak berarti siap memikul tanggung jawab yang besar. Mempunyai anak perempuan, seperti mempunyai permata, kita harus benar-benar hati-hati dalam menjaganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rl1u9e0zvbI/AAAAAAAAADw/U-sZHDe7-xg/s1600-h/2007_0516marsya0067.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rl1u9e0zvbI/AAAAAAAAADw/U-sZHDe7-xg/s400/2007_0516marsya0067.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5070330758014680498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6238042112928813238?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6238042112928813238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6238042112928813238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/05/karena-semua-untuk-anak.html' title='(Karena) Semua Untuk Anak'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rl1u9e0zvbI/AAAAAAAAADw/U-sZHDe7-xg/s72-c/2007_0516marsya0067.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3054814172309997230</id><published>2007-05-25T12:32:00.000+10:00</published><updated>2007-05-25T12:44:20.705+10:00</updated><title type='text'>Marsya dan pagi yang cerah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RlZL6e0zvaI/AAAAAAAAADo/d6Glfm1snM4/s1600-h/2007_0516marsya0052.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RlZL6e0zvaI/AAAAAAAAADo/d6Glfm1snM4/s400/2007_0516marsya0052.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068321898731126178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadirmu laksana matahari yang menyinari pagi,&lt;br /&gt;membawa kelembutan dan kehangatan di negeri yang sepi ini,&lt;br /&gt;tangismu di tengah malam,&lt;br /&gt;memecah kesunyian, dan mengajak kita untuk berdendang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apabila pagi kemarin terasa sepi,&lt;br /&gt;sekarang sungguh sangat berarti,&lt;br /&gt;hanya untuk menyaksikanmu tenggelam dalam mimpimu,&lt;br /&gt;bapak ibumu ini telah merasakan bahagia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidurlah yang lelap nak,&lt;br /&gt;tapi jangan lupa bangun dan mimik,&lt;br /&gt;cepat besar, dan jangan cengeng&lt;br /&gt;dalam menghadapi dunia yang semain keras ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bapak ibumu ini hanya bisa berdoa,&lt;br /&gt;dan membekalimu dengan sedikit ilmu,&lt;br /&gt;sehingga semoga kelak kamu besar nanti,&lt;br /&gt;bisa tumbuh baik dan bersih&lt;br /&gt;seperti bulan ramadhan&lt;br /&gt;saat kami tahu kau hadir di rahim ibumu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3054814172309997230?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3054814172309997230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3054814172309997230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/05/marsya-dan-pagi-yang-cerah.html' title='Marsya dan pagi yang cerah'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RlZL6e0zvaI/AAAAAAAAADo/d6Glfm1snM4/s72-c/2007_0516marsya0052.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5825751951579291445</id><published>2007-05-17T00:29:00.000+10:00</published><updated>2007-05-17T00:31:36.976+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Maafkan Aku Tidak (Sempat) Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepadamu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini adalah sekelumit cerita saya dan sahabat saya, yang kebetulan berulang tahun hampir bersamaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita hidup dalam dunia yang tidak verbal” Itu adalah kata-kata sahabatku di SMP, dalam menjelaskan kenapa masing-masing orang tua kita tidak mengucapkan, atau bahkan sekedar ingat ulang tahun kita. Ungkapan tersebtu bukan untuk ‚menghibur diri’ karena kita tidak merasa ada yang salah dengan orang tua kita lupa mengucapkan ulang tahun kepada kita. Berbeda dengan ‚orang-orang kota’ begitu kita menyebutnya dulu, yang begitu verbal dan tranparan dalam mengekspresikan perasaaannya, kami ‚orang-orang desa’ adalah orang yang dituntut untuk tahu diri dan menahan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan tempat saya dan sahabat saya tinggal membiasakan kita untuk tidak mengekspresikan perasaan kita kepada orang lain di muka umum, karena hal itu adalah ‚saru’ dan tidak patut. Saat itu tentu menjadi hal yang lucu, kalau orang kita di pagi hari mengatakan kepada kita „aku sayang kamu nak, dan aku bangga kepadamu“ tanpa adanya sebuah alasan yang maha penting. Kata-kata tersebut menurut orang desa seperti kami adalah kata-kata yang sakral, yang mungkin disimpan hanya untuk momen-momen penting saja. Rasa sayang orang tua pada anak, adalah hal yang pasti dan selalu ada, semua orang telah mengerti, oleh karenanya tidaklah perlu diungkapkan, mungkin seperti itulah pemikiran-pemikiran orang desa seperti kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya dan sahabat saya tinggal di lingkungan yang membenci orang-orang yang berkelakuan kebarat-baratan atau ke-Jakarta-jakartanan. Apakah patut bagi orang desa seperti kami, yang tinggal dibawah gunung tandus untuk menyebut orang tua kami „mama papa’? atau berdandan seperti bule kesasar? Atau berkata loe-loe, gue gue? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya saat itu, saya berpikiran bahwa merayakan ulang tahun adalah bukan budaya kami, sebagai orang desa. Merayakan ulang tahun hanyalah untuk orang-orang kota, untuk kaum berduit. Sedang bagi kami lebih penting apakah hari ini senin wage, atau selasa pon untuk tahu kapan pasar buka, daripada mengingat ulang tahun teman-teman dekat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya dan sahabat saya mengalami evolusi hidup yang sedikit rumit untuk diceritakan. Intinya kami diberi kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya hidup sebagai ‘orang kota’, sebagai warga metropolitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjajal pahit manisnya hidup di ibukota, bergaul dengan penghuninya, apakah pandangan kita tentang masalah ulang tahun ini berubah? Jawabnya tentu saja iya. Ada pandangan kita yang berubah, karena saya pikir tidak ada manusia di dunia ini yang kebal atau terhindar dari berubah karena lingkungan. Namun seberapa banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit saya menjawabnya, hanya saja sahabat saya kemarin berulang tahun dan saya memberikan selamat kepadanya lewat SMS. Kemudian dia minta maaf karena tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya beberapa minggu sebelumnya. Saya tahu dia telah berubah sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tentu memafkan dia, karena saya pun lupa untuk memberi selamat kepada saya sendiri atas ulang tahun saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Saya telah menceritakan ini kepada beberapa rekan, alhasil ada beberapa teman yang berinisiatif menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya. Telah tiga tahun berselang dan orang itu tetap saja menjadi yang pertama (selain istri saya tentu saja). Hal lain yang menarik adalah, banyak orang dimilis-milis yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya (mungkin mereka tahunya dari friendster), hal ini menjadi agak kurang mengenakkan, karena saya adalah orang yang termasuk malas dalam acara mengucapkan selamat-selamatan jika ada anggota milis yang berulang tahun. Mungkin, ini awal saya berubah. Dan semoga dengan keikhlasan, bukan karena ‘ketidakenakan’.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5825751951579291445?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5825751951579291445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5825751951579291445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/05/maafkan-aku-tidak-sempat-mengucapkan.html' title='Maafkan Aku Tidak (Sempat) Mengucapkan Selamat Ulang Tahun Kepadamu'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7172752743407260964</id><published>2007-05-14T22:15:00.000+10:00</published><updated>2007-05-14T22:23:18.372+10:00</updated><title type='text'>Welcome Marsya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RkhUOq5egRI/AAAAAAAAADg/nSXirKwQ8qs/s1600-h/2007_0508marsya0112.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RkhUOq5egRI/AAAAAAAAADg/nSXirKwQ8qs/s400/2007_0508marsya0112.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064390391988388114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah telah lahir putri kami yang pertama, Marsya, di Royal Melbourne Hospital, Selasa pukul 10.30 waktu Melbourne, semoga menjadi anak yang sholehah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7172752743407260964?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7172752743407260964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7172752743407260964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/05/welcome-marsya.html' title='Welcome Marsya'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RkhUOq5egRI/AAAAAAAAADg/nSXirKwQ8qs/s72-c/2007_0508marsya0112.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4798376465511811183</id><published>2007-05-04T21:17:00.000+10:00</published><updated>2007-05-04T21:35:10.914+10:00</updated><title type='text'>Terrorism and Religion</title><content type='html'>Robert Pape in Dying to Win (Scribe, 2005), a study of all suicide attacks between 1980 and 2003 found that “The data show that there is little connection between suicide terrorism and Islamic fundamentalism, or any one of the world’s religions. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In fact, the leading instigators of suicide attacks are the Tamil Tigers in Sri Lanka, a Maxist-Leninist group whose members are from Hindu families but are adamantly opposed to religion”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you want to blame religion for terrorism, then you might as well say that without sex there would be no rape or that if you destroy patriotism war will cease”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taken from Hell To pay when Man bites God , by Simon Caterson&lt;br /&gt;Australian Literature Review&lt;br /&gt;Volume 2 Issue 4 May 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4798376465511811183?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4798376465511811183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4798376465511811183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/05/terrorism-and-religion.html' title='Terrorism and Religion'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-868465033341523006</id><published>2007-04-29T22:39:00.000+10:00</published><updated>2007-04-29T22:57:02.435+10:00</updated><title type='text'>Melbourne Uni at Night</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RjSUca5egQI/AAAAAAAAADY/7nlSJsA3GwI/s1600-h/e2007_0429Phi-10063.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RjSUca5egQI/AAAAAAAAADY/7nlSJsA3GwI/s400/e2007_0429Phi-10063.JPG" border="1" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058831497421553922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo diatas diambil dalam keheningan malam sehabis kota melbourne di guyur hujan. Memakai aperture F8 dan kecepatan 10" dengan bantuan tripod 'cap kaki tiga' yang disandarkan pada bangku taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung diatas adalah gedung tertua di University of Melbourne yang dibangun pada tahun 1888 dan saat ini masih kokoh berdiri. Gedung tersebut amat berarti bagi para postgraduate karena menyediakan ruang belajar 24 jam 7 hari seminggu dengan akses internet tanpa batas, ruang belajar, dapur, dan juga ruang istirahat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan teman-teman sering menghabiskan malam-malam panjang disana, untuk itu malam minggu ini saya memutuskan untuk mengabadikan gedung tua sarat makna itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-868465033341523006?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/868465033341523006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/868465033341523006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/melbourne-uni-at-night.html' title='Melbourne Uni at Night'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RjSUca5egQI/AAAAAAAAADY/7nlSJsA3GwI/s72-c/e2007_0429Phi-10063.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5664245435624800839</id><published>2007-04-27T22:40:00.000+10:00</published><updated>2007-06-21T02:14:57.197+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>ICARUS</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Icarus adalah seorang pemuda yang ingin bisa terbang. Setelah seribu cara dicoba, akhirnya keinginan itu terpenuhi. Terbanglah dia, dengan sayap dari bulu-bulu yang direkatkan lilin. Saat asyik dia dibuai angin dan terbang meninggi, dia lupa pesan ayahnya agar terbang menjauhi matahari. Dia terbang semakin jauh dan tinggi. Terik matahari kemudian melelehkan lilin tanpa dia sadari, melepaskan bulu-bulu yang menempel pada dua sayap yang menerbangkannya. Saat Icarus, sadar semua terlambat, sayap yang menerbangkannya tinggi, adalah juga yang menghempaskan jatuh ke bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh keberanian untuk sekedar bermimpi, dan bila sisa keberanian itu masih ada, tidak ada salahnya mencoba. Namun ketika mimpi itu jadi nayata, dan menerbangkan kita jauh dan jauh,...Membuat kita menjadi seorang yang berbeda dari kita dahulu. Membuat kita mempunyai kuasa untuk melakukan banyak hal yang bahkan tidak berani kita bayangkan untuk bisa lakukan di masa-masa sebelumnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saat itu telah datang, mungkin ada baiknya kita mengingat cerita tentang seorang pemuda bernama Icarus diatas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RjIEsa5egPI/AAAAAAAAADQ/HcrZ38vakPQ/s1600-h/singapore+1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RjIEsa5egPI/AAAAAAAAADQ/HcrZ38vakPQ/s400/singapore+1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5058110492671639794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5664245435624800839?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5664245435624800839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5664245435624800839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/icarus.html' title='ICARUS'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RjIEsa5egPI/AAAAAAAAADQ/HcrZ38vakPQ/s72-c/singapore+1.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1824752429094001325</id><published>2007-04-22T17:03:00.000+10:00</published><updated>2007-04-22T17:15:23.688+10:00</updated><title type='text'>Dave Hill: A New Phenomenon on Photography</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RisKdO-Pb0I/AAAAAAAAADI/6IM05AuMANg/s1600-h/Dave+hill.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RisKdO-Pb0I/AAAAAAAAADI/6IM05AuMANg/s400/Dave+hill.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5056146504005152578" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Have you heard about Dave Hill? He is now proclaimed as one of current trend setter in art of photography. Many photography mailing lists are discussing about him and his misterious photographic technic. Take a look to &lt;a href="http://www.davehillphoto.com"&gt;his website&lt;/a&gt; and you will find some amazing photos which are seem unreal but so natural. Thanks for &lt;a href="http://elga4ever.multiply.com"&gt;Elga&lt;/a&gt; for this valuable info.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1824752429094001325?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1824752429094001325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1824752429094001325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/new-phenomenon-on-photography.html' title='Dave Hill: A New Phenomenon on Photography'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RisKdO-Pb0I/AAAAAAAAADI/6IM05AuMANg/s72-c/Dave+hill.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3014268831496942443</id><published>2007-04-22T15:36:00.000+10:00</published><updated>2007-04-22T16:00:49.819+10:00</updated><title type='text'>Politik Adiluhur</title><content type='html'>Tulisan ini saya buat untuk menjawab komen bootdir pada tulisan "Politik oh Politik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tersebut saya pikir menjadi pertanyaan banyak orang, "adakah politik adiluhur?". Saya bukanlah ahli politik atau orang yang belajar politik. Saya akan mengomentari masalah ini dari kacamata orang awam dan berdasar pengalaman pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam tulisan saya sebelumnya, saya menggunakan obrolan dengan salah satu tokoh pemuda di Indonesia sebagai ilustrasi pergulatan pemikiran dikalangan aktivis, maka dalam kesempatan saya sekarang ini saya akan menggunakan pengalaman saya dalam berhubungan dengan salah satu lembaga politik di Indonesia sebagai bahan ilustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga politik yang saya maksud diatas adalah salah satu klien saya ketika saya bekerja sebagai konsultan partikelir di Jakarta. Lembaga tersebut menggunakan dana bantuan Donor asing untuk mengkaji upaya penguatan demokrasi di Indonesia. Dari situ saya mendapat sedikit pengetahuan tentang bagaimana kebijakan di Indonesia dirumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya boleh menyebut ada dua pintu dalam perumusan kebijakan di Indonesia, pintu pertama adalah pintu formal (baca: resmi) yaitu lewat DPR, Presiden, Bappenas, Kementrian, atau aparat pemerintah lainnya, sedangkan pintu kedua adalah pintu non formal atau dalam istilah lain sering dikenal dengan sebutan 'pressure group' atau 'kelompok lobi'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kelompok buruh dengan asosiasi-asosianya menjanjikan dukungan pada partai politik tertentu, dengan balasan terbitnya UU yang melindungi kepentingan mereka. Ketika partai politik tersebut akhirnya berkuasa mereka kemudian mengabulkan tuntutan itu, sehingga Indonesia memiliki UU Tenaga Kerja, yang bagi sebagian orang dianggap lebih memihak buruh. Disisi lain para pengusaha yang merasa dirugikan oleh adanya UU tersebut tidak tinggal diam, lewat asosiasi-asosiasi mereka melobi pemerintah untuk mengamandemen UU tersebut dengan imbalan peningkatan investasi dan pembukaan lapangan kerja baru. Pemerintah baru nampaknya tertarik dengan iming-iming tersebut, dan memulai gerilya di DPR untuk mengamendemen UU tersebut. Kemudian terjadilah demonstrasi besar-besaran di Jakarta, dan cerita selanjutnya menjadi tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat tarik ulur diatas, jelas politik dalam hal ini digunakan oleh masing-masing kelompok untuk melindungi kepentingannya masing-masing. Jadi kekuasaan dipandang sebagai alat untuk melindungi kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menilik peta perpolitikan di Indonesia yang seperti rimba belantara, masing-masing pihak mengasah kreatifitasnya untuk mendapatkan akses ke pada sumber-sumber kekuasaan. Ketika satu partai telah memenangkan kursi kepresidenan, tidak otomatis dia telah memegang kekuasaaan, karena dalam waktu yang sama partai yang lain menguasai lembaga legislatif, atau partai yang lain menguasai kementrian A atau B, atau menguasai cabang eksekutif yang lain. Pada akhirnya yang terjadi adalah pengaplingan kekuasaan untuk berlomba melindungi kepentingan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau keadaan seperti diatas adalah politik adilihur di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu penulis mendapat forward email dari Faisal Basri yang mengumumkan pengunduran dirinya menjadi Calon Gubernur DKI. Satu hal yang saya sangat ingat adalah kata-kata beliau 'tidak ada yang sia-sia'. Langkah beliau terhambat karena tidak ada partai yang mendukung, walaupun beliau dikenal mempunyai platform yang sangat bagus dalam membangun Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi masih ada pihak-pihak yang mencoba mengusung politik adiluhur di Indonesia, masalahnya mereka menghadapi tembok yang sangat tebal yang dibuat oleh orang-orang yang ingin melanggengkan budaya politik orde baru. Masalah yang lain adalah rakyat tidak aktif mendukung pihak-pihak yang mencoba mengusung politik adiluhung, karena mereka masih terpesona oleh ketokohan yang gagah perkasa (baca militer) dan kaya raya (baca militer atau pengusaha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah bagian dari yang saya tidak tahu besarnya yang masih optimis dengan Indonesia karena masih adanya orang-orang yang berniat untuk mengusung politik adiluhur. Semakin kita menghindari terjun di politik maka semakin leluasa orang-orang dengan budaya lama untuk berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dalam kesempatan berikut saya akan mencoba membahas tentang alat-alat politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3014268831496942443?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3014268831496942443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3014268831496942443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/politik-adiluhur.html' title='Politik Adiluhur'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3973468458781807686</id><published>2007-04-19T18:19:00.000+10:00</published><updated>2007-04-22T15:33:41.847+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Politik oh Politik</title><content type='html'>Saya dibesarkan di keluarga yang menganggap politik adalah kotor dan nista. Oleh karenanya saya selalu menjaga jarak dengan apapun yang berbau politik, minimal sampai saya lulus kuliah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian apa yang menjadikan saya sekarang dicap sebagai seorang 'political minded'? yaitu seseorang yang selalu mengukur untung rugi melakukan/tidak melakukan sesuatu dari kacamata politik. Walaupun cap tersebut tidak sepenuhnya benar, tetapi saya akui saat ini telah terjadi pergeseran besar dalam diri saya dalam memandang politik  dibandingkan dengan waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran ini dimulai ketika saya punya kesempatan yang emas untuk berbincang dengan mantan ketua pemuda salah satu ormas di Indonesia yang akhir-akhir ini bergiat dengan rencana pendirian sebuah partai baru. Langkah tersebut menuai banyak tantangan, karena ormas yang dia ikuti selama ini adalah ormas yang netral dari politik. Ketika saya menanyakan mengapa beliau memutuskan untuk terjun dalam politik praktis dengan mendirikan partai, beliau menjawab 'jaman sekaran telah berubah, kalau memang niatannya mau berjuang dan mengubah kebijaksanaan, ya tempatnya di senayan (gedung dpr - red) bukan di jalanan. Sekuat apapun anda teriak-teriak dijalanan, atau sebanyak apapun massa yang bisa anda kumpulkan, tetapi kalau anda tidak punya channel di senayan ya mental mas. Kita harus realistis, jaman telah berubah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya menanyakan, apakah beliau tidak khawatir bahwa partai yang beliau dirikan bersama teman-temannya nantinya hanya akan menjadi partai gurem. Beliau menjawab 'wah partai jadi gurem, atau besar yang menentukan rakyat mas, bukan analis atau komentator di koran. Ujiannya ya di pemilu nanti. Kita akui memang kita tidak punya modal dana yang besar, tapi kita punya jaringan. Siapa menyangka partai demokrat bisa menjadi besar? Kalau niatannya berjuang, maka menang atau kalah tidak penting mas, yang penting paling tidak kita telah berusaha memperjuangkan idealita, secara nyata, bukan hanya koar-koar dimana-mana tetapi tidak ada aksinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sempat menyinggung, apakah pendirian partai politik tersebut tidak menyebabkan perpecahan di ormas yang dia ikuti selama ini. "Wah kalau dikhawatirkan memecah belah, bagaimana partai yang lain (yang lahir terlebih dahulu dari komunitas ormas ini - red). Mereka juga memecah belah dong kalau gitu. Kalau mereka boleh mendirikan partai, kenapa kita tidak. Saat ini jaman bebas mas, kalau kita dituduh mendompleng, itu juga tidak benar, saat ini tidak sedikitpun kita menggunakan fasilitas ormas yang kita ikuti. So, apalagi? Lambang yang mirip, visi-misi yang sama? wah kalau itu dimasalahkan, saat ini siapa yang bisa menjamin bahwa lambang, dan visi-misi tersebut adalah hak cipta dari ormas ini, lha wong lambang dan visi-misi tersebut saya pikir telah digunakan oleh banyak ormas Islam yang lain kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau kemudian tersenyum, "saya sudah menyiapkan semua jawaban mas. Kita menyiapkan ini bukan sehari atau dua hari kok". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya merasa kerdil, dan mati kutu. Memang saya tidak menyiapkan untuk sebuah diskusi yang konstruktif, masalah perlu tidaknya kita terjun ke politik dalam memperjuangkan idealita kita. Saya dapat bahan yang berharga, dan terimakasih untuk beliau yang telah memberikan secercah pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menyela lamunan saya, "Mas saya dulu juga berpikiran seperti sampeyan. Kaku dan saklek. Tetapi kita tidak bisa berkembang kalau kita memelihara pola pemikiran seperti itu. Patut dicamkan, bahwa kita hidup dengan banyak orang yang pemikiran maupun keyakinannya berbeda dengan kita. Mau tidak mau kita harus kompromi. Oleh karena itulah pentingnya kita mengerti tentang politik. Politik itu guyonannya khan kepanjangan dari "sudah pol masih bisa dikutak-kutik". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian belajar, ternyata politik bukan hanya alat untuk mencari kekuasaan tetapi lebih dari itu, alat untuk mencari penyelesaian secara damai. Alat untuk mencari kesepahaman dan persamaan. Alat untuk menjembatani perbedaan kepentingan. Alat untuk berkompromi. dan alat untuk mencapai keserasian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang politik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3973468458781807686?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3973468458781807686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3973468458781807686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/politik-oh-politik.html' title='Politik oh Politik'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7174299768104025160</id><published>2007-04-09T12:43:00.000+10:00</published><updated>2007-04-09T12:45:12.141+10:00</updated><title type='text'>On the Beach</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RhmorIUIwkI/AAAAAAAAACA/xFkJg9Du9no/s1600-h/F1-Beach+225.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RhmorIUIwkI/AAAAAAAAACA/xFkJg9Du9no/s400/F1-Beach+225.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5051253915992506946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7174299768104025160?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7174299768104025160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7174299768104025160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/on-beach.html' title='On the Beach'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RhmorIUIwkI/AAAAAAAAACA/xFkJg9Du9no/s72-c/F1-Beach+225.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-2928413205822175797</id><published>2007-04-07T16:33:00.000+10:00</published><updated>2007-04-22T15:35:23.311+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><title type='text'>Indonesian Way</title><content type='html'>Indonesian Way&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I always believe that between two contrast choices there will be a third choice, the alternative way. Indonesia had play beautifully between two superpowers in the past by positioning itself on the center. When the world had to choose to become capitalist or communist, to become US Bloc or Soviet Bloc, to become Islamic state or secular state, Indonesia consistently chose in between.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia long time ago had remarkably recognized as one of countries which initiate the Asia Africa Conference. The conference held in Bandung on 1955 gave strong message to the world for independence and equality for Asian and African countries to choose their destiny. Not surprising that not long after the conference some Asian and African countries followed Indonesia to declare their independence from colonial state. That is why Nelson Mandela until now always wears “batik’ an Indonesian traditional costume to express his gratitude to Indonesia for the inspiration to become independence of many countries in Africa. The conference also inspired the establishment of Non-Bloc Movement.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now Indonesia is in the middle of self confidence crisis. Indonesia still plays free but active foreign policy but the result is much difference with the past. In the past Indonesia played the policy with high self confidence and inner believe to achieve noble thing for the nation and the world. But now Indonesia plays the policy because Indonesia is too weak and doesn’t have other choice, except for silent. Take a look just couple week ago Indonesia restated his commitment to support nuclear for peace done by Iran in front of Iranian Parliament Speaker who visit Jakarta, but just couple days after that Indonesia also support UN sanction to Iran because of the very same nuclear problem. Where is now Indonesia stand? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just a couple week ago I also was very proud to become Indonesian, when Indonesia point out a strong position by rejecting to give sample of Avian Flu virus to WHO on basis that WHO gave the sample to big pharmacy firm for vaccine formulation. Indonesia argued that if the knowledge of Avian Flu vaccine held by big pharmacy company, in case of pandemic, they will charge a very high price which Indonesia people could not afford, then Indonesia sign in an agreement with Baxter to develop the vaccine so Indonesia will not get dependant to other countries for the vaccine. The New York Times an Times Magazine both praised Indonesia policy which made WHO top officer flight to Jakarta to make a very good agreement to both Indonesia and to the world, from now on Indonesia will continue to give the sample of Avian flu viruses but no countries or company can develop vaccine from that sample without Indonesia permission. Two thumb up for ministry of health and Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, my dear Indonesia just keep on do Indonesian way, but now, like our glorious past, with courage.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.nytimes.com/2007/03/28/world/asia/28birdflu.html?ex=1176091200&amp;en=44727a4e444c5bad&amp;ei=5070"&gt;Indonesia to send bird flu samples, with restriction by New York Times&lt;/a&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1604427,00.html"&gt;Battle for a vaccine by Time Magazine&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-2928413205822175797?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2928413205822175797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/2928413205822175797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/indonesia-way.html' title='Indonesian Way'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6335100973665482831</id><published>2007-04-02T12:49:00.000+10:00</published><updated>2007-04-02T13:54:13.538+10:00</updated><title type='text'>Kerangka dalam Memilih</title><content type='html'>Hidup itu penuh pilihan, dan terkadang kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Apa yang kita lakukan saat dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit? Seperti memilih manakah yang lebih dahulu apakah ayam atau telor? Siapakah yang akan kita pilih sebagai istri/suami kita? Jenjang karir apakah yang akan kita geluti? Atau siapa calon pemimpin yang layak kita pilih? Pilihan pertama walaupun sulit kita jawab tentu tidak memiliki dampak apapun bagi masa depan kita, tetapi bagaimana dengan pilihan kedua, ketiga dan keempat? Kita tentu akan mencurahkan segenap perhatian, melakukan segala upaya, dan tidak tergesa-gesa sebelum melakukan pilihan-pilihan besar dalam hidup kita bukan? Agar apapun yang kita pilih nanti tidak kita sesali diwaktu kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu-ilmu yang ditawarkan di Universitas-universitas saat ini, baik itu S1, S2 maupun S3, adalah ilmu untuk memilih. Tetapi karena kompleksnya ilmu ini maka ilmu itu kemudian dibagi dalam bidang-bidang yang lebih kecil. Misal ilmu ekonomi mempelajari pilihan-pilihan yang harus kita buat agar sumberdaya ekonomi yang terbatas dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin. Ilmu hukum mempelajari tentang pilihan-pilihan dasar hukum yang harus kita gunakan ketika menghadapi sebuah kasus. Ilmu agama mengajarkan kita untuk memilih hal-hal yang perlu dikerjakan dan dihindari agar kita selamat dunia dan akhirat. Begitupula ilmu eksak seperti fisika, kimia, dan biologi. Ilmu-ilmu tersebut memberikan serangkaian pilihan-pilihan prinsip yang harus kita terapkan pada kondisi lingkungan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagaimana dengan ilmu untuk memilih “keputusan-keputusan pribadi”. Apakah saat ini ada fakultas yang menawarkan mata kuliah tersebut. Misalkan pilihan apa yang harus kita tempuh sehingga kita bisa menjadi pribadi yang menyenangkan dan sukses? Walau saat ini tidak ada fakultas khusus yang menawarkan mata kuliah ini (sepanjang pengetahuan saya), namun telah ada banyak buku-buku yang mengajarkan tentang hal ini. Tetapi mengapa ada seorang manajer keuangan perusahaan besar, yang ternyata gagal mengelola keuangan keluarganya? Pertanyaannya kemudian, apakah informasi yang kita pelajari di bangku sekolah untuk lingkup yang besar (misalnya mengelola keuangan negara, atau mengelola keuangan perusahaan) bisa kita terapkan dalam kehidupan pribadi kita? Apakah informasi dari buku-buku yang telah banyak beredar dipasaran tersebut bisa membantu kita untuk membuat keputusan-keputusan pribadi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya manusia adalah makhluk yang sangat unik. Beberapa saat yang lalu saya bekerja menjadi penjaga toko baju wanita disebuah pasar di Melbourne. Saya menyaksikan beragam manusia dengan seleranya masing-masing. Mereka memilih baju dengan banyak pertimbangan, misalnya harga, model, ukuran, kesesuaian dengan musim, trend dan lain-lain. Ternyata dalam usaha membut keputusan sederhana, semisal memilih baju, telah melibatkan banyak pertimbangan-pertimbangan. Pertanyaan menjadi rumit misalnya, kalau kita menanyakan pertimbangan apakah yang paling utama, dari pertimbangan-pertimbangan diatas. Apakah harga, ukuran, atau model? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain yang bisa menggambarkan rumitnya mengambil keputusan apabila menyangkut faktor manusia, adalah pengalaman saya ketika ditanya seorang teman tentang bagaimana memilih jodoh. Andaipun kita telah berhasil mengidentifikasi criteria-kriteria tentang jodoh yang ideal menurut si-penanya tersebut. Apakah kita bisa menjamin ketika dia bertemu dengan orang yang memiliki semua criteria tersebut, serta merta dia akan memutuskan bahwa wanita tersebut adalah jodoh idealnya? Tentu saja tidak, karena ada faktor perasaan yang seringkali mengalahkan faktor logika saat kita berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus yang lain beberapa saat yang lalu, saya ditanya tentang pilihan karir yang harus ditempuh oleh seorang sahabat. Pilihan karir tersebut membawa konsekuensi kepada kota yang harus dia tinggali, gaya hidup yang harus dia tempuh dan tentu saja penghasilan yang akan dia terima. Sulit bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, berbahagialah orang yang punya kerangka kuat dalam membuat keputusan. Pada akhirnya kita harus memilih salah satu, karena sayangnya diam dan tidak melakukan apa-apa seringkali tidak bisa kita pilih. Setiap pilihan tentu ada konsekuensinya, selalu ada untung dan ruginya, dan seringkali pilihan tersebut tidak terbatas. Disisi lain kita hanya memiliki waktu yang terbatas, dan sumberdaya yang terbatas pula untuk membiayai pilihan-pilihan kita tersebut. Disinilah pentingnya kita mempunya kerangka dalam pengambilan keputusan. Kerangka yang saya maksud disini adalah langkah-langkah apasaja yang harus kita lakukan sebelum mengambil sebuah keputusan. Informasi apa saja yang harus kita cari terlebih dahulu. Siapakah yang akan kita libatkan dalam pengambilan keputusan tersebut. Bagaimana kita mengukur dan menimbang semua masukan yang ada. Dan terakhir bagaimana mekanisme yang akan kita pakai dalam memutuskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Saya memilih ayam lebih dahulu daripada telor. Mengapa? Asumsi dasar yang saya pakai, apapun yang kita pilih tidak akan berdampak apapun terhadap peri-keayaman maupun diri pribadi kita, sehingga kita tidak perlu berpikir terlalu dalam, toh pembuktian mana pilihan yang benar sangat sulit dilakukan. Alasan pertama adalah misalkan telor yang yang tercipta lebih dahulu siapa yang akan mengerami? Siapakah yang akan menjaga dan membesarkan anak ayam tersebut? Kemudian bukankah Adam tercipta sebagai seorang Adam, bukan sebagai seorang bayi atau sperma bukan? Alasan kedua adalah regenerasi.Untuk keberlangsungan regenerasi setiap makhluk diciptakan berpasangan, pria dan wanita, jantan dan betina. Seperti Adam dan Hawa. Oleh karena itu saya percaya bahwa Ayam yang pertama dahulu juga Ayam Jantan dan Betina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Untuk bagaimana memilih jodoh dan karir, mungkin saya perlu membuat tulisan tersendiri untuk kedua hal tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6335100973665482831?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6335100973665482831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6335100973665482831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/kerangka-dalam-memilih.html' title='Kerangka dalam Memilih'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8106351025044995534</id><published>2007-04-01T17:47:00.000+10:00</published><updated>2007-04-02T18:03:26.188+10:00</updated><title type='text'>Belajar Moto</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memakai Tustel Lama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/3-twelveapostles-greatoceanroad.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Building 1888 - tempat kita biasa mangkal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/2007_03120086.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Anak Orang&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/DSCF0260.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menunggu Pembeli&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/DSCF0206.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;Br&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Brunswick di malam Hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/DSCF0288.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tangga menuju Masjid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/2007_03120059.jpg" border="0" alt="Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8106351025044995534?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8106351025044995534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8106351025044995534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/04/belajar-moto.html' title='Belajar Moto'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3720612522486362145</id><published>2007-03-28T01:53:00.000+10:00</published><updated>2007-03-29T10:30:08.961+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><title type='text'>War of the Words</title><content type='html'>I am in the middle of war, the war with (other) words. It's really disturbing but quite fun sometime. Some people say, when you have an argument and the others have an opposite one, and both of parties do not have enough data to support them, what might to happen is "your words against mine' kind of discussion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's pretty scary to realize that even among postgraduate students, the so called intelectual group and young leader, such discussion still happened. Sometime people think a lot and deep when they're doing their job, but they think less (or even don't think at all) when they talk about 'something' outside of their job. What struck me most and make me sad is that 'something' is ussually when they talk about our beloved country, Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How could they just grab some stuff from internet, throw it to mailing list, talk negatively about it, without even think, that the news might be just rubish or hoax?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remembered when some of NGO activists came in Melbourne couple months ago to attend a conference, and after they talk almost two hours grumbling about Indonesian problem then I asked to them 'is there any good news from Indonesia?', then they spontaniously said "Nope". When I gave them data that in year 2006 Foreign Direct Investment in Indonesia had surpassed Malaysia, they were just stunned and silenced.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yes. I am in the middle of war. War of the words with people who always pesismistic (or even cynical) about Indonesia. And I am dead serious.We have been bombarding with tons of bad news. I and my friends are now preparing counter-measure to this situation. Let us make it clear, we do not oppose critics about Indonesia, but when every email in the mailist, or in discussion, or in our daily conversation, we always hear the negative views without even once we hear the positive view, we think that there is something wrong. We tend to believe that there is no hope for Indonesia, because everyday we are hearing a tons of bad news about Indonesia. This situation must be changed. Isn't there any good news? Is the bad news is real not just a fake story or hoax? Then is our duty to find the good news or critize the bad news. It is our duty to proof that there is still hope for Indonesia. Just imagine, when everybody think that Indonesia is so awful that nobody can fix it, then the history of Indonesia is ended in that time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you want to join me? Once again I am dead serious about this proposition.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3720612522486362145?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3720612522486362145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3720612522486362145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/03/war-of-words.html' title='War of the Words'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-9191391127028337359</id><published>2007-03-27T22:40:00.000+10:00</published><updated>2007-04-22T15:35:42.956+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Pedagang Informasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Segelas Flat White. Obrolan yang hangat. Dan Melewatkan Sore dibawah Naungan Gedung Alan Gilbert yang megah, paling tidak menjadi pendorong untuk menulis (lagi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brunswick. 1.20 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu, di sebuah negara kota yang dulunya bernama Temasik, saya mulai berkenalan dengan abad informasi. Saat itu adalah kali pertama saya menginjakkan tanah di luar negara yang saya banggakan. Betapa abad informasi yang didengungkan dengan begitu rupa pada saat saya kuliah dahulu, menemukan perwujudannya. Seorang desa, dengan beribu keberuntungan, bisa menjejakkan kaki ke tanah seberang, melewatkan sore di Orchard Road dan singgah di sebuah toko buku, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Border&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Border hanyalah sebuah toko buku tidaklah lebih. Sama dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Social Agency&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shopping Center&lt;/span&gt;, tempat aku biasa berburu buku di kota tempat tinggalku. Hanya saja Border adalah perwujudan dunia tanpa batas, Border(less). Border adalah akuarium dengan ikan-ikan kecil yang mewakili wajah dan suara dari seluruh dunia. Betapa di toko yang seluas setengah lapangan bola, saya seperti hidup di belantara informasi. Hidup di dunia tanpa batas. Sayangnya buku yang saya cari-cari tidak saya temukan di Border, Singapura. Ternyata toko yang mempersonifikasikan gudangnya gudang ilmu ini, tetap memiliki batasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus mencari buku itu. Lama kiranya, hingga 1 tahun kemudian, kali kedua pemuda kampung ini menjejakkan kaki lagi di tanah di negeri seberang. Akhirnya, di perpustakaan yang katanya salah satu terlengkap di negeri ini, saya menemukan buku itu. Lexus and Olive Three, karannga Thomas L Friedman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu adalah benar pelepas dahaga. Buku itu menjelaskan tetek bengek Globalisasi dengan amat mudah dan sederhana. Mulai dari runtuhnya tembok Berlin, sampai dengan bergabungnya China di WTO, semua diceritakan dengan alur yang rapi dan elok. Saya seperti mendapat sinaran, dan cuplikan ke arah mana dunia ini akan berjalan. Satu hal yang sangat berkesan dari buku itu, adalah ketika Thomas L Frieman, menjelaskan tentang dirinya sebagai seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;arbitrase informasi &lt;/span&gt; yang dalam tulisan ini saya bajak dengan istilah "Pedagang Informasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thomas, demikian dia suka disebut, menceritakan proses penulisan buku tersebut. Mulai dari saat dia bertugas menjadi koresponden ramalan cuaca di Beirut, sampai dengan editor lepas (Op-Ed) di New York Time. Dia berkelana dari satu pojok dunia, ke pojok dunia lain. Metode yang dia gunakan adalah wawancara pelaku. Secara sederhana pekerjaan dia adalah 'mengambil cerita orang', 'merangkumnya', 'mencari benang merah' kemudian 'menceritakan kembali dengan bahasa yang mudah dan alur yang rapi dan kokoh'. Oleh karena itu, proses terjadinya Globalisasi bisa dia ceritakan dengan sangat mudah dan sederhana, namun tidak kehilangan esensi dari tren yang sangat penting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pikiran ini mengembara lebih jauh lagi. Ke tahun 45, dan bahkan ke tahun-tahun sebelum negara yang kucintai ini merdeka. Disitu kita kenal seorang Soekarno. Apakah Soekarno seorang yang cerdas? Beberapa orang dekat menggambarkan sosok beliau sebagai seorang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;resultante&lt;/span&gt;. Seorang yang punya kemampuan luar biasa dalam menangkap pemikiran orang-orang, kemudian merangkumnya, dan menjadikannya sebuah gagasan baru yang bisa diterima oleh orang-orang tersebut. Apakah Pancasila ide dari Soekarno? Apabila kita jeli, Pancasila adalah hasil resultante Soekarno atas pemikiran-pemikiran yang mengemuka pada saat itu. Dengan kemampuannya ini Soekarno bisa mengikat bangsa kita yang terdiri dari beribu-ribu suku ini menjadi satu. Tanpa Senjata!. Tokoh lain yang punya kemampuan mirip adalah Bill Clinton, yang dikenal paling jago dalam menyerap aspirasi dalam Focus Group Discussion, dan menjadikannya isu politik yang berdaya jual tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya berkenalan dengan tokoh-tokoh luar biasa, yang jualannya tidak lain tidak bukan adalah 'abab (bahasa jawa: omongan). Tidak lain, tidak bukan adalah orator terbaik sepanjang masa seperti Malcolm X, Martin Luther King, Mandela, Mahatma Gandhi, dan tentu saja Muhammad dll (yang entah kebetulan atau tidak semua berawalan dengan huruf M). Jualan mereka tidak lain adalah gagasan untuk kehidupan yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya menariknya dalam konteks kekinian. Peran apa yang harus dimainkan sekarang ini? Setiap hari saya memelototi milis, blog, web, majalah Times, koran-koran, diktat kuliah dan bentuk tulisan lainnya. Dari situ saya mencari pola. Kemudian saya menandingkannya balik ke dalam milis, kelompok diskusi, obrolan ringan, maupun perenungan mendalam. Saya ingin menangkap sebuah pola yang bisa menjelaskan kemana arah dunia ini akan bergerak, yang semoga bisa membantu negeriku bangkit dari runtutan bencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika saya usil, menggunakan sedikit informasi untuk menggoyang keademayeman sebuah milis, atau sebuah komunitas, maafkanlah saya. Anggap saja sebagai anggin sore yang membangunkan orang yang terlalu lama tidur siang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya sekarang sadar, dan terlibat dengan kekuatan maha dasyat yang dinamankan informasi. Saya berkutat siang malam, mengubah data-data, angka-angka, ataupun aksara yang tersebar menjadi suatu berita yang mungkin dibutuhkan oleh orang lain. Berita tersebut, semoga saja nantinya berkumpul menjadi sebuah cerita dan orang-orang bisa mendapatkan pengetahuan dari membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pergeseran yang ingin saya geluti. Dari buruh angka menjadi pedagang informasi. Walaupun saya sadar tanpa nama besar, jualan informasi itu sama dengan jualan angin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai untuk saat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-9191391127028337359?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/9191391127028337359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/9191391127028337359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/03/pedagang-informasi.html' title='Pedagang Informasi'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-875743753630393581</id><published>2007-03-23T23:18:00.000+11:00</published><updated>2007-03-29T18:02:38.772+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Telaga</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;No news means good news&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat cerita tentang seorang pengembara yang sangat haus akan ilmu pengetahuan, sehingga dia melangkahkan kaki kemana dia kira ilmu pengetahuan itu berada. Jarang dia tidur, dan hari-harinya banyak dihabiskan untuk merenung. Rambutnya telah memutih walau dia belumlah tua, matanya nampak letih dan wajahnya pucat. Selama perjalanannya dia sering tertipu oleh banyaknya fatamorgana yang dia kira mata air yang akan memuaskan dahaganya. Dia sering tertipu dan kecewa, namun dia tidaklah putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembara itu terus berjalan, hingga arah barat menjadi timur. Hingga tubuhnya yang tegap menjadi renta, dan kulitnya yang putih menjadi hitam. Suatu ketika sampailah ia disebuah telaga yang maha luas dan jernih airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraannya memuncak, hingga dia tidak percaya apakah dia benar-benar telah sampai pada tempat yang selama ini dicarinya. Dia berjalan mengitari telaga itu, melihat bayangannya sendiri memantul dari jernihnya air yang bagaikan kaca. Dia memberanikan diri untuk meraih air itu, menciduknya dengan tangannya dan kemudian mereguknya. Benar-benar sebuah kesegaran yang tiada tara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaga itu mengalirkan darah dan tenaga muda. Sekejab dia menjadi muda dan perkasa. Dia mendapat jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan yang dia cari selama ini. Sungguh riang hati pengembara itu, hingga dia kesetanan berlari kesana-kesini, mereguk, berkaca, berdiskusi, mandi, menyelam dan melakukan semua hal yang hanya dia impikan selama ini. Dia menjadi perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir satu tahun di telaga tersebut, dia kemudian menyadari bahwa ada yang kurang, atau hilang dari dirinya. Sesuatu yang selama ini melekat pada dirinya, yang membuat dirinya punya kekuatan untuk berjalan jauh dan berkelana, yaitu pencarian itu sendiri. Selama ini dia berjalan, merenung, berpikir dan berkelana, paling tidak untuk satu alasan, mencari sesuatu yang hilang. Ketika sesuatu itu telah ditemuinya, ketika itupula dia kehilangan alasan atas yang menggerakkannya melintasi batas hutan,  gunung dan juga lautan. Telaga itu disatu sisi menjadi solusi, namun disisi lain telaga itu menimbulkan masalah baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita bisa mencari sesuatu yang hilang, yang sebenarnya ada dalam diri kita sendiri? Pertapa tua bilang, untuk itulah kita butuh cermin. Karena kita akan kesulitan melihat diri kita tanpa bantuan cermin. Dan cermin paling hebat adalah sahabat dan musuh kita, karena dari keduanya kita bisa melihat kelemahan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa kita mencari sesuatu, yang tanpa sesuatu itupun kita bisa hidup. Pertapa tua bilang,ada beda hidup dari sekedar bernafas dengan hidup yang maknawi. Kita hidup disini tentu dengan suatu alasan bukan? Dan alasan itu haruslah dicari jawabannya. Kita mungkin bisa tetap hidup tanpa tahu alasan mengapa kita hidup, tetapi dalam hidup yang hanya sekali ini, bukankah kita selalu tergoda untuk menemukan alasan mengapa kita hidup didunia ini? dari sekian juta sperma mengapa akhirnya kita yang mendapat kesempatan untuk hidup? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bila, setelah kita tahu alasan mengapa kita hidup, segala sesuatu menjadi berubah? Segala sesuatu menjadi rumit, dan kita tidak akan makan, tidur, bekerja, bercanda tanpa memikirkan 'mengapa kita hidup didunia ini'. Pertapa tua mengatakan pilih mana, berjalan tanpa tahu tujuan dan alasan berjalan, atau berjalan dengan suatu arah yang pasti dan alasan yang jelas. Bukankah menjadi ketakutan kita semua, ketika kita berjalan, dan nampak tidak ada yang salah dari hal itu, dan ternyata jalan itu menuju sebuah jurang yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke telaga, pengembara itu akhirnya kembali merenung, pertanyaannya sekarang adalah "bagaimana memindahkan telaga itu, atau minimal mengambil sebagian airnya, untuk mengaliri daerah asalnya yang sedang kekeringan dan sering ditimpa bencana".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-875743753630393581?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/875743753630393581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/875743753630393581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/03/telaga.html' title='Telaga'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8732427731687625048</id><published>2007-03-08T22:44:00.000+11:00</published><updated>2007-04-22T15:33:41.847+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Empati dan Optimisme</title><content type='html'>Sang Nabi mengajarkan bahwa kita sebagai saudara selayaknya satu anggota tubuh dengan anggota tubuh lainnya, ketika ada satu anggota tubuh yang merasa sakit, anggota tubuh lainnya akan serta merta merasakannya. Mungkin saya belum bisa sampai di titik itu, tetapi paling tidak setiap mendengar berita buruk dari Indonesia, hati ini menjadi trenyuh dan sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan saya kemudian seperti tertikam, ketika dari sebuah milis yang saya ikuti, saya membaca sebuah komentar salah satu anggota milis tentang kecelakaan Garuda yang baru lalu dengan cukup mengatakan "ga usah dipikirin". Bagaimana kita bisa bersikap demikian? Bagaimana misalnya salah satu dari korban tersebut adalah saudara kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun cukup manusiawi ketika rasa sedih saya terhadap korban kecelakaan Garuda lebih dalam, daripada kecelakaan atau bencana lain yang baru-baru ini terjadi. Bukan saja karena pesawat tersebut jatuh di bandara yang selama ini sangat akrab dengan saya dan berlokasi tidak jauh dari tempat tinggal saya nantinya, namun beberapa korban adalah orang-orang yang sangat saya kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalu konfirmasi via ceting saya mendapat khabar bahwa Bp Masykur Wiratmo, menjadi salah satu korban dari peristiwa naas tersebut. Bp Masykur Wiratmo adalah Direktur PAU Studi Ekonomi, saat saya dahulu berkerja di situ. Bp Masykur memberikan kepercayaan dan peluang, ketika pada waktu itu orang belum yakin dengan kemampuan saya. Lewat bimbingan dan didikan beliau saya bisa menjadi saya seperti saat ini. Namun setelah saya bekerja di Jakarta, hingga sekarang saya belum pernah sekalipun berkesempatan untuk sowan dengan beliau. Hingga saat ini semua sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa, bahwa ajal itu memang begitu dekat. Sedemikian dekat hingga mungkin jaraknya adalah satu jengkal tangan dari leher kita. Kita tidak tahu dan tidak bakal menyangka kapan hidup kita ini akan berakhir. Saya saat ini tinggal di tempat yang begitu tenang dan jauh, dari tanah air saya. Namun hal itu, tidak menyurutkan sedikitpun kedekatan emosional saya dengan tanah air. Apalagi Yogyakarta, tanah kelahiran saya yang sangat saya cintai dan banggakan. Bukan hanya orang Indonesia yang jatuh cinta dengan kota saya ini, namun orang-orang Australia yang pernah berkunjung atau tinggal di kota tersebut juga mengutarakan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa nyaman, tenteram dan damai mungkin saja bisa membuat kita terlelap sejenak, namun kita harus terjaga dan tetap terjaga, bahwa tempat kita bukan disini. Tempat kita adalah di Indonesia, bersama peluh, airmata dan darah yang tercurah untuk membangunnya. Tempat kita adalah disana untuk berjuang, mencurahkan segenap daya, dan  memberikan sumbang sih kita, betapapun sedikitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu saya berempati. Terhadap korban-korban yang terus berjatuhan, namun tetap tabah. Untuk rakyat yang tetap setia pada cita-cita untuk membangun keadaan yang lebih baik. Untuk sebuah bangsa yang seharusnya menjadi besar karena potensinya. Untuk sebuah harapan yang tidak pernah mati dan hilang di setiap dada para pemudanya. Untuk sebuah sumpah yang telah diikrarkan Gajah Mada dan para pendahulu kita. Dan untuk sebuah perjuangan yang baru saja dimulai. Berempati kepada setiap rasa optimisme yang masih tergenggam erat disetiap hati sanubari, bahwa akan ada Indonesia yang lebih baik dari saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Indonesia yang Optimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Semoga foto dibawah ini cukup bisa mewakili isi tulisan diatas&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RfAQ1xwnlHI/AAAAAAAAAB0/vVPDh9iIBz8/s1600-h/100_0455.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RfAQ1xwnlHI/AAAAAAAAAB0/vVPDh9iIBz8/s320/100_0455.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5039546499103954034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8732427731687625048?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8732427731687625048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8732427731687625048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/03/empati-dan-optimisme.html' title='Empati dan Optimisme'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RfAQ1xwnlHI/AAAAAAAAAB0/vVPDh9iIBz8/s72-c/100_0455.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5700174136777063154</id><published>2007-03-08T00:42:00.000+11:00</published><updated>2007-04-22T15:33:41.847+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Ilmu punya siapa?</title><content type='html'>Beberapa saat lalu saya dan beberapa teman menggagas sebuah kelompok diskusi yang membahas masalah-masalah aktual di Indonesia. Salah satu pertanyaan yang mengemuka saat pembentukan kelompok diskusi tersebut adalah 'apakah kita perlu membatasi anggota atau tidak?' Pertanyaan ini sangat dilematis, karena disatu sisi untuk membahas sebuah masalah dengan serius dan mendalam tentu sulit dilakukan dalam forum yang besar dan cair, namun apabila kelompok diskusi tersebut menjadi eksklusif dan kemudian kesannya 'memonopoli' ilmu, rasanya juga tidak etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teman saya yang saat itu dengan sangat bagus mengambarkan dilema tersebut dengan sebuah pertanyaan "manakah yang harus kita pilih, apakah memberikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;banyak manfaat &lt;/span&gt;untuk sedikit orang, ataukah memberikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sedikit manfaat&lt;/span&gt; untuk banyak orang?". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya ilmu selalu dimonopoli kaum elit. Ilmu terkini yang sangat dibutuhkan oleh banyak orang hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, tanpa ada distribusi yang merata. Ilmu kedokteran, hukum dan pembukuan, misalnya. Belum lagi ilmu politik militer, dan tata negara yang hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas saja. Hal ini diperparah saat kita dihadapkan pada sistem dimana untuk mengakses ilmu-ilmu tersebut dibutuhkan biaya tidak sedikit. Kita lihat saja berapa biaya untuk pendidikan tinggi yang menyediakan akses terhadap ilmu-ilmu tersebut di Indonesia, mampukah kaum miskin membayarnya? Oleh karena itu, kaum miskin tetap saja miskin. Mobilisasi vertikal menjadi sangat terbatas karena mahalnya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada masalah kelompok diskusi diatas, pertanyaan kedua adakah jalan tengah untuk masalah ini? Tentu ada, kita bisa mengadakan pembahasan mendalam dan kritis terhadap masalah aktual di Indonesia, kemudian membahasakannya dengan ringan agar bisa dicerna oleh publik. Masalahnya adalah apa media yang akan kita pilih untuk melakukan hal itu? Di era saat ini, tentu media internet adalah media terbaik dan termurah untuk mengkampanyekan gagasan kita. Terus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Semoga 'pengembaraan ini tidak terhenti sebelum dimulai"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo dibawah ini, adalah gedung dimana kita biasa berdiskusi....(spooky bukan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Re7HylbmzPI/AAAAAAAAABs/6DTNRCsxJQA/s1600-h/100_0698.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Re7HylbmzPI/AAAAAAAAABs/6DTNRCsxJQA/s320/100_0698.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5039184704929451250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5700174136777063154?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5700174136777063154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5700174136777063154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/03/ilmu-punya-siapa.html' title='Ilmu punya siapa?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Re7HylbmzPI/AAAAAAAAABs/6DTNRCsxJQA/s72-c/100_0698.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5398238543914743447</id><published>2007-02-24T00:28:00.000+11:00</published><updated>2007-02-24T00:41:47.443+11:00</updated><title type='text'>Intermezzo</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Untuk membuat tulisan yang baik kita harus keluar dari ego kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu entah kata siapa, mungkin kata temenku, atau kata-kata dari sebuah buku yang lupa aku kutip. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini sangat melelahkan. Bahkan beberapa gelas kopi juga tidak sanggup lagi memompa darah agar otak ini tetap bekerja. Musik-musik itu juga terasa membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang berusaha aku bangun, tetap saja 'mbulet'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa proyek lagi running, dan seperti biasa ketika mereka 'crash', aku justru malah 'down' atau 'stuck'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti hidup di dunia paralel, dan aku mulai kabur membedakan satu duniaku dengan duniaku yang lain. Terlalu banyak tuntutan peran dengan sedikit 'resource'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya aku berjanji tidak akan 'curhat'?.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;P.S Jangan salah, tulisan diatas upaya nyicil draft cerita. Kayaknya mesti dibedain mana yang fiksi, mana yang reportase. Mana yang refleksi mana yang inspirasi. Atau biarkan tetap begini? Namanya juga 'bak sampah'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini Foto Untuk Postingan di bawah postingan ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rd7u6Xhv5QI/AAAAAAAAABg/HHDY369kRGY/s1600-h/100_0444.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rd7u6Xhv5QI/AAAAAAAAABg/HHDY369kRGY/s320/100_0444.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5034724119962182914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5398238543914743447?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5398238543914743447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5398238543914743447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/02/intermezzo.html' title='Intermezzo'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/Rd7u6Xhv5QI/AAAAAAAAABg/HHDY369kRGY/s72-c/100_0444.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3429011028703015</id><published>2007-02-24T00:27:00.001+11:00</published><updated>2007-06-21T02:14:57.198+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Pengembara Muda</title><content type='html'>Aku memutuskan untuk berubah arah. Gedung-gedung tinggi, tanda kita sudah mendekati Kota Empat Musim, telah terlihat. Namun kata hati ini mengatakan masih terlalu cepat. Saat orang-orang tergesa-gesa untuk mencapai tujuan, aku memilih untuk bersabar dan menikmati perjalanan. Naluri pengembaraku mengatakan bahwa ada hal yang lebih menarik yang harus aku kunjungi terlebih dahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaklah sebuah desa ditengah gurun, yang konon katanya sering disinggahi oleh pengembara-pengembara tersohor. Aku penasaran gerangan apa yang begitu menarik, sehingga memaksa para pengembara-pengembara itu sekedar mampir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemui warung kopi yang lengang. Siang saat panas terik matahari, adalah bukan waktu yang tepat untuk minum kopi. Namun saat kita tidak punya pilihan menu lain,  apaboleh buat. Bukankah seringkali hidup hanya menawarkan pilihan terbatas bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dahulu sering berpikir bahwa pengembara adalah seorang yang merdeka. Seorang yang bebas berjalan tanpa ada ikatan. Namun akhirnya aku menyadari bahwa kebebasan yang terlalu bebas tersebut justru menjadi bentuk lain dari sebuah belenggu. Ketika kita di tengah gurun tanpa ada hal yang bisa kita kerjakan, kita sama seperti terpenjara di sebuah ruang sempit. Ketika kita di pinggir telaga penuh ikan, tanpa sebuah kail, kita sama seperti di depan restoran tanpa punya uang. Kebebasan yang aku tebus dengan segala pengorbanan ini, ternyata tetap menimbulkan belenggu-belenggu baru. Kapankah manusia bisa bebas kalau begitu? Apakah kita harus menunggu mati dan lepas dari semua urusan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku tersadarkan oleh datangnya pelayan yang membawakan segelas kopi hitam, tanpa gula. Rasa kopi pahit itu tetap terasa nikmat, setelah beberapa hari ini terus menerus hanya minum air tawar. Aku membayangkan betapa bahagianya dulu ketika liburan datang setelah lelahnya bekerja. Namun ketika kini setiap hari adalah liburan, aku kadang menginginkan untuk bekerja sebagai ’liburan’ dari liburan panjang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengamati orang-orang yang berada di warung ini. Seorang tua dengan capingnya, dan dua orang muda yang sedang bercakap-cakap. Aku membayangkan orang tua itu adalah pengembara ’sosial’, begitu aku menamainya. Pengembara sosial adalah orang yang berjalan jauh untuk menemui sanak keluarga atau kawannya. Sedang dua anak muda itu, adalah ’pengembara jatidiri’. Mereka mencari sesuatu yang hilang atau sesuatu yang tidak ada sehingga mereka merasa menjadi ’ada’. Sedang aku, aku bukanlah termasuk dari keduanya. Aku adalah ’pengembara pelarian’, kasta terendah dari para pengembara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ada seorang muda yang memasuki warung kopi tersebut. Sepanjang yang aku ingat, itu adalah kali pertama aku bertemu dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sang Penyeru. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3429011028703015?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3429011028703015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3429011028703015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/02/pengembara-muda.html' title='Pengembara Muda'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7832620108864369683</id><published>2007-02-19T12:47:00.000+11:00</published><updated>2007-06-21T02:14:57.198+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Pertapa Tua</title><content type='html'>Masih dalam suasana yang sama. Api unggun, langit tanpa bintang, dan malam tanpa angin.  Malam yang sama dengan seratus malam lainnya saat aku bertemu dengan pertapa tua itu. Walau dia dalam perwujudan yang beraneka rupa, aku selalu bisa merasakan kehadirannya. Kadang dia menyerupa pada pemuda tampan yang berbicara lancar, atau wanita tua yang mengendong anaknya, atau seorang pengemis di pingir jalan, atau seorang pegkhotbah di pinggir jalan. Namun yang diucapkannya selalu sama, "jalan terang dalam menempuh hidup"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terimalah intan, walaupun itu keluar dari mulut anjing", aku ingat dia pernah berkata demikian, ketika aku bertanya kepadanya kenapa dia selalu berubah penampilan, dan sering kali tampil dalam keadaan yang paling tidak meyakinkan orang untuk mendengar apa yang dia ucapkan. "Orang yang beruntung adalah orang yang tidak memilih-milih dari siapa dia harus mendengar sebuah hikmah, hikmah itu bisa datang dari seorang peminta-minta, dari seorang tua renta, dari seorang dan buruk rupa, dan bahkan dari seekor semut, walau itu bisa saja datang dari seorang pengkhotbah yang berdiri diatas istana atau seorang raja yang bertahta di sebuah istana'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita bertemu, saat kita bertemu", dia menjawab sambil beranjak pergi, setiap kali kutanya kapan kita akan bertemu lagi."Hikmah hanya akan mendatangi orang yang dia kehendaki", begitu aku mendengar ujarnya. "Aku telah menceritakan cerita yang sama ke seribu manusia, namun hanya sedikit dari mereka yang mengerti, hanya sedikit dari mereka yang mau meluangkan waktu untuk berpikir, walau tanda-tanda itu sudah begitu nyata". "Tersebutlah tiga buah kaum, kaum pertama adalah kaum yang dianugerahi semua kelebihan dari dua kaum lainnya. Semua pemimpin sebelumnya lahir dari kaum pertama,mereka adalah orang paling cerdas dan paling kaya. Mereka adalah kaum yang berkuasa dan dilebihkan dari kaum-kaum lainnya. Namun mereka mengingkari kebenaran yang datang kemudian, ketika tahu bahwa pemimpin mereka akan datang dari kaum yang ketiga. Kaum yang miskin, suka perang dan terbelakang. Mereka tidak mau menerima berita itu bukan karena mereka tidak yakin akan kebenaran dari berita tersebut, namun akibat ego mereka terlalu tinggi untuk dipimpin oleh seseorang dari kaum terbelakang.     Mereka tidak menerima kebenaran itu, karena diantara mereka berselisih, bukan berdebat karena mencari kebenaran, namun berdebat karena didasari kedengkian antar mereka sendiri. Padahal mereka telah diberi jalan terang untuk diikuti, yang siapapun mengikuti jalan itu akan selamat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih termangu dalam kekaguman, ketika pertapa tua itu menghentikan ceritanya. Dia memandangku dengan dalam, dan kemudian tersenyum. Kabutpun mulai turun di batas kota yang akan kukunjungi berikutnya. Nyala api ungun telah beranjak pudar, dan fajarpun mulai menyingsing di ufuk sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertapa tua itu mulai beranjak, dan dia memberikan jawaban yang sama ketika aku menanyakan kapan kita akan bertemu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah melewati sebuah negeri yang dikoyak bencana dan satu kaum dengan kaum lainnya suka berselisih, bahkan hanya untuk mempersoalkan masalah-masalah yang sepele. Ego mereka terlalu tinggi untuk mau tunduk dan dipimpin. Mereka saling merasa benar, dan menolak kebenaran yang ada. Bukan karena mereka ragu atau tidak tahu, tetapi mereka merasa malu untuk tunduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru sadar kenapa orang yang memiliki rasa sombong tidak bisa masuk surga, walaupun rasa sombong itu hanya sebesar debu pun. Karena orang sombong sering menolak kebenaran, kalau kebenaran tersebut datang dari orang kecil, rakyat jelata atau siapapun yang dia pandang berada dibawah derajatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengemasi bekalku, dan mulai melanjutkan perjalanku. Tujuanku adalah "Kota Empat Musim", yang bangunan tingginya membelah langit, dan sudah terlihat olehku walau aku masih 6 hari perjalanan menuju kesana. Semoga di kota baru aku mendapat pelajaran lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7832620108864369683?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7832620108864369683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7832620108864369683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/02/pertapa-tua.html' title='Pertapa Tua'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6070424083805473459</id><published>2007-02-14T00:46:00.000+11:00</published><updated>2007-06-21T02:14:57.198+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Motivasi'/><title type='text'>Rumah di Tepi Telaga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RdHQUjcFexI/AAAAAAAAABU/3esbNyttKNg/s1600-h/100_9905.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RdHQUjcFexI/AAAAAAAAABU/3esbNyttKNg/s320/100_9905.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5031031310278556434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seperti impian. Sebuah rumah dengan jendela mengahadap ke pegunungan dan beranda yang tepat di depan telaga. Saat pagi kita bisa menyeduh teh sambil membaca buku kesukaan kita. Tidak perlu memutar lagu dengan alat elektronik yang mahal, karena riuhnya kicau burung dan gemerisiknya daun ditiup angin, telah menjadi simfoni indah pengantar pagi. Menghirup udara bebas, dan melihat air yang diliuk angin. Butuh apa lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar tepat pada waktunya. Berhenti bekerja di tempat yang tidak memperlakukan manusia seperti layaknya, sehingga saya tidak sampai berubah, menjadi seperti mereka. Seperti impian tiap pemuda yang telah lulus dari bangku kuliah, cepat diterima kerja, kalau bisa di kantor bonafid, mendapat gaji tinggi dan bersenang-senang. Namun, ketika telah sampai di titik itu, ternyata bayangan tidaklah seindah kenyataan. Ada harga yang harus dibayar, untuk menebus apa yang kita dapat tersebut. Bukan gelar, dan kepandaian kita, seperti sudah selayaknya, tetapi juga harga diri kita. Kita harus rela diinjak dan dipermalukan, untuk menjaga harga diri dan martabat bos kita. Kita harus rela berkata 'iya' saat hati kita berkata 'tidak'. Kita harus rela mengorbankan waktu untuk seseorang yang kita cintai, demi seseorang yang sebenarnya kita benci, tetapi dialah yang menentukan gaji kita. Kita harus terbiasa untuk tahu diri, walau itu berarti kita menerima untuk diperlakukan tidak adil. Dan kita harus terbiasa tidak merdeka. Karena sesuai kontrak, memang kita harus begitu. Kita harus mau diperlakukan sebagai bukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu saya berhenti. Berhenti tepat waktu, bukan karena tidak kuat, tetapi lebih pada ketakutan untuk menjadi monster seperti mereka. Sebuah manusia, saya sebut seperti itu, karena mereka ada robot hidup tanpa nurani. Mereka seolah ingin membayar kepedihan dan kesakitan yang mereka tanggung untuk sampai diposisi mereka, dengan memperlakukan orang lain, seperti bos mereka yang jahat memperlakukan mereka. Atau paling tidak mereka butuh orang yang disalahkan bukan? Ketika sesuatu tidak berjalan semestinya. Iya. Mungkin kita patut kasihan sebenarnya pada 'monster-monster' itu, yang selalu butuh 'darah kepedihan orang lain' untuk bertahan hidup. Pada bayang kekuasaan mereka. Begitu menyedihkan bukan, orang yang hanya bisa tertawa ketika melihat orang menangis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu aku meninggalkan itu semua. Hanya dengan baju menempel di badan dan pekerjaaan yang cukup untuk makan. Tetapi bukankah itulah yang sebenarnya kita butuhkan bukan? Apa kita harus menjadi kaya, hanya untuk menjadi bahagia. Kalau itu jaminan, mungkin tidak selayaknya saya melepaskan jalan menjadi kaya, dan menempuh sekuat tenaga. Namun, kalau kita harus mengorbankan kebahagian demi menjadi kaya, bukankah kita telah menyalahi esensi menjadi kaya itu sendiri? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada baiknya meniru para pengembara. Mereka berkelana dari satu tempat ke tempat lain, tanpa merasa terikat oleh segala sesuatu. Pencarian mereka itulah tujuan mereka hidup mereka. Saya kemudian mencoba, walaupun tidak sedisiplin mereka. Saya pergi ke suatu tempat, kemudian saya kembali. Mencoba menghilangkan sekat-sekat yang membelenggu kita. Apakah kita ada, karena lingkungan kita. Apakah kalau saya tidak terlahir di jawa, kemudiaan saya tidak menjadi seperti saya sekarang ini? Pengembara bukan berlari dari masa lalu, atau dari daerah yang sering tertimpa bencana. Mereka ingin menjadi manusia seutuhnya, dengan melepaskan semua atribut-atribut yang dilekatkan manusia satu ke manusia lain. Entah itu suku, warna kulit, bentuk hidung dan juga agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku menetap di Rumah kecil di tepi telaga ini. Entah sampai kapan. Bagaimana kita bisa mengukur keabadian dan berkata bahwa 'saya akan disini selamanya', ketika  bahkan kita tidak punya kuasa tentang apa yang terjadi satu detik ke depan. Kita sangat lemah sebenarnya dalam kesombongan kita, dan kita justru menjadi paling kuat dan paling tinggi dalam kepasrahan kita pada-NYA. Untuk itu aku berhenti sejenak, dan menikmati keindahan momen ini. Melewatkan setiap pagi, menyeduh teh dan membaca buku ditemani mentari pagi, tanpa perlu menghiraukan makan apa hari ini. Alam telah memberikan segalanya. Apa yang kita perlukan untuk hidup, hanya keserakahan kitalah yang membuat kita sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pagi itu datang. Sebuah semilir angin yang mengabarkan begitu banyak berita bagiku untuk terus berjalan lagi, atau sekedar sebentar menenggok kampung halaman. Kampung halamanku yang indah permai luluh lantak ditimpa gempa. Ibukota dilanda banjir, dan daerah lainnya justru mengalami kekeringan. Apakah makna pertanda alam kali ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa bersalah, ketika aku dulu bersila, menyeduh teh dan membaca kitab-kitab, sedang negeriku dikoyak bencana. Aku merasa tercela ketika aku diam, padahal aku bisa berbuat sesuatu. Hidup ini tidak hanya perlu sekedar hidup. Namun kita perlu berkarya. Agar kita tidak menjadi robot hidup tak bernurani. Ternyata aku salah. Tidak bekerja juga sama nistanya dengan bekerja tanpa tujuan. Aku masih menghargai pekerjaanku membanting tulang dulu, daripada hanya diam, menjadi pengecut melarikan diri dari masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Suatu ketika sahabat Rasulullah menemukan sebuah oase ditengah gurun, nan sangat damai dan Asri. "Oh, andai aku bisa tinggal disini, dan beribadah pada Allah sepanjang hari, sungguh beruntunglah aku". Nabi bersabda, "Ketahuilah, barang bekerja satu haru untuk mencukupi kebutuhan anak istrimu, jauh lebih berharga dari ibadahmu satu tahun ditempat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6070424083805473459?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6070424083805473459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6070424083805473459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/02/rumah-di-tepi-telaga.html' title='Rumah di Tepi Telaga'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RdHQUjcFexI/AAAAAAAAABU/3esbNyttKNg/s72-c/100_9905.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4025408322738166346</id><published>2007-02-09T22:06:00.000+11:00</published><updated>2007-02-09T22:46:39.991+11:00</updated><title type='text'>Bekerja dan beribadah - Apakah Sama?</title><content type='html'>Brunswick, 9 Februari 2007 -- Benarkah bekerja itu ibadah? Pertanyaan ini berputar terus dikepalaku beberapa hari ini. Badan capek, lemah dan kaku-kaku membuat otak bekerja lambat dan emosi meningkat. Akibatnya sholat maupun mengaji tidak khusuk. Sesampai di rumah pingin sekali langsung mandi dan merebahkan diri di kasur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan sholat malam, bangun tepat waktu saat shubuh saja terasa begitu berat. Apalagi memikirkan puasa senin kamis di tengah musim yang siangnya sangat panjang ini. Serasa begitu beratnya untuk beribadah. Selanjutnya, masihkan bekerja bisa kita sebut ibadah? Bukankah ibadah adalah sebuah ritual yang mendekatkan diri pada pencipta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majikanku di pasar adalah orang Afghanistan. Dia menuntut ilmu di negeri ini 11 tahun yang lalu, dan sekarang dia tidak bisa pulang karena tentara penjajah bercokol di negerinya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rudy, why you don't want to be in the shop in Friday? &lt;/span&gt;. I have to pray, jawabku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;So do I, do you need 8 hours to pray? I pray only 15 minutes, you know?&lt;/span&gt;. Jawabanya dia mengagetkanku. How can you? You must miss the sermon? tanyaku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yes, off course. What can we do? I have a shop which I need to watch. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Then, how do you feel? You know you can't do Jum'at Prayer like that? aku masih saja tidak puas dengan jawabnnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rudy, you know something, I work in this shop for my families, for my five kids. This is fardhu (obligation to a moslem)....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulangnya aku berpikir. Apa memang boleh ya?, mengorbankan kualitas komunikasi kita dengan sesuatu yang sebenarnya tidak urgent-urgent banget. Aku ingat definisi dosa, saat pengajian dulu di kampung. Dosa adalah sesuatu yang ketika kita lakukan hati kita tidak nyaman. Bagitulah cara dia, namun aku berbeda, aku menitipkan toko pada temanku ketika hari Jum'at. Ibadah dan bekerja tidak bersinggungan pada kasus ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masalah juga belum berakhir. Pada hari Sabtu dan Minggu toko baru tutup jam 5, artinya saat pulang ke rumah, sudah mepet banget dengan Ashar. Bolehkah kita menjamak dhuhur dengan ashar pada kasus seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berkembang, masalah hubungan sosial dengan teman-teman 'bekerja'. Mereka sering kali mengundang makan, dan kebanyakan di restoran yang tidak bersertifikat halal. Jadi bagaimana? Seringkali kita dipesankan makanan non daging, seperti ikan atau menu vegetarian plus pesan kepada koki untuk tidak memakai wine dalam makanan yang kita pesan tersebut. Tetapi apakah ini cukup? Temenku bilang, "Mas jangan kaku-kaku to, kalau kaku repot"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat masa-masa bimbang dan ragu ini, aku ingat pengajian-pengajian di kampung dulu. Pengajian-pengajian yang begitu bersahaja namun sangat membekas dan berguna dalam menerangi hari-hariku. "Pas ustadz, saya bekerja di hotel, dan kadang harus menyajikan minuman keras, jadi saya harus bagaiman pak Ustadz?", salah seorang temenku bertanya. "Kamu bisa kerja di tempat lain tidak? Coba cari-cari peluang untuk kerja di tempat lain" jawab pak Ustadz. Inti dari jawaban beliau adalah, tidak bijaksana juga kita langsung keluar dari pekerjaan yang 'samar-samar' sebelum mendapatkan pekerjaan lain yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku kerja dua shift di pasar sebagai buruh dan di kampus sebagai OB (Office Boy). Kadang pengin mengeluh capeknya minta ampun. Tetapi malu. Aku kerja capek, namun tidak secapek tukang koran dipingir-pingir jalan Malioboro. Aku kerja capek, tetapi tidak secapek tukang tambal ban di bantaran kali Code. Aku kerja capek, namun aku masih punya pekerjaan, yang entah berapa ribu orang di Jakarta sana tidak bisa bekerja karena banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyesal banyak melakukan hal yang samar, namun aku bersyukur masih diberi kesadaran, untuk memikirkan hal itu. dan aku yakin Allah akan memberi jalan keluar yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BTW. Kalau jualan baju seksi wanita dosa ga ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4025408322738166346?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4025408322738166346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4025408322738166346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/02/bekerja-dan-beribadah-sebuah-renungan.html' title='Bekerja dan beribadah - Apakah Sama?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5530324530967924840</id><published>2007-01-19T00:30:00.000+11:00</published><updated>2007-01-19T00:48:32.732+11:00</updated><title type='text'>Kaki</title><content type='html'>Bagaimana aku tidak iri. Akulah yang berjuang mati-matian memperoleh trophy itu, tetapi kenapa semua wartawan memotret kepala dan justru tangan yang memperoleh kehormatan untuk menerima trophy itu. Aku telah lama bersabar. Menerima diri selalu dibawah dan menginjak kotoran. Aku tidak pernah komplain. Tempo hari tuanku ke salon. Siapa yang mendapat perawatan ekstra? Justru rambut dan kumis serta jenggot yang tidak penting itu. Mbok ya sekali-kali aku yang berjuang mati-matian ini diberi perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin begitu juga. Ketika masuk supermarket, selalu saja badan yang diberi prioritas. Entah berapa baju yang tuanku miliki, semua bagus-bagus, namun hanya dua celana panjang yang tuanku punyai. Satu jeans belel, satunya celana kargo. Entah sudah berapa lama jeans itu tidak dicuci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi sepatu. Pelindung utamaku. Wajarnya sebagai pelari marathon, tuanku membeli sepatu yang bagus dong. Masak sepatu yang bagus hanya dipakai buat pertandingan saja, sedang untuk latihan hanya memakai sepatu pinjaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku bersyukur ketika aku cedera. Biar tahu rasa tuanku itu. Aku sakit sih, tetapi aku merasa terhormat ketika aku dianggap ada. Sepulang dari 'kecelakaan' itu tuanku memanjakanku, aku dimandiin kain hanggat, kemudian dikasih balsem dan dibalut dengan sayang. Tiap malam aku selalu diurut. Seolah semua perhatian tuanku hanya buatku saja. Tidak ada lagi acara ke salon buat si rambut, atau ke mall buat si badan, apalagi acara manicure buat kuku-kuku genit itu. Yang ada juga, ke mang Ujang si tukang urut urat, dan sekali seumur hidup, aku di pedicure..Benar-benar seperti cerita sengsara membawa nikmat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi beberapa hari lagi aku bakal sembuh, tuanku masih sayang aku ga ya nanti....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Behind the Scene: karena tidak niat ikut tanding bola tetapi karena dipaksa akibat jumlah pemain kurang, engkel kaki kiri cedera, saat mendarat dengan posisi yang tidak selayknya. Sempat mati rasa dan tidak bisa bergerak, namun ternyata tidak parah. Pingin sekali-kali memfoto kaki buat diupload di web...tapi belum sempat euy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi klo masih penasaran lihat kaki bisa lihat &lt;a href="http://mpokb.blogdrive.com/archive/219.html"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;jempol mpok&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://terapikomik.blogdrive.com/archive/84.html"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaki Tampan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5530324530967924840?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5530324530967924840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5530324530967924840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/01/kaki.html' title='Kaki'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1968903698243758465</id><published>2007-01-18T20:37:00.000+11:00</published><updated>2007-01-19T00:30:13.133+11:00</updated><title type='text'>Humor</title><content type='html'>Hidup terasa garing tanpa humor. Setelah berpeluh-peluh dan panas dalam menulis tulisan panjang lebar yang 'sok serius' sejenak kita luangkan waktu ber-ria jenaka. Tetapi mohon jangan marah jika setelah membaca cerita-cerita (yang kebetulan nyata) dibawah ini kemudian tidak tertawa, atau pusing menemukan apa yang lucu, karena kata teman-teman saya justru menjadi lucu ketika tidak berniat untuk melucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oryx: Jan, kamu tuh kelahiran 78 kok masuk kuliah angkatan 97 sih?&lt;br /&gt;Janc: Aku pernah ga naik kelas gyx, waktu kelas satu SD..&lt;br /&gt;Oryx: Kok kamu bego banget sih, kelas satu SD aja ga naik...&lt;br /&gt;Janc: Ga juga, saat itu aku ga bisa bahasa Indonesia, karena aku lahir sampai TK di US&lt;br /&gt;Oryx: gubrak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Zystr: Can you find a man to help me arrange the boxes? they are too heavy for me..&lt;br /&gt;Boss: Oo Zystr...Sorry I cannot do that. By the way, I will train you tomorrow how to get them organized. That's too easy, just like drive a car...&lt;br /&gt;Zystr: That's why..I cannot drive a car..may be you should teach me how to drive first before teach me how to arrange that box&lt;br /&gt;Boss: How stupid you are...don't you find any car in your country to learn how to drive....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BigMan: Hey mate...you have to buy me a beer&lt;br /&gt;Zystr: (Oo my god...what happened...why I so unlucky this morning)eee I don't have any money&lt;br /&gt;BigMan: No..you have too...&lt;br /&gt;Zystr: Really, I don't have any money now..maybe you should talk to my boss&lt;br /&gt;BigMan: No..no...you not your boss I am talking to...&lt;br /&gt;Zystr:...ehhmm...errr..ehhhm (edan kok ada bule suka ngompas ya)&lt;br /&gt;BigMan: Do you know why you have to buy me beer...&lt;br /&gt;Zyster: I'm clueless ...really&lt;br /&gt;BigMan: Because I found one of your leg* yesterday&lt;br /&gt;Zystr: Thanks god...oh..It's very kind of you....but don't tell my boss about that ok...&lt;br /&gt;BigMan: That's why you owe me a beer...&lt;br /&gt;Zystr: I don't know what kind of beer do you like, can I give you some money instead..&lt;br /&gt;BigMan: Nope, there is no money involve here. I want beer..and you have to drink it with me...&lt;br /&gt;Zyster: (oo dasar bule gendeng ga pernah mandi)...ehmm I never drink beer...&lt;br /&gt;BigMan: So you must start then..and you will always remember this as your start drink beer...&lt;br /&gt;Zyster: (ehmm mati aku...dasar bule gendheng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Leg is a metal frame to set up the shop in the market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Zyster once to be speaker in new student's orientation&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I know a student who can save money twice as most people do...as I investigate further, at least he has three reasons for that...firstly he goes to campus by bycycle, secondly, he always brings his lunch from home, and lastly and the most imporatant of all...he has no girlfriend (ha ha..hopefully he didn't read this blog)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Sudah berusaha melucu, kok masih nampak serius ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1968903698243758465?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1968903698243758465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1968903698243758465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/01/humor.html' title='Humor'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-618223207398126895</id><published>2007-01-12T20:32:00.000+11:00</published><updated>2007-04-22T15:35:42.956+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bangsa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Menunggu Orang-orang Pemberani itu Lahir Kembali!</title><content type='html'>Apa yang dibutuhkan seseorang untuk menjadi pahlawan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, bahwa pahlawan lahir bukan karena keinginannya. Seringkali keadaanlah yang memaksa dirinya untuk berjuang lewat senjata, pena atau mulutnya sehingga akhirnya dia menang atau mati. Kemudian keberanian tersebut menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejak langkahnya, mengagungkan kehebatannya dan kemudian orang suka rela menjadi pengikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Rama akan berperang melawan Rahwana andai Shinta tidak ditawan di Alengka? Apakah Pangeran Diponegoro akan berjuang melawan Belanda, jika makam leluhurnya tidak terancam digusur? Ternyata pahlawan adalah manusia biasa juga, yang terkadang membutuhkan alasan-alasan pribadi untuk memicunya mengangkat senjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini kita seakan semakin kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang pahwahan. Tidak seperti di jaman dahulu, begitu banyak laga dan pertempuran untuk membuktikan seberapa keberanian dan kedigdayaan kita. Berapa banyak pahlawan Nasional kita dari perang melawan Belanda? Berapa banyak bintang jasa yang dianugerahkan pada tentara sekutu saat Perang Dunia II? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita harus menunggu sebuah perang lagi untuk munculnya seorang pahlawan yang membebaskan kita dari ancaman musuh-musuh kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah begitu banyak bencana, kasus korupsi yang tidak terpecahkan, skandal pemerintahan yang tak terbongkar, kolusi tingkat tinggi yang tidak tersentuh, tidak cukup memanggil kita untuk menjadi pahlawan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita harus mati untuk bisa dianggap pahlawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita harus menunggu Belanda menyerang lagi untuk bisa menjadi pahlawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kita cukup berani untuk sekedar memerangi Korupsi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipersembahkan buat: Munir, Baharuddin Lopa, Udin dan begitu banyak lainnya yang mati tanpa terdiagnosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan di balik Penulisan Posting ini (behind the scende of this posting):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum meninggalkan tanah air untuk menimba ilmu di benua seberang, Yogyakarta sedang tegang-tegangnya menunggu hajatan rutin Merapi. Tersohorlah seorang nan gagah berani, yang setia pada prinsipnya, dan rela mati untuk menjaga prinsip tersebut, siapa lagi kalau bukan Mbah Maridjan (sedikit biografi beliau dari &lt;a href="http://www.kompas.com/gayahidup/news/0605/13/141719.htm"&gt;Kompas&lt;/a&gt;). Mbah Maridjan adalah satu dari sekian banyak orang yang nan gagah berani yang terlupakan oleh Negeri yang begitu malu pada dirinya itu. Mbah Maridjan masih saja bersikeukeuh bahwa Merapi tidak akan meletus dan menolak untuk mengungsi. Pemerintah yang saat itu masih trauma dengan bencana Aceh, tentu tidak mau mengambil resiko dengan mendengarkan seorang tua seperti Mbah Maridjan, dan lebih mendengarkan hasil analisa para pakar yang menyatakan 'besar kemungkinan Merapi akan meletus hebat sesuai siklus 100 tahunan'. Warga Kinahrejo, tempat Mbah Maridjan tinggal, dan sekitarnya ternyata lebih percaya pada Mbah Maridjan daripada Pemerintah. Sampai-sampai Gubernur Jogjajarta Sri Sultan Hamengkubuwono X turun tanggan menghimbau warga untuk segera turun mengungsi. "Saya ini hanya keset Sri Sultan", berulang kali Mbah Maridjan mengatakan hal tersebut. Ketika media massa menanyakan mengapa beliau tetap bersikukuh tidak mau mengungsi ketika Sri Sultan telah memerintahkan, beliau menjawab "beliau perintah khan sebagai Gubernur, bukan sebagai Sri Sultan". Konon katanya Sri Sultan diam tidak bisa berkomentar apa-apa ketika Mbah Maridjan berkata demikian. Sebagai Sultan tentu dia tahu bahwa tugas Mbah Maridjan adalah menjaga keutuhan peninnggalan Keraton di sekitaran kawah Merapi(terutama petilasan atau tempat bertapa Sri Sultan IX) dan sebagai seseorang yang diserahi tugas tersebut langsung oleh Sri Sultan IX, maka Mbah Maridjan akan tetap menjaganya walau dengan resiko kehilangan nyawanya. Atas kemurahan Allah, Merapi tidak meletus sampai sekarang. Mbah Maridjan dan warga sekitaran kawah Merapi telah bertahan tinggal disitu sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Mereka mempunya kearifan lokal (lokal genius) yang sulit dikomunikasikan keorang luar karena keterbatasan wahana. Mereka telah bersahabat dengan gunung sejak mereka lahir. Mereka tahu kapan Merapi sedang batuk, pilek atau mual akan muntah. Andai saja mereka memiliki kemampuan menjelaskan fenomena alam dengan bahasa-bahasa saintifik nan sistematis tentu orang banyak akan mengganggap mereka 'profesor' atau 'pakar'. Namun sungguh, keberanian dia untuk berkata 'tidak' terhadap perintah penguasa berdasar keyakinan dan prinsip yang telah mereka pegang teguh sejak lama, sungguh berkesan di benak saya. Saat bangsa ini malu atas berbagai bencana dan kebobrokan disana sini, masih saja ada orang-orang yang bisa kita harapkan. Mereka adalah orang-orang yang menjaga prinsip dengan teguh. Mereka adalah pahlawan, bukankah salah satu Jihad terbesar adalah ketika kita berani berkata 'tidak' pada tiran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalananku kemudian juga mempertemukanku dengan para pemberani-pemberani lainnya. Mereka memilih jalannya, jauh berbeda dengan jalan orang-orang kebanyakan, dengan resiko dicap sebagai pengkhianat atau pendosa. "Saya ini pelacur, saya hanya mengerjakan sesuatu sesuai bayaran". Jebolan Ngruki ini pernah sekamar dengan para pelaku bom Bali, dan selanjutnya lewat perjalanan yang panjang beliau menjadi salah satu koresponden Washington Post (&lt;a href="http://www.google.com.au/search?hl=en&amp;newwindow=1&amp;safe=off&amp;q=noor+huda+ismail&amp;btnG=Search&amp;meta="&gt;sedikit background beliau via google&lt;/a&gt;). "...hanya dua orang yang pernah tulisannya dimuat di Washington Post, pertama Gus Dur, kedua adalah saya.." Pada sebuah sore yang cerah saya berkesempatan untuk bercakap-cakap dengan beliau tentang banyak hal, sayangnya ada satu pertanyaan yang tidak sempat terucap dari mulut saya ini.." apa yang sebenarnya anda cari?". Mungkin sejarah nanti akan membuktikan apakah pengelana muda ini benar-benar seorang pelacur atau seorang pemberani yang menyamar sebagai pelacur untuk sebuah tujuan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan 2: Satu wawancara via email, tidak terbalas sampai tulisan ini ditayangkan. Mungkin Orang Pemberani satu ini sedang sibuk, 'bertempur di garis depan laga"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-618223207398126895?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/618223207398126895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/618223207398126895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/01/menunggu-orang-orang-pemberani-itu.html' title='Menunggu Orang-orang Pemberani itu Lahir Kembali!'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3211651530860666732</id><published>2007-01-06T00:18:00.000+11:00</published><updated>2007-04-22T15:33:41.848+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Saya dan Sejarah Blog Ini</title><content type='html'>Setelah melewatkan beberapa saat untuk menulis secara teratur, saya menyadari bahwa kualitas tulisan saya semakin hari, semakin buruk saja. Penyebab utamanya, menurut saya, adalah hilangnya gairah untuk menulis. Saya dahulu biasa membuat draft tulisan untuk blog ini sampai larut malam, mengubahnya berkali-kali dan membacanya berulang-ulang sebelum saya posting. Namun sekarang tidak lagi, saya menulisnya langsung di dashboard blogger tanpa melalui proses editing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada baiknya saya sedikit menuliskan sejarah blog ini. Siapa tahu hal itu bisa membangkitkan ghairah saya untuk menulis seperti dulu (atau minimal membangkitkan ghairah menulis teman-teman saya sesama blogger, yang belakangan ini kelihatannya sudah pada lemah semangat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Memulai Blog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya memulai blog ini tanpa sebuah visi yang jelas. Awalnya hanya untuk mewujudkan keinginan untuk mempunyai sebuah web yang bisa diakses banyak orang. Saya memulainya tahun Mei 2003, dan berhenti selama setahun karena saya tidak tahu bagaimana cara mengembangkannya. Kemudian tahun 2004 saya berkenalan dengan seorang teman via Friendster, yang kemudian mengenalkan saya pada blog Enda Nasution, dan web-web lain yang mempermudah kita mempercantik dan mempercanggih blog. Saya masih ingat betapa senangnya ketika email saya dibalas oleh Bapak Blog Indonesia tersebut dan belau singgah di blog ini. Kemudian saya juga berkenalan dengan Ratu Blogfam (yang kemudian menjadi pendorong utama saya untuk tetap menulis)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masa Bulan Madu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Fase kedua dari blog ini pun dimulai. Tahun 2004 adalah tahun saya paling aktif nge-blog. Hampir dua hari sekali saya meng-update blog ini, dengan tema-tema curhat. Tema seperti ini, tentu enak dibaca dan menarik diikuti, wajar saat itu blog ini sering dikunjungi orang (terutama teman-teman dekat). Kegiatan nge-blog juga lebih menyenangkan karena saya dapat banyak teman baru disini. Saya ikut komunitas mereka dan sesekali ikut gathering. Lewat teman-teman tersebut (yang biasanya rajin mendatangi blog ini) saya seolah mempunyai teman akrab yang mendengarkan segala keluh kesah saya (apalagi tahun 2004 adalah tahun yang sangat berat saat itu). Hal ini sampai-sampai mengundang 'kecemburuan' dari teman-teman dekat saya 'sesungguhnya', karena kadang mereka tahu sesuatu justru dari orang lain yang membaca blog saya, dari pada mendengar dari mulut saya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masa Kebosanan&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Tahun 2005 adalah tahun kebosanan. Segala sesuatu yang dilakukan tanpa arah (visi) yang jelas, akan cepat sampai pada titik kebosanan. Kebosanan saya semakin menjadi-jadi karena saya lama semakin kehilangan tema untuk ditulis, apalagi teman-teman saya sudah rontok satu per satu (walaupun banyak pula teman yang baru mulai nge-blog ditahun ini). Sudah beberapa kali ada niatan untuk mensudahi blog ini. Namun sayang juga rasanya, karena blog ini bagaimanapun juga telah menjadi 'teman yang baik' selama masa-masa kelam saya dulu (Bukankah seperti habis manis sepah dibuang, apabila setelah masa damai lalu saya membunuh blog ini?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Tidak Jelas&lt;br /&gt;Tahun 2006 seperti saya tulis direfleksi akhir tahun, adalah masa yang tidak jelas. Abstrak. Begitu juga yang terjadi di blog ini. Postingannya semakin tidak keruan. Kalau diibaratkan baju, bukan hanya dijahit tanpa pola, tetapi juga penuh tambal sulam disana sini. Blog ini benar-benar sekarat dan perlu diamputasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2007?&lt;br /&gt;Saya tidak tahu bakal jadi apa blog ini ditahun ini. Namun yang jelas ada pergeseran besar yang telah terjadi, kurang lebih sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dari Narsisme menjadi Reportase. &lt;br /&gt;Benar-benar perubahan yang sangat fundamental. Di tahun-tahun sebelumnya blog ini penuh dengan cerita pengalaman pribadi,photo-photo pribadi dan tetek bengek lain yang bersifat -self story-. Nampaknya hal itu akan berubah, saya saat ini lebih suka mengambil gambar orang lain, menceritakan pengalaman orang-orang yang saya kenal dan mencuplik perbincangan atau ceramah orang lain. Focus blog ini akan bergeser dari rudyland ke orang-orang 'sekitar rudyland' dan mungkin selanjutkan bakal lebih mengglobal lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dari Rindu Komen menjadi Persetan dengan Komen&lt;br /&gt;Pingin ketawa lihat perseteruan antara Blog Seleb dan Gerakan No Komen. Saya ingat waktu awal-awal dulu, betapa senangnya saya mendapatkan komen, dan hal itu paling tidak masih saya rasakan sampai tahun kemarin. Mungkin hal itulah salah satu penyebab utama hilangnya ghairah saya menulis, selain saya tidak punya arah yang jelas dalam menulis. Menulis karena berharap dikomen orang lain (apalagi orang yang tidak kita kenal), menurut saya seperti buruh yang minta upah. Menurut saya agar kita bertahan lama dalam dunia menulis ini, maka kita harus bisa menjadikan menulis untuk menulis. Menulis bukan karena uang, bukan karena ketenaran, bukan karena kredibilitas, tetapi lebih daripada itu, menulis adalah untuk menulis. Menulis adalah masalah ekspresi hati dan pikiran. Seperti buang angin, kalau kita tahan-tahan sakit badan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dari tidak terstruktur menjadi 'lebih tidak terstruktur'&lt;br /&gt;Saya ibaratkan blog ini bak sampah. Kalau orang sampai disini dan membaca isinya seperti sampah, lha memang blog ini dibuat untuk itu. Seperti bak sampah yang isinya macem-macem, dari yang baunya dah busuk alias basi sampai barang yang nampaknya baru dan masih bisa digunakan. Mencoba mengaitkan blog ini dengan pencapaian diri nampaknya terlalu naif. Masih banyak agenda yang harus saya selesaikan dengan serius. Masih banyak produk tulisan yang saya harus benar-benar hati-hati sebelum mem-publikasikannya. Untuk itu ijinkan, di blog ini saya menulis apa yang saya mau tulis, tanpa terlalu panjang dan bertele-tele dalam memikirkan "Apakah tulisan ini bagus tidak? Menarik tidak? Menggundang komen atau tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm, sudah jam 1. malam. Cukup untuk latihan hari ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Sedikit tips kalau kita sedang tidak punya ide untuk menulis. Luangkan sedikit waktu untuk menulis tentang hal itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3211651530860666732?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3211651530860666732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3211651530860666732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/01/saya-dan-sejarah-blog-ini.html' title='Saya dan Sejarah Blog Ini'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6057291789447039933</id><published>2007-01-02T23:27:00.000+11:00</published><updated>2007-01-02T23:48:18.095+11:00</updated><title type='text'>Barbeque-an</title><content type='html'>Hoby baru di negeri bule, barbequean rame-rame. Secara daging disini murah, dan banyak tempat barbeque gratis tersedia di taman-taman, acara ini jadi pilihan untuk refreshing  yang murah meriah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BBQ an di Albert Park&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.flickr.com/photos/84487460@N00/342351253/" title="Photo Sharing"&gt;&lt;img src="http://farm1.static.flickr.com/125/342351253_bf97599da0_b.jpg" width="184" height="148" alt="100_0307" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lengkap dengan foto-foto ada &lt;a href="http://www.flickr.com/photos/84487460@N00/?saved=1"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; (he he nyoba bikin  pajangan photo bernarasi dengan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Flickr&lt;/span&gt;*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada BBQ yang lebih seru yaitu di BBQ di Williamstown (karena harus bertarung dengan badai dan hujan es), tetapi tunggu dulu tanggal mainnya untuk ditayangkan disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;a href="http://www.flickr.com"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Flickr&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sekarang sudah diakuisisi Yahoo, sehingga kita bisa Login memakai account Yahoo kita. Buat Nge-blog dengan mode "Photo Bernarasi" tools ini sangat recommended. Biasanya Rudyland memakai fasilitas hosting photo gratis di &lt;a href="http://www.photobucket.com"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Photobucket&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, tetapi dengan adanya Flickr pilihannya bisa bervariasi. Terimakasih untuk Blognya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://deadtimethemovie.blogspot.com/"&gt;Joko Anwar&lt;/a&gt;(&lt;/span&gt;buat film terbarunya -Dead Time) atas inspirasinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6057291789447039933?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6057291789447039933'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6057291789447039933'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/01/barbeque.html' title='Barbeque-an'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm1.static.flickr.com/125/342351253_bf97599da0_t.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5337433325894247040</id><published>2007-01-01T23:01:00.000+11:00</published><updated>2007-01-01T23:24:21.966+11:00</updated><title type='text'>Gadget Baru = Tantangan Baru</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/WritingScript-resize.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;200 posting sudah terpampang di blog ini sejak tahun 2003. Tidak terhitung sudah berapa kali kulminasi kebosanan dan kemandegan ide itu hinggap hingga beberapa kali muncul keinginan untuk mensudahi masa tayang blog ini. Tetapi selalu saja ketika titik itu sampai ada saja tantangan-tantangan baru yang membuat blog ini tetap relevan untuk dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tantangan itu muncul dipicu oleh beberapa gadget yang melengkapi Rudyland Squad. Bukan gadget yang canggih2 amat, hanya printer multifungsi Pixma MP160, sebuah alat sorot dan voice recorder made in China yang murah meriah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadget-gadget tersebut membuat setiap acara yang diliput oleh Rudyland bisa terkover dengan lebih lengkap dan hidup. Namun alat sorot tentu beda dengan alat potret. Butuh imajinasi lebih untuk bisa merekam dan merangkum sebuah peristiwa sehingga bisa menjadi gambar yang hidup dan utuh. Untuk itu, perlu ada rancangan jalinan cerita terlebih dahulu, sebelum kita sorot sana-sorot-sini. Masalahnya membuat jalinan cerita gambar hidup, ternyata berbeda dengan membuat jalinan cerita tertulis. Ada teknik-teknik khusus yang perlu dipelajari. Gambar diatas adalah salah satu halaman majalah Mag edisi Dec/Jan 07, tentang tips singkat untuk membuat Scriptwriter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakalan jadi jalan panjang yang menyenangkan kayaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dukungan Digital Voice Recorder AerPro made in China ternyata cukup solid untuk merekam khutbah Iedul Adha, sehingga acara salin menyalin khutbah bisa lebih rileks. Saat acara berlangsung, yang dulunya selalu sibut membuat note, sekarang bisa rileks sorot sana-sorot-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehmm tinggal masalah meng-upload ke YouTube aja nih...(selain gadget baru, kayaknya perlu mikirin bandwith nih. Selama masih pakai dial up..kayaknya susah deh)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5337433325894247040?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5337433325894247040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5337433325894247040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2007/01/gadget-baru-tantangan-baru.html' title='Gadget Baru = Tantangan Baru'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3164340644836537710</id><published>2006-12-30T21:54:00.000+11:00</published><updated>2006-12-30T22:35:52.796+11:00</updated><title type='text'>Refleksi Akhir Tahun 2006</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendahuluan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebenarnya tulisan ini kalau saya ibaratkan bagai telor setengah matang. Belum selayaknya dikeluarkan, tetapi karena 'waktu' menyatakan demikian, maka seadanya kami hidangkan kehadapan saudara-saudara sekalian. Bagi yang tidak suka telor setengah matang, mohon maaf sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat sulit merangkum berbagai warna yang tertoreh ditahun 2006. Begitu kontras dan beragam. Kalau dilukiskan mungkin akan muncul sebuah lukisan abstrak yang penuh warna-warna kelam dengan warna-warna cerah disana sini. Tahun 2006 mungkin akan diingat sebagai tahun kelam bagi sebagian besar warga Jogja yang tertimpa bencana gempa dan sepanjang tahun ketakutan akan bahaya letusan gunung merapi. Tetapi warga Jogja tidaklah sendiri, warga-warga di penjuru tanah air lainnya juga kurang lebih merasakan hal yang sama. Mulai dari bencana banjir, tanah lonsor, angin ribut, kekeringan sampai dengan lumpur panas. Layak tahun ini kita gelari Tahun Bencana II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan-kesedihan tersebut berbanding terbalik dengan banyaknya nikmat yang saya dan istri rasakan. Tahun ini adalah tahun pertama kami menginjakkan kaki di negeri orang untuk menuntut ilmu, dan tahun ini pula kami mendapakan amanah dari Allah yang harus kita jaga dengan berhati-hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saat menulis refleksi akhir tahun ini, sangat sulit bagi saya untuk menuangkannya kedalam kata-kata. Apa yang harus saya tulis? Pertanyaan ini telah berkecamuk dalam benak beberapa hari terakhir. Setelah beberapa kali ganti tema, dan berusaha mencari bahan kesana-kesini, akhirnya tetap saja, tidak ada sebuah tulisan yang 'cukup mewakili' untuk diposting disini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, daripada tidak makan telor, lebih baik makan telor setengah matang.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun ini ditutup dengan sebuah hari besar umat Islam yaitu Iedul Adha atau Hari Raya Qurban. Setelah melaksanakannya dari tahun ke tahun, dengan rutinitas hampir sama yaitu datang ke lapangan, sholat ied, ke masjid membantu menyembelih hewan qurban, dan pulang untuk makan sate bersama, tahun ini Iedul Adha saya rayakan dengan cara yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iedul Adha tahun ini benar-benar berkesan dan penuh perjuangan. Seolah  kita benar-benar diuji untuk 'berkorban'. Mulai dari sulitnya mencari tempat, karena sedang libur panjang, sampai minimnya sumberdaya manusia, karena banyak yang sedang liburan. Lewat proses yang panjang, akhirnya perhelatan tersebut bisa kita laksanakan. Walau tidak seramai Iedul Fitri atau Iedul Adha tahun-tahun sebelumnya, tetapi paling tidak kita bisa melaksanakan sholat. Kadang hal itu dirasa sebagai sebuah kemewahan, saat kita tinggal di negara yang mayoritasnya bukan muslim. Sesuatu yang biasa, misalnya minum dawet, kalau kita lakukan di padang pasir akan menjadi sesuatu yang istimewa bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelum Iedul Adha, saya sempat berpikir, dari sebegitu banyak peristiwa mengapa Allah memilihkan episode bapak anak Ibrahim dan Ismail sebagai salah satu dari dua hari besar Islam. Apa pelajaran yang begitu istimewa sampai-sampai Allah memilihkan peristiwa ini untuk diperingati oleh milyaran umat Islam setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba mencari beberapa referensi, dan kurang lebih hasil sementara yang saya temukan adalah "semangat berkorban" dan "berserah diri". Dua hal tersebut kurang lebih menjadi batu penjuru bagi keislaman seseorang. Semangat berkorban berarti kerelaan kita untuk melakukan sesuatu bagi yang kita cintai/yakini. Sedang berserah diri adalah menyerahkan segala urusan kepada yang kita cintai/yakini, dengan dasar bahwa Dia tahu yang lebih baik dan tidak mungkin berlaku kejam kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah mungkin Allah tega menyuruh Ibrahim menyembelih putra kesayangannya Ismail. Apakah Tuhan sedemikian kejam memerintahkan kita untuk membunuh untuk membuktikan ketundukkan kita? Allah sering kali nampak berlaku kejam, dengan memberikan ancaman hukuman yang keras (neraka) atau aturan yang ketat (tidak boleh ini, tidak boleh itu), dengan dasar kecintaan. Mungkinkah Allah menimpakan sesuatu yang melebihi kekuatan kita? Mungkinkah Allah akan membiarkan kita menderita tanpa pertolonggaNya? Ketika kita percaya dengan sepenuh-penuhnya percaya, maka paling tidak kita telah tahu esensi dari "semangat berkorban", yaitu melakukan sesuatu untuk yang kita cintai sepenuh hati, dengan keyakinan bahwa ada imbalan yang jauh lebih baik dari yang kita korbankan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Ismail dalam kasus Nabi Ibrahim, mungkin bukan anak kita. Tetapi Ismail-ismail lain yang terwujud dalam sesuatu yang sangat kita cintai, entah itu istri, orang tua, karir, pekerjaan, harta ataupu hoby. Ketika kita harus meninggalkan itu semua untuk sesuatu yang harusnya kita cintai lebih dari segalanya, bagaimana perasaan kita. Apakah kita ragu? Apakah kita merasa sayang? dan apakah kita percaya bahwa Allah tidaklah kejam? dan apakah kita percaya bahwa Allah akan mengganti sesuatu yang hilang dari kita dengan sesuatu yang lebih baik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu berkorban dengan ikhlas dan berserah diri kemudian sangatlah berat untuk kasus-kasus diatas. Maka kita diuji sedikit demi sedikit, dan diberi latihan setiap tahun. Kita diminta untuk menyisihkan sedikit harta kita untuk membeli kambing atau patungan membeli sapi, kemudian kita sembelih dan dagingnya kita bagi-bagikan. Tentu ini latihan yang mudah bagi yang telah terbiasa, namun dirasa sangat berat bagi yang memulainya. Namun Allah sayang sama kita, sehingga setiap tahun kita diberi pelajaran yang sama, kalau tahun ini kita tidak paham akan pelajaran tersebut, mungkin tahun depan kita akan mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hati kita telah lapang, berbagai persoalan yang menghimpit kita, akan bisa kita lalui dengan mudah, dengan keyakinan bahwa Allah tidaklah mungkin berlaku kejam bagi hambanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran tersebut seolah terus beresonansi dikepala ini, dengan rentetan peristiwa demi peristiwa yang terjadi ditahun 2006. Mengapa ada gempa? Mengapa ada lumpur panas? mengapa ada angin ribut dan kekeringan. Kita hati kita telah siap, hati kitalah yang jadi alam semesta, dan sekeliling kita akan mengikutinya. Saat hati kita damai, entah ada taufan badai disekeliling kita, tetap kedamaian tersebut tidak akan terenggut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur tahun ini masih diberi kesempatan untuk melaksanakan Sholat Iedul Adha, walaupun dengan segala keterbatasannya. Masih diberi sedikit rejeki untuk ikut berkorban ditanah air. Masih diberi tenaga untuk disumbangkan ke acara-acara umat. Masih diberi cukup waktu untuk menuliskan 'beberapa catatan' ini, dan berbagi dengan anda semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya apa makna tahun ini bagi anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3164340644836537710?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3164340644836537710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3164340644836537710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/12/refleksi-akhir-tahun-2006.html' title='Refleksi Akhir Tahun 2006'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8844734402958468825</id><published>2006-12-29T22:47:00.000+11:00</published><updated>2006-12-30T23:25:35.850+11:00</updated><title type='text'>Being A Global Citizen</title><content type='html'>What's make you become a global citizen? Is it a credit card which enable you to buy in any shop around the globe?, or private jet which will take you anywhere you want? or sophisticated communication gadget so you can be reached anytime and anywhere? Or is it the same taste of food with the majority of people of the world, or it is just simply that you wear the same dress like people in other part of the world do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On my view, it is more simple even. I think equality of information is more important than above facility or fashion to become a global citizen. Lets say you have enough credit limit to buy any product in the world but you do not know about what kind of produc you need to buy, or where and how to buy it , then such privilege is less useful. Lets make another example, although we have a sophisticated communication tool to talk to any people around the world, it will become useless if we do not know their language, what topic or relevant issues should we discuss with them, or we do not know about their language, or social life, or other background information, which need to be understand first to have a nice conversation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So I start my effort to become a global citizen by subscribe to TIME Magazine and read one or two headlines at Yahoonews. Besides I am also a fanatic reader or NYTimes of Thomas L Friedman coulumn, before it become pay-for-read (sic!) and washington post articles. I really need to know what other people in the world think that matter, what thing amused them and how they express their feeling and opinion, so I can easily minggle around them. It is sound like wishful thinking, isn't it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However before this journey gone too far, what is so important to become a global citizen anyway?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8844734402958468825?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8844734402958468825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8844734402958468825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/12/being-global-citizen.html' title='Being A Global Citizen'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6326124374482375246</id><published>2006-12-29T22:41:00.000+11:00</published><updated>2006-12-30T22:45:13.973+11:00</updated><title type='text'>Pelabuhan Tua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RZZQ_6IMpiI/AAAAAAAAABI/4fxr-CUn7fY/s1600-h/Image107.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RZZQ_6IMpiI/AAAAAAAAABI/4fxr-CUn7fY/s400/Image107.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5014284293989246498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Postinganya menyusul, belum sempat diketik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6326124374482375246?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6326124374482375246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6326124374482375246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/12/pelabuhan-tua.html' title='Pelabuhan Tua'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RZZQ_6IMpiI/AAAAAAAAABI/4fxr-CUn7fY/s72-c/Image107.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-9122240106030960606</id><published>2006-12-27T21:32:00.000+11:00</published><updated>2006-12-27T21:48:46.953+11:00</updated><title type='text'>Membumikan Al-Qur'an</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Membumikan Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Eksistensi Masyarakat Muslim ditengah Masyarakat Non Muslim&lt;br /&gt;Ceramah Quraish Shihab 11 Desember 2006&lt;br /&gt;Gedung Student Center, Monash University&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RZJOgqIMphI/AAAAAAAAAA8/dxo6AiNJcVE/s1600-h/Image042.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RZJOgqIMphI/AAAAAAAAAA8/dxo6AiNJcVE/s320/Image042.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5013155658188236306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/03/08/0040.html"&gt;Biodata Quraish Shihab&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Publish&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukadimah: Islam Selalu berpijak pada realitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa memberikan tuntunan kalau kita tidak bisa berpijak dibumi. Bumi itu luas. Daerah satu bisa sangat berlainan dengan daerah lainnya. Oleh karena itu dalam Islam, ada ketentuan (walaupun tidak tertulis) bahwah agama bisa mengembalikan suatu urusan pada adat istiadat lokal. Misalnya Perkawinan. Dalam Islam ada keharusan seorang calon suami untuk memberikan mas kawin (mahar) kepada calon istri. Tetapi dalam Islam tidak disebutkan berapa besarnya mas kawin tersebut. Besar mas kawin biasanya lebih ditentukan oleh kebiasaan masyarakat setempat. (rudyland: sebagai contoh mas kawin Nabi Muhammad waktu menikahi Siti Khatijah adalah 400 ekor onta, setara kurang lebih 1.6 milyar kalau dikurskan sekarang. Apabila ini diterapkan secara umum, tentu sangat memberatkan sebagian besar pemuda)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, bisa jadi ada beberapa tuntunan Islam yang diterapkan berbeda di tempat yang berbeda. Apa yang diterapkan di Saudi Arabia, belum tentu diterapkan di Indonesia, begitu pula sebaliknya (rudyland: misalnya kebiasaan meminta/memberi maaf pada waktu Iedul Fitri, bisa jadi hanya ditemukan di Indonesia, dan tidak ditemukan di tempat lain). Hal ini terjadi karena adat masing-masing tempat berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntunan Islam yang diterapkan dalam masa tertentu belum tentu berlaku di masa yang berbeda. Misalnya 20 tahun lalu, perempuan tidak boleh memakai celana panjang (harus memakai rok) dan para pria tidak boleh memakai dasi (karena pada waktu itu dianggap kebarat-baratan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, di Eropa sangatlah mahal untuk membeli rumah. Biasanya orang akan meminjam bank untuk membeli rumah tersebut kemudian mengembalikannya dengan cicilan setiap bulannya (mortgage). Saat itu semua bank memungut bunga, padahal bunga bank adalah riba yang haram dalam Islam. Bolehkan umat Islam menggunakan jasa pinjaman bank untuk membeli rumah? Mayoritas ulama membolehkan umat Islam melakukan praktek tersebut, karena praktek lain yang sesuai dengan syariat Islam belumlah ada. (saat itu Bank Syari’ah belumlah sebanyak sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hal-hal prinsipil yang perlu dibedakan dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ada Qur’anic Teaching dan ada Islamic Teaching&lt;br /&gt;Qur’anic Teaching adalah apa yang tersurat dalam Al-Qur’an. Sedang Islamic Teaching adalah penjabaran apa yang tersurat dalam Al-Qur’an tersebut. Sebagai muslim kita harus menerima apa yang tersurat dalam Al-Qur’an 100% tanpa terkecuali. Namun penjabaran kandungan Al-Qur’an yang dilakukan oleh ulama setinggi apapun ilmunya adalah produk manusia, yang boleh kita tidak setujui. Oleh karenanya wajar antara ulama satu dan ulama lain sering berbeda pendapat, dalam menafsirkan satu hal. Salah satu dari keduanya bisa benar sedang yang lainnya salah, atau kedua-duanya benar atau ada kemungkinan juga kedua-keduanya salah.Oleh karena itu kewajiban setiap muslim untuk selalu menuntut dan mengkaji ilmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga hal cara menerima kebenaran:&lt;br /&gt;1. Rasional&lt;br /&gt;2. Irasional&lt;br /&gt;3. Suprarasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh bendera Republik Indonesia adalah Merah Putih. Semua warga negara Indonesia pasti sepakat akan hal itu, tetapi ketika sampai pada pertanyaan apa makna “merah dan putih”. Maka akan muncul banyak intepretasi. Walaupun berbeda-beda bisa jadi mereka semua benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ada pokok yang boleh berubah dan ada pokok yang tidak boleh berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam ada sesuatu yang harus kita terima apa adanya yaitu Sistem Ibadah (dalam hal ini adalah ibadah murni atau Ibadah Mahdoh). Mengapa Sholat Subuh 2 rakaat? Atau mengapa kita harus melaksanakan sholat Maghrib setelah matahari terbenam. Semua harus kita terima apa adanya. Kalau kita bisa mendapatkan logika dibalik perintah tersebut, syukur Alhamdulillah, tetapi kalaupun kita tidak mendapatkan logika dari perintah tersebut, kita tetap wajib melaksanakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah ibadah haji. Ibadah haji dilaksanakan pada Yaumul Arafah yang jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah.Hal ini tidak bisa kita ubah, semua muslim sepakat akan hal itu. Tetapi bagaimana menentukan 9 Dzulhijjah, apakah memakai metode hisab atau rukyat? atau metode gabungan keduanya, masih menyisakan ruang untuk berbeda. Keduanya bisa betul semua, atau benar salah satu. Tinggal keyakinan kita untuk mengikuti mana yang kita yakini benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Ada ajaran yang bersifat universal dan ada yang bersifat lokal&lt;br /&gt;d. Ada Islam Ajaran dan ada Islam Politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa tujuan dari kehadiran Agama?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama itu pada dasarnya adalah interaksi. Semakin baik interaksi sesorang dengan Tuhannya dan sesama (hablum minnallah dan hablum minnannas), semakin baik agama seseorang tersebut. Hubungan dengan sesama mencakup juga hubungan dengan non muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Nabi diutus untuk memperbaiki akhlak. Akhlak sangat erat hubungannya dengan hubungan kita dengan orang lain. Konsep dasar dari hubungan sesama manusia adalah perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Apabila kita ingin dihormati, maka hormati orang lain. Nabi Muhammad pernah ditanya sahabatnya ketika dia berdiri saat ada iring-iringan orang mengantar jenazah orang Yahudi. Nabi menjawab bahwa kita wajib menghormati sesama manusia baik saat dia hidup maupun saat dia mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quraish Shihab pernah diprotes oleh seorang pendeta dalam sebuah pertemuan. Mengapa kami disebut sebagai orang kafir? Quraish Shihab menjawab „Jangan tersinggung kalau disebut kafir, karena ada orang Islam juga yang kafir“. Kafir artinya adalah orang yang tidak melaksanakan nilai-nilai yang baik, oleh karena itu orang Islam yang kikir juga disebut kafir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an membedakan antara penyembah berhala dengan ahli kitab sejak semula. Oleh karena itu dalam Islam disebutkan lelaki mukmin boleh mengawini wanita ahli kitab (tentu wanita ahli kitab yang bisa menjaga kehormatannya). Mengapa sebaliknya tidak boleh? Hal ini kembali lagi pada kepercayaan. Seorang lelaki adalah pemimpin keluarga, sehingga mudah baginya untuk tetap pada agamanya, namun tidak sebaliknya. Tetapi sekarang apa hal ini berlaku? Apa wanita tetap dalam posisi lemah dalam keluarga? Lelaki dan wanita sekarang hampir setara dalam segala segi, termasuk dalam mengatur keluarga, oleh karenanya perkawinan campur nantinya akan berakibat buruk bagi anak, karena kedua orang tuanya punya kepentingan agar anaknya mengikuti keyakinan mereka masing-masing. Selain itu ada aspek-aspek sosial lain yang akan membuat perkawinan campur sulit untuk membuat sebuah keluarga yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya adalah kita sebagai umat Islam wajib punya keyakinan yang kuat akan kebenaran agama kita. Namun keyakinan tersebut adalah keyakinan kuat dalam hati kita, tidak perlu kita pamerkan atau paksakan kepada orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Sebagai contoh ketika Nabi Muhammad mengadakan perjanjian Hudaibyah dengan masyarakat kafir Quraisy, mereka menolak perjanjian tersebut diawali dengan „atas nama Allah“ dan julukan Muhammad Rasullullah, Nabi kemudian mengakomodasi keberatan tersebut, walau dengan tentangan dari para sahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Islam menciptakan kedamaian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak melarang kita berbuat baik, dan memberikan sebagian harta kepada umat non muslim, kecuali jika mereka memerngi dan mengusir kaum muslim serta merampas harta kaum muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita wajib berbuat adil. Adil artinya menuntut semua hal kita nda memberikan semua hak orang lain. Kita wajib berbuat adil, termasuk dengan musuh kita. Berbuat adil tidak selalu sama dengan berbuat adil. Berbuat baik artinya menuntut sebagian hak kita dan memberikan lebih besar daripada hak seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Yahudi pernah mengucapkan salam (yang dipelesetkan) kepada Aisyah Assammu’alaikum yang artinya „matilah kamu“, kemudian Aisyah menjawab wa’assammu’alaikum, wa laknatullah „ dan semoga kamu mati juga dan Allah melaknatmu“, ketika Nabi Muhammad SAW mendengar itu beliau berkata bahwa Aisyah seharusnya tidak berbuat seperti itu. Aisyah cukup berkata „Wa’alaikum“ ...artinya „dan kamu juga“. Hikmah dari cerita ini adalah kita boleh membalas perlakuan jelek kepada kita tetapi tidak boleh berlebihan. Lebih baik lagi kalau dibalas dengan santun. Karena Allah menyenangi kelemah lembutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Islam adalah agama yang cinta damai mengapa ada beberapa ulama yang membolehkan bom bunuh diri? (yang sekarang ini sering diasosiasikan sebagai salah satu tindak teroris). Quraish Shihab menerangkan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada hadirin. „Ketika anak dan istri kita akan dibunuh, apakah kita akan melawan?, ketika harta dan rumah kita akan dirampas, apakah kita akan melawan?, ketika tanah air kita diduduki pasukan asing apakah kita akan mengusir mereka? Saya yakin para pejuang-pejuang Palestina tersebut tidak berniat untuk bunuh diri, tetapi mereka tidak punya senjata lain untuk menyerang musuh kecuali meledakkan diri di tengah mereka. Namun Islam tegas melarang kita membunuh anak-anak dan wanita, oleh karena itu bom tersebut harus ditujukan kepada para tentara, bukan rakyat sipil. Dan metode yang sama tentu saja tidak bisa diterapkan di negara damai seperti Indonesia ataupun juga pada serangan 9/11 di Amerika Serikat, karena mayoritas korban adalah sipil“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allah tidak membutuhkan sesuatu dari hambanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak membutuhkan sesuatu dari hambanya, oleh karena itu janganlah kita bersemangat melebihi Allah. Apabila Allah berkenan, akan dijadikannya semua umat manusia menjadi muslim. Namun Allah tidak melakukan hal itu, oleh karena itu kita tidak boleh memaksakan suatu keyakinan kepada orang lain. Termasuk pada anak kita. Kewajiban kita adalah mendidik anak kita sebaik-baiknya, ketika mereka dewasa maka mereka punya hak untuk melakukan sesuatu sesuai keyakinannya. Termasuk memilih agama dan keyakinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pertanyaan dari seorang pemuda yang diminta ibunya untuk menceraikan wanita yang dicintainya. Apakah pemuda itu durhaka ketika tidak meluluskan permintaan ibunya tersebut? Dalam Islam orang tua dilarang memaksakan sesuatu yang terkait dengan hak-hak anak. Dan bukanlah durhaka ketika anak menentang orang tua yang memaksakan sesuatu yang menyangkut hak anak tersebut. Termasuk juga pilihan hidup, karir, sekolah dan jodoh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Catatan ceramah ini merupakan penuturan Quraish Shihab dengan penyesuaian. Apabila ada hal-hal yang kurang benar, itu semata-mata kekuranghatian penulis dalam menyalin atau menangkap apa yang dimaksudkan oleh Bp Quraish Shihab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-9122240106030960606?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/9122240106030960606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/9122240106030960606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/12/membumikan-al-quran.html' title='Membumikan Al-Qur&apos;an'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RZJOgqIMphI/AAAAAAAAAA8/dxo6AiNJcVE/s72-c/Image042.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-9032625441179486172</id><published>2006-12-20T23:10:00.000+11:00</published><updated>2006-12-20T23:12:29.473+11:00</updated><title type='text'>Polemik Poligamy : Sebuah Tanggapan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan dibawah ini adalah tanggapan saya terhadap kontroversi kasus poligamy Aa Gym. Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali kita masuk diskusi Poligami maka tidak akan pernah ada habisnya, dua-duanya punya basis argumen yang kuat. Paling tidak dari pengamatanku di milis sebelah yang calon2 doktor dan master. Beberapa dari mereka mengambil thesis tentang poligami, jadi pengetahuan mereka luar biasa dalam. Tetapi berbagai argumen tidak juga cukup untuk mengakhiri perdebatan, yang menurutku kurang bermanfaat ini. Masih banyak masalah umat lain seperti kemiskinan, kesenjangan sosial dan juga korupsi yang perlu pemikiran kita bersama untuk dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit memberikan pencerahan, apakah kalau data-data statistik menunjukkan sesuatu itu jelek, serta merta kita menolak atau menyetujui hal tersebut. 9 dari 10 orang di US melakukan pre marital sex. Misalnya ada penelitian yang mendukung bahwa itu baik, apa kita juga akan menyetujuinya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran terhadap Al-Qur'an tidaklah mandeg. Pengetahuan ini perlu terus dikaji dan diikuti. Dalam  hukum ada hal yang haram bisa menjadi halal, dan hal yang halal bisa menjadi haram. Misalnya daging babi itu haram, tetapi bisa halal dalam keadaan darurat atau untuk obat. Berhubungan seksual dengan istri itu halal, tetapi bisa jadi haram saat istri menstruasi. Artinya ada kondisi-kondisi yang perlu dipenuhi agar suatu hukum berlaku. Oleh karena itu kita selalu didorong untuk terus mencari ilmu dan menggunakan akal pemikiran kita untuk menerjemahkan ayat-ayat Allah baik yang tersurat (qauliyah) maupun yang tersirat (qauniyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak selalu akal kita sanggup untuk mencari jawab 'mengapa' terhadap sesuatu yang tertera di Al-Qur'an. Dalam Islam secara garis besar ada tiga bagian, petama Aqidah, kedua Ibadah, dan terakhir adalah Syariah. Untuk Aqidah dan Ibadah, kita hanya bisa menerima per se (apa adanya). Mengapa sholat Dzuhur ada 4 rakaat? Boleh kita mencoba mencari alasan yang melatarbelakanginya. Kalau kita mendapatkannya ya beruntung, tetapi kalau tidak kita tetap harus melaksanakannya. Hal ini aku dapatkan dari penjelasan Quraish Shihab waktu pengajian beberapa saat yang lalu. Syariah adalah garis besar jalan yang harus kita tempuh. Karena masih terlalu global maka perlu dijelaskan lebih lanjut, selanjutnya disebut Fiqh atau hukum. Misalnya riba itu halal, tetapi apa itu riba? apa saja transaksi yang mengandung riba? itu tidak dijelaskan secara gamblang dalam Al-Qur'an. Perlu diingat bahwa Al-Qur'an itu bagi umat Islam dipercaya kebenarannya 100%, tetapi ketika telah turun menjadi sebuah hukum bedasarkan intepretasi (buatan) manusia, maka absolutisme tersebut tidaklah berlaku lagi. Fiqh sendiri rentangnya sangat panjang, dari hukum haram sampai ke halal, ditengahnya ada makhruh, mubah dan sunnat. Batas-batas antara ekstrim tersebut mungkin terlihat jelas, tetapi kalau kita membicarakan hal-hal yang jatuh pada mubah atau sunnat, mubah atau makruh maka batas-batas itu semakin tipis. Para ulama sendiri seringkali berbeda pendapat tentang masalah-masalah tersebut. Sehingga layak kita saling menghormati pendapat satu dengan yang lainnya, karena dengan keterbatasan ilmu kita, mungkin kita belum bisa mendapatkan/melihat sisi lain dari pendapat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu saja, mohon maaf bagi yang tidak berkenan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-9032625441179486172?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/9032625441179486172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/9032625441179486172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/12/polemik-poligamy-sebuah-tanggapan.html' title='Polemik Poligamy : Sebuah Tanggapan'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-862422847668195781</id><published>2006-12-16T23:33:00.000+11:00</published><updated>2007-03-29T18:01:45.079+10:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Life'/><title type='text'>Catatan Harian Seorang Buruh</title><content type='html'>“Siapa bakal mengira di kota yang begitu indah ini, beberapa dari kita justru mau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sangat mungkin tidak mau kita lakukan di Indonesia!”. Kalimat tersebut membuka sebuah film pendek tentang pelajar-pelajar di Indonesia yang bekerja membanting tulang demi selembar-dua-lembar dollar di sela-sela tugas belajarnya. Saya adalah satu diantara mereka, dan untuk itu saya akan berbagi cerita. &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiM1KIMpdI/AAAAAAAAAAM/ZZ0tI9y4UvM/s1600-h/101_0131.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiM1KIMpdI/AAAAAAAAAAM/ZZ0tI9y4UvM/s400/101_0131.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010409430329370066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Langit Melbourne belum menunjukkan terang. Bintang-bintang dan bulan masih bersinar dengan terang. Jalan-jalanpun masih sepi lenggang. Tram-pun belum mulai beroperasi. Mungkin pukul 4.30 a.m masih terlalu pagi bagi kebanyakan warga Melbourne untuk mulai bekerja, tetapi tidak untuk seorang buruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengayuh sepedaku pelan-pelan. Meski telah summer, hawa pagi tetap saja menusuk tulang. Jaket tebal dan bingar musik yang memenuhi rongga telinggaku, paling tidak membantuku memulai hari-hariku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat aku tuju adalah sebuah pasar tradisional, Queen Victoria Market namanya tetapi orang biasa menyebutnya dengan Vicmart. Terletak di jantung kota Melbourne, 15 menit naik sepeda dari tempat tinggalku. Pasar tersebut, benar-benar seperti pasar yang ada di Indonesia. Menjual segala macam barang aneka rupa, dari buah-buahan, sayuran, daging, ikan, sampai pakaian dan souvenir. Di tempat inilah aku melewati hari-hari selama liburan musim panasku, bekerja mencari uang sekaligus belajar memahami hidup dari perspektif lain.&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiNsKIMpfI/AAAAAAAAAAc/Gvpo1ugE0jg/s1600-h/100_0185.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiNsKIMpfI/AAAAAAAAAAc/Gvpo1ugE0jg/s400/100_0185.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010410375222175218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaanku sangatlah sederhana, hampir tidak memerlukan skill apapun. Aku membantu para penjual untuk membuka dan menutup toko. Tidak seperti pasar-pasar di Indonesia yang blok-blok-nya permanen, blok-blok di Vicmart selalu berubah-rubah tiap hari. Taruhlah hari ini di Blok J100, besok hari pindah ke J68 dan besok lusanya pindah ke C58. Oleh karena itu seting toko biasanya memakai kerangka besi yang perlu di set-up dan pack-up setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biasa sampai pasar pukul 5.00 pagi. Ada dua toko yang perlu aku buka dan tutup setiap hari yaitu toko Baju dan toko Souvenir. Untuk itu aku perlu bekerja cepat. Biasanya aku akan menyusun kerangka besijavascript:void(0)&lt;br /&gt;Publish Toko Baju terlebih dahulu yang kurang lebih menghabiskan waktu setengah jam. Setelah itu aku berlari ke Toko Souvenir untuk menyusun kerangka besi dan meja-meja. Praktis tidak perlu tenaga ekstra untuk mengerjakan kedua pekerjaan tersebut. Pemilik Toko Souvenir biasanya datang pukul 7.30, saat aku telah menyelesaikan setengah pekerjaanku. Pemilik Toko Souvenrir, Mirella namanya, dia telah berimigrasi dari Cile sejak 20 tahun yang lalu dan kini telah berumur 60 tahun. Walaupun telah hampir pensiun, Mirella adalah orang yang sangat energic sekaligus cerewet bukan main. Satu hal yang sering menjengkelkanku adalah Mirella cenderung perfeksionis dan telitinya bukan main. Setiap meja dan souvenir harus diletakkan persis sesuai tempatnya. Awalnya aku pikir itu mudah, namun karena ada puluhan frame besi-besi dan papan-papan, belum lagi souvenir-souvenir yang beraneka ragam, yang semuanya harus disusun dengan konfigurasi tertentu sesuai letak blok toko, maka seringkali aku berbuat kesalahan demi kesalahan. Tidak satu atau dua kali aku terpaksa membongkar pekerjaanku karena ada frame atau meja yang diletakkan tidak pada tempatnya. Saat itulah  aku seringkali harus berusaha untuk sabar, karena Mirella akan mulai berteriak-teriak dan mulai memberikan instruksi dalam bahasa Inggris yang tidak begitu jelas. Pekerjaan yang harusnya bisa diselelsaikan dalam 2 jam seringkali molor menjadi 2 setengah jam, belum lagi Mirella seringkali minta tolong untuk membelikan kopi atau menunggu toko agar dia bisa ke toilet, atau hal-hal lain yang sangat menyita waktu yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Padahal puku 7.30 a.m aku harus kembali lagi ke Toko Pakaian untuk menyelesaikan pekerjaanku. Aku kadang memaksa untuk kabur, dengan sedikit keributan tentu saja. Namun Mirella pada dasarnya orang yang baik hati, akhir-akhir ini seringkali dia menyuruhku untuk pergi walau perkerjaanku belum selesai, ketika waktu telah menunjukkan 10 atau 15 menit dari 7.30 a.m.&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiN86IMpgI/AAAAAAAAAAk/Vk2Qku63u30/s1600-h/100_0160.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiN86IMpgI/AAAAAAAAAAk/Vk2Qku63u30/s400/100_0160.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010410662984984066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaanku di Toko Pakaian secara fisik lebih berat, tetapi secara psikis jauh lebih rileks, karena bosnya Abdul namnanya, orang Afghan, sangat baik dan tidak pernah marah (walau tampangnya seperti pembunuh berdarah dingin). Setelah semua frame terpasang aku tinggal memasang pengait (hook) untuk menggantung baju. Toko Pakaian yang aku pegang adalah toko Pakaian wanita. Seumur-umur baru kali ini terpaksa harus menghafal yang namanya dress, top, tank top, shirt dan pants beserta harga-harganya dan jenis kainnya. Biasanya baju yang bagus-bagus, dengan warna yang mencolok, aku letakkan di depan supaya menarik perhatian. Masalahnya baju yang bagus menurutku, ternyata berbeda dengan yang dianggap bagus oleh bule-bule. Kadang aku pikir selera mereka aneh bahkan terkadang norak. Setelah dua atau tiga hari, aku telah bisa hapal baju apasaja yang laku dan apa ciri-ciri orang yang benar-benar mau beli atau sekedar hanya pingin lihat-lihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyelesaikan semua pekerjaanku tepat jam 9.00, atau 4 jam setelah aku sampai dari pasar. Khusus untuk hari Selasa dan Minggu aku juga sekalian menjaga toko, dibantu istriku. Pasar ditutup pukul 2.00 pm untuk hari Selasa, Kamis, sedang di akhir pekan tutup pukul 3.00 pm. Pasar libur pada hari Senin dan Rabu, aku tidak tahu mengapa pengaturannya seperti itu, sama seperti aku tidak tahu alasan mengapa setiap hari mereka harus berpindah-pindah blok. Proses menutup lebih cepat daripada proses membuka, namun justru lebih rumit. Kita harus tahu urut-urutan membuka esok harinya, sehingga frame, papan, atau barang dangangan yang akan dibuka dahulu harus ditaruh didepan/diatas barang yang dibuka selanjutnya. Jadi prosesnya dibalik, apa yang dibuka dahulu esok paginya, dipacking terakhir. Repotnya kalau kita salah menyusun, bisa jadi baru sampai setengah box sudah penuh, atau susunannya runtuh. Kalau itu terjadi maka siap-siap bersabar, karena harus mengulang lagi dari awal. Untungnya pekerjaan ini telah dilakukan bertahun-tahun dan turun-temurun, jadi apabila kita bingung, kita tinggal menelepon orang yang pernah pegang sebelumnya. Mereka akan membantu kita dengan senang hati. Saat pertama kali dulu memasang frame, aku sempat stress karena benar-benar lupa cara memasang frame seperti yang diajarkan oleh orang yang aku gantikan. Namun dengan sekali telepon, semua masalah bisa beres. Selain orang yang pernah pegang sebelumnya, di Vicmart, ada Godfather urusan buka tutup toko. Namanya, Niu, dia berasal dari Thailand. Sama seperti aku, dia adalah pelajar disini dan saat ini telah selesai. Aku menjulukinya Shark, karena dia bekerja sangat efektif, cepat dan tanpa suara ribut-ribut. Ingatannya juga luar biasa. Aku sampai saat ini masih terheran-heran bagaimana dia bisa memegang 5 toko dalam satu hari. Dia juga bertugas membawa kunci box-box toko yang aku buka, jadi tidak terbayang kalau dia tiba-tiba tidak bisa datang. Mungkin ada 5 atau 10 toko yang tidak bisa jualan pada hari itu. Tetapi yang aku salut bagaimana sibuknya dia, dia selalu siap membantu orang-orang baru seperti aku.&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiNS6IMpeI/AAAAAAAAAAU/Co1XTbRqxEc/s1600-h/100_0156.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:1 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiNS6IMpeI/AAAAAAAAAAU/Co1XTbRqxEc/s400/100_0156.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5010409941430478306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati hari-hari yang bermandi peluh dan penuh dengan tekanan, maka tiba saat yang membahagiakan, apa lagi kalau bukan gajian. Toko Souvernir Mirella gajian tiap hari $40 untuk buka tutup, dan toko Pakaian Abdul gajian buka tutup $30 dan $50 untuk jaga toko perharinya. Cukup lumayan untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan skills khusus. Sebagai perbandingan, gaji tersebut apabila dikurskan ke rupiah maka setara gaji junior manager di Perusahaan Multinasional di Jakarta. Kadang jadi berpikir, bagaimana negara kita bisa maju, ketika kita menghargai seorang dengan pendidikan dan kemampuan yang begitu hebat, sama dengan gaji seorang buruh di Pasar atau Loper Koran di Melbourne?. Tetapi perlu dimengerti biaya hidup disini juga sangat tinggi, hanya karena biaya hidup telah ditopang oleh beasiswa maka penghasilan dari kerja sampingan tersebut bisa langsung ditabung atau buat jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman pekerja fisik (yang baru pertama kali aku lakukan sepanjang karirku) dan interaksi dengan orang-orang dipasar, baik dengan sesama penjual ataupun dengan pembeli, nampak perbedaan nyata antara perlakuan terhadap buruh disini dengan dinegara kita. Disini orang tidak malu untuk menjadi buruh, karena apresiasi terhadap mereka begitu tinggi. Mereka dianggap setara dengan pekerjaan lainnya. Ketika aku tengok kanan kiri begitu banyak orang Indonesia, Thailand dan Vietnam yang bekerja disini. Kebanyakan mereka sedang belajar untuk gelar Master bahkan Doktor. Mereka adalah kaum berada di negara asal mereka, beberapa bahkan memiliki jabatan tinggi di negara asal mereka. Tetapi mereka mau menjadi buruh disini, karena mereka tetap dihormati. Apa kita bisa bayangkan, seorang dosen atau pejabat pemerintah yang sedang tugas belajar di UGM nyambi jadi buruh di Beringharjo. Bagaimana tanggapan mahasiswa atau bawahannya, ketika melihat dosen atau atasannya bermandi peluh di pasar mengerjakan pekerjaan kasar? Mengapa kita di Indonesia biasa menghargai orang karena jabatannya atau pekerjaannya? Bukan menghargai setiap orang karena mereka adalah manusia, sama seperti kita, terlepas dari apa pekerjaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudyland&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipersembahkan khusus untuk Pejuang Bantul di &lt;a href="http://terapikomik.blogdrive.com/archive/cm-12_cy-2006_m-12_d-13_y-2006_o-10.html"&gt;Animator Kere-nya Dokter Komik&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Baca juga perspektif lain dari masalah ini di &lt;a href="http://bootdir.wordpress.com/2006/12/08/work-hard-play-hard/#comment-31"&gt;Work Hard Play Hard&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-862422847668195781?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/862422847668195781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/862422847668195781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/12/catatan-harian-seorang-buruh.html' title='Catatan Harian Seorang Buruh'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_s86Qk0uMkQ8/RYiM1KIMpdI/AAAAAAAAAAM/ZZ0tI9y4UvM/s72-c/101_0131.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8955394153070064732</id><published>2006-11-27T06:42:00.000+11:00</published><updated>2006-11-27T07:04:40.611+11:00</updated><title type='text'>A Long Summer Break</title><content type='html'>I have finished all of my exams and a long summer break is waiting. One of brother told me that the holiday is not a time to sleep all along. What a challenge! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have made a lot of plan before the holiday come, even too many I guess. And like always the plan is easy to made but it is hard to do. Anyway I will post some of them, so you can remind me if I am forget later. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First, I have to finish my "Unfinish Task" for my affiliations. I am responsible for developing a website for "AUSAID Club" and minght be for "Kagama Victoria". It is an easy job actually since I only design the theme of content not the design and everyhing, but I have too many assignents in the last two months so this easy job is neglected. In addition, I still have another challenge job to make preparation of formalization for the new forum of "Keluarga Besar Muhammdiyah Victoria".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Second, I have to prepare some writing for my "Future Agenda". I have all the material and outline set up, but the harder part is to start. I am a lazzy person who ussually work under supervision or competitive environment, and when suddenly I have to work all alone, that is frightened me. Can I survive and stick on my "Future Agenda"?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Third, the unexpected agenda that likely will ruin everything I had well planned above which is I have to work for some extra money. The casual job vacancis during the summer break is so tempting. Easy to do but good money. I will tell you later abour this stuff. I think I need to write special report to cover this special activity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fourth, I have to plan another agenda for my second semester and "what-I-will-do-after-comeback".  I have no a clear picture yet for the last one, there is too many options with little qualification I have. I hope I can catch up for the next one year ahead. I have to run as fast as I can to catch the train who is already leaving.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8955394153070064732?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8955394153070064732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8955394153070064732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/long-summer-break.html' title='A Long Summer Break'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-5077912132059998235</id><published>2006-11-27T05:45:00.000+11:00</published><updated>2006-11-27T06:40:31.293+11:00</updated><title type='text'>Setelah setahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/_resize1-100_9913.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu 25 November 2006 kemarin tak terasa telah lewat setahun kita mengucap ikrar bersama. Setelah setahun itu pula, masih aku sadar masih banyak hal yang belum bisa aku penuhi sebagai seorang suami yang baik, untuk itu bimbing aku untuk selalu belajar. "My fantassy is a man to cook and clean" seperti yang kau tuliskan di pintu kulkas, adalah satu dari sekian banyak hal yang belum bisa aku penuhi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal kita telah bersepakat untuk susah dan senang bersama. Setahun ini kita telah mengalami begitu banyak kejadian, mulai dari berpindah dari satu kontrakan-ke-kontrakan lain, reportnya mengurus administrasi untuk keluar negeri,sampai gempa di Jogja yang tidak pernah kita  perkirakan sebelumnya. Semua peristiwa tersebut membuat kita tambah dekat dan kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin tantangan kita kedepan akan tambah banyak. Banyak tanggungjawab yang harus kita pikul baik untuk keluarga, karir maupun lingkungan. Untuk itu aku berdoa semoga kita selalu diberi kekuatan dan barakah dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak yang ingin aku tuliskan, tetapi aku tahu, kamu tidak begitu suka aku mengumbar cerita di blog ini. He he mungkin sesuatu saat aku bisa bercerita dengan seperlunya dan pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudy&lt;br /&gt;Suami yang selalu menyayangimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Hati-hati ya jaga adek&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-5077912132059998235?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5077912132059998235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/5077912132059998235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/setelah-setahun.html' title='Setelah setahun'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-332515534950219697</id><published>2006-11-22T12:04:00.000+11:00</published><updated>2006-11-22T12:51:22.655+11:00</updated><title type='text'>Apa yang terjadi dengan dunia?</title><content type='html'>Dunia yang kita tinggali sekarang telah banyak berubah. Tulisan ini paling tidak ingin mengidentifikasi perubahan besar apa saja yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dunia telah berputar berlawanan arah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Matahari telah terbit dari Barat&lt;br /&gt;Begitu aku berlari kepadanya &lt;br /&gt;sayangnya dia telah tenggelam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal 80' ditandai dengan semakin menguatnya Dominasi Barat mengalahkan pengaruh Soviet dan Blok Timur. Puncaknya adalah runtuhnya Tembok Berlin pada tahun 1989. Saat itu matahari telah terbit dari barat. Setiap orang diberbagai belahan dunia selalu menenggok kearahnya, mencermati apa yang menjadi kebiasaan mereka, dan serta merta mengikutinya. Mulai dari teknologi, gaya berpakaian, musik dan hiburan, makanan bahkan gaya rambut semua berkiblat ke barat saat itu. Namun ternyata hal itu terjadi tidak lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat China dan India sekarang. Semua mata sedang menenggoknya. Perkembangan teknologi informasi di India dan buruh murah serta pasar raksasa di China diperkirakan akan mengakhiri dominasi Barat pada 2020. Ternyata Dunia telah berbalik arah keposisi semula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak lama lagi &lt;br /&gt;Matahari akan kembali terbit dari timur&lt;br /&gt;dan sudahkan kita terbangun saat itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dunia sudah lupa pada umurnya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dunia tambah sering batuk-batuk, muntah dahak dan kepanasan. Orang sini menyebutnya itu semua gejala global warming atau climate change, namun orang sebangsaku menyebutknya ini pasti ada kaitannya dengan penunggu gunung, penunggu sungai atau penguasa laut, dan entahlah apa namanya yang jelas sosok mereka tidak pernah kelihatan. Berapa sih sebenarnya umur dunia dan masih berapa lama lagi dia bisa bertahan. Ketika kutanya pertanyaan ini, dia menjawab dia terlalu lama untuk mengingatnya, dan menyarakan kita lebih banyak berdoa dan bertobat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dunia berputar lebih cepat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya berputar berbalik arah, dunia sekarang tengah berputar lebih cepat. Kemajuan teknologi transportasi, bioteknologi dan komputasi yang membuat kita bisa mengarungi satu tempat ke tempat lain jauh lebih cepat, menanam dan memanen tanaman lebih pendek waktunya, dan menyelesaikan pekerjaan jauh lebih mudah, namun itu semua tidak membuat waktu kita untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga tambah banyak. Seiring itu semua, waktu kelihatanya berlalu lebih cepat dari sebelumnya. Aku masih sangat ingat bagaimana perayaan tahun baru yang lalu, dan sekarang kita tengah menanti untuk merayakannya lagi. Seolah semakin cepat kita berlari, semakin cepat pula kereta yang akan kita kejar. Pekerjaan yang semakin cepat dan mudah diselesaikan, bukan berarti membuat hidup kita tambah nyaman, karena itu berarti bahwa majikan kita bisa memberi kita pekerjaan lebih banyak lagi, dengan bayaran yang sama. Apalagi sekarang dikenal teknologi yang memungkinkan kita untuk bekerja dari rumah. Ehmmmm nampaknya memang sekarang trennya bukan adu kuat lagi, tetapi adu cepat, siapa cepat dia dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dunia semakin menjadi tempat yang asing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Google Earth memungkinkan kita mengintip berbagai belahan dunia seolah kita menaiki balon raksasa mengelilingi dunia. Namun mengapa itu semua tidak membuat kita merasa lebih kenal dan lebih kerasan tinggal di dunia (andai saja ada planet lain yang bisa kita tinggali). Apa yang terjadi disekitar kita bukan saja sulit kita pahami, tetapi kelihatannya orang semakin mudah curiga dan was-was. Siapa mengira hanya karena nama yang berbau Arab, orang bisa diperiksa berjam-jam di airport. Apa hubungannya nama dengan kejahatan. Pesawat terbang memang bisa membawa kemana saja kita mau, namun sesampai disana, kita hanya bertemu dengan orang-orang asing yang dengan matanya bertanya "mengapa kamu kesini? ada urusan apa? kapan kamu kembali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar aku merindukan desaku yang kecil dan setiap orang satu dengan lainnya saling kenal dan bertegur sapa. Teknologi konon katanya bisa membuat dunia ini menjadi kecil, sekecil ujung jari. Tetapi apa artinya kecil tanpa keramahtamahan, itu hanya membuat kita merasa sumpek..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan pengamat tren mengembara lebih jauh lagi dan mencatat apa yang sedang berubah di dunia yang semakin tua ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-332515534950219697?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/332515534950219697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/332515534950219697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/apa-yang-terjadi-dengan-dunia.html' title='Apa yang terjadi dengan dunia?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1291167836046030044</id><published>2006-11-12T19:26:00.000+11:00</published><updated>2006-11-12T21:56:25.817+11:00</updated><title type='text'>Letter to blog reader</title><content type='html'>Dear Reader&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I would like to use this opportunity to express my deepest thank to my reader's who still spare their time to read this blog. Whether you post comments or keep on silent, I know that you're still out there. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, I will dedicate this posting and my recent up dates to those loyal readers. As you can see, I have added "Rudyland Quick Up Date" in the top of this blog, so I can reach you with the latest issues and ideas, as quickly as possible. I also added an "Online Survey" on the left of this blog, to make you easier to participate to improve this blog.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A couple weeks a go I had installed a new hit counter (Blog Patrol) to count visitor of this blog and analyse their pattern. Surprisingly, most of this blog readers are referred by google on keywords related with "accounting or auditing". In response to that matter, I think it is better to keep on writing on that topics, although I am sure most of the time, it will pretty boring and annoying. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/1600/Comment-report.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/400/Comment-report.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;I believe that I have to move on (from my old writing's style), although it is mean that I would loose some of this blog basic readers (whoever they are). I am aware that some of you more like this blog managed like it used to be. To many bad news out there, and you want to find something fresh here, but I'm sorry to tell you that those days have gone. There will be more and more 'though' postings in here than before. Something that I actually didn't intend to do in the beginning, but as I'm grown up and experienced, I realised that this is the time to change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I realised that there will be a bitter consequence to my above choice. Based on Blog Patrol report, yet there has been significant decreasing in the number of visitors compared to the past years. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/1600/visitor%20activity.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/400/visitor%20activity.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The decreasing is also followed by decreasing in number of comments. I still believe that popularity is important to keep this blog alive, however it cannot suppress the spirit of this blog,which is to shout and share clearly to what is going on in our world today. In the future, I think this blog should focus on "specific readers' rather than 'general readers' and choose "differentiation strategy" on the content.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not least, I will once again show my gratitute to all of this blog's readers. Without you, this land will definitely look empty, but even if that is happened, that is not mean the end.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1291167836046030044?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1291167836046030044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1291167836046030044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/letter-to-blog-reader.html' title='Letter to blog reader'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1882648813710597315</id><published>2006-11-11T07:10:00.000+11:00</published><updated>2006-11-11T07:27:18.591+11:00</updated><title type='text'>Lebih baik mencatat daripada menfotokopi</title><content type='html'>"Ikatlah ilmu dengan mencatatnya!" Itulah yang dikatakan oleh Ali bin Abu Tholib yang saya kutip dari buku Hernowo, "Mengikat Makna". Betapa aktivitas yang oleh sebagian besar orang dianggap menjemukan ini telah berperan dalam membentuk peradaban-peradaban besar dunia. Coba kita bayangkan bagaimana pemikiran-pemikiran Yunani yang diwakili tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles dan Socrates bisa mengembara melampaui waktu tanpa adanya tulisan?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya bangsa kita adalah bangsa yang senang berceloteh dan malas menulis. Dokumentasi kejayaan nenek moyang kita cepat usang, karena pemikiran besar mereka tidak direkam dalam sebuah media yang bisa dibaca dan dikaji ulang anak turunnya. Sebagai contoh bagaimana kerajaan besar seperti Majapahit hanya meninggalkan Kitab Negara Kertagama sebagai bisa dikatakan satu-satunya rujukan tertulis. Selainnya mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembesar-pembesar Kerajaan dahulu lebih suka menunjukkan kebesaran dengan meninggalkan tugu-tugu atau arca-arca. Bahkan konon katanya Tugu peninggalan Majapahit bertengger sampai ke Madagaskar. Dari sini apa kita bisa mengambil kesimpulan kalau peradaban bangsa Indonesia lebih mengedepankan pada kekuasaan dan menganaktirikan hasil karya cipta (baca intelektual) cendekiawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu tidak heran, kalau juara-juara olimpiade kita hanya menghiasai koran selama beberapa hari. Setelah itu tamat! Karena bangsa kita adalah bangsa yang mengagungkan kekuatan fisik, entah itu tingginya bangunan (Monas), bangunan terbesar (Borobudur), negara kepulauan terbesar (Indonesia), pemimpin terkorup dan berkuasa paling lama (Soeharto), dan juga pengutang terbesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kita apa yang besar, dan terlihat fisik, jauh lebih penting daripada sesuatu yang 'hanya ada dalam alam rekaan' saja. Kita lupa perusahaan terbesar didunia sekarang bukan perusahaan penghasil minyak tetapi perusahaan pengasil urut-urutan kode (Microsoft dan Google). Kita lupa disaat kita masih bermimpi memiliki gedung tertinggi di dunia (Menara Jakarta), mereka diluar sana berlomba-lomba dalam nanoteknologi dan bioteknologi. Mereka bermain-main dengan gen, sedang kita masih meributkan 'dirijen' (subsidi BBM). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah diposting disini juga, negara kita nampaknya sedang sakit ingatan dan hilang arah. Belum lama rame-rame meneriakkan korupsi, eh sekarang malah berjamaah dalam mengamalkannya. Saat yang lain telah menyatakan dengan jelas visi 2020 bangsa Indonesia masih saja mempermasalahkan apakah dasar negaranya perlu diganti atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sakit ingatan dan hilang arah. Salah satu obatnya adalah dengan 'mencatat'. Mari rame-rame mendukung gerakan 'suka mencatat' dan 'anti fotokopi'.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1882648813710597315?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1882648813710597315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1882648813710597315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/lebih-baik-mencatat-daripada.html' title='Lebih baik mencatat daripada menfotokopi'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-476579553919176341</id><published>2006-11-11T06:43:00.000+11:00</published><updated>2006-11-11T07:09:46.880+11:00</updated><title type='text'>Berada di Ujung Dunia</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/Spring/Image030-topoftheworld.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata dunia ini seperti menara, maka berada di ujung dunia berarti berada di titik tertingginya, tetapi karena dunia ini berbentuk bolat seperti bola, maka berada di ujung dunia bisa berarti 'dimana saja', setiap titik berkesampatan menjadi ujung dunia tergantung titik tolak darimana kita memandangnya. Darisini saja, kita bisa belajar pentingnya memandang diri dan lingkungan secara egaliter.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-476579553919176341?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/476579553919176341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/476579553919176341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/berada-di-ujung-dunia.html' title='Berada di Ujung Dunia'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3693381427820659522</id><published>2006-11-09T22:21:00.000+11:00</published><updated>2006-11-09T22:28:19.930+11:00</updated><title type='text'>Korupsi dan Investasi - Kasus di Indonesia</title><content type='html'>(tulisan ini untuk menanggapi diskusi di Indomelb dengan topik, paradoks tingkat investasi dengan tingkat korupsi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau tahu yang fakta sebenarnya, investor tidak peduli sama korupsi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah ikut, Indonesian Investment Conference 2005 di Bali, disana saya mendengar bagaimana pandangan para investor terhadap Indonesia, dan ada beberapa hal yang cukup mengagetkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuman pandangan para investor kurang lebih seperti ini, "Kita memandang korupsi, sama seperti pajak (additional tax), selama jumlahnya bisa kita perkirakan dan ada kepastian untuk bisnis kita, kita tidak masalah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini menjelaskan, kenapa pada waktu Orde Baru, yang kita ketahui tingkat korupsinya sama parahnya dengan sekarang, tingkat investasi asing lebih tinggi, karena pada saat itu ada kepastian. Bedanya korupsi jaman Orde Baru dan sekarang adalah, kalau dulu yang korupsi satu rejim (satu partai), sekarang ini yang korupsi semua partai. Kalau proyek atau BBM dijadikan 'sapi perahan', yang mereka pelihara dan jaga tetap gemuk, agar bisa terus diperah, kalau sekarang, sapinya diperah sampai susu habis, setelah habis terus dijual (seperti kasus Indosat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya lebih suka bayar, tetapi perijinan saya keluar dalam waktu yang mereka janjikan, daripada tidak bayar tetapi tidak ada kepastian kapan ijin kami keluar. (lebih parah lagi, sekarang ini ada beberapa kasus, sudah bayar, ijin tidak keluar-keluar) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya sepaham dengan Jusuf Kalla yang pada pertemuan itu, dihadapan para Investor, dengan lantang beliau berkata, "Kalau ada yang bilang, investasi ada hubungannya sama penegakkan demokrasi, itu non sense. Indonesia sekarang jauh lebih baik demokrasinya dijaman pak Harto, tetapi kalian justru lebih suka berinvestasi di era Soeharto bukan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga menjelaskan, kenapa China dan Vietnam, negara dengan tingkat korupsi yang tinggi, justru menjadi negara-negara dengan investasi asing (FDI) tertinggi di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bottom linenya, investor hanya care pada dua hal, profit dan certainty, that's it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Chatib Basri pernah berkata bahwa Indonesia adalah disappointing country. Pada saat krisis dulu, pihak-pihak yang pesimis meramalkan Indonesia akan pecah dan terjadi balkanisasi, kenyataannya kita bisa melaksankan salah satu pemilu yang paling demokratis di dunia di tahun 2004. Disisi lain, pihak-pihak yang optimis, yang yakin Indonesia akan pulih dengan pertumbuhan ekonomi diatas 6%, juga melonggo karena sampai saat ini Indonesia, masih saja tumbuh dibawah 6%. Jadi Indonesia layak dikategorikan negara yang 'bukan-bukan' .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau punya waktu coba baca blog orang Malaysia yang tinggal di Jakarta &lt;a href="http://www.skthew.com/2006/10/22/is-indonesia-that-bad/"&gt;disini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Dia bilang bahwa tahun ini, pertama sejak 1990, Indonesia mengungguli Malaysia dalam hal FDI. Jadi hati-hati sama Indonesia! Mereka bisa pulih dan mengejar kita dengan cepat, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, mengutip Milan Kundera, Perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa. (Milan Kundera, Novelis), bahwa perjuangan melawan korupsi adalah perjuangan melawan lupa. Saya setuju banyak pejabat kita mudah lupa, saat reformasi mereka meneriakkan slogan-slogan antri korupsi, tetapi setelah menjabat sama saja. Untuk itu, kita paling tidak berjuang untuk menegakkan kesadaran, bagi diri kita, anak cucu, maupun teman-teman disekitar kita, bahwa di tengah terowongan yang gelap ini, ada titik terang diujung sana. Apabila kita saat ini pesimis dengan keadaan bangsa kita, itu sama saja bahwa kita, menyerah sebelum berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga &lt;a href="http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0611/ 02/opini/ 3066058.htm"&gt;Singapore Paradoks&lt;/a&gt; , sebagai awal mula pemantik diskusi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3693381427820659522?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3693381427820659522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3693381427820659522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/korupsi-dan-investasi-kasus-di.html' title='Korupsi dan Investasi - Kasus di Indonesia'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8679985501303768857</id><published>2006-11-07T22:44:00.000+11:00</published><updated>2006-11-07T22:45:54.286+11:00</updated><title type='text'>Audit Investigatif di Indonesia</title><content type='html'>Mengapa audit yang dilakukan BPK jarang mengungkap kasus-kasus korupsi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audit itu sendiri ada bermacam-macam. Audit yang sering kita ketahui adalah audit umum, yang bertujuan memberikan pendapat atas kewajaran sebuah laporan keuangan.  Sesuai tujuannya tersebut, maka menemukan kecurangan bukanlah termasuk dalam lingkup tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui yang disebut korupsi, tidaklah sesederhana mengambil (mencuri) uang yang ada dalam brangkas. Kasus yang paling sering adalah inefisiensi dan kickback. Sebagai ilustrasi, dalam pembangunan sebuah jembatan harusnya hanya menghabiskan 100 juta, tetapi kenyataannya menghabiskan 300 juta. Kemudian selisih 200 juta dibagi dua antara vendor dan pejabat yang korup. Audit umum yang hanya berkutat dalam segi  formalitas dokumen, tentu saja tidak bisa membongkar kecurangan seperti ini. Asal dokumen semua lengkap dan asli maka auditor akan memberikan pendapat 'wajar' dalam laporan keuangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena muncul yang disebut expectation gap, masyarakat berpikir auditor tahu segalanya, tahu segala detil laporan keuangan, sehingga apabila ada kecurangan maka mereka pasti tahu. Kenyataannya prosedur dalam Audit Umum sangatlah terbatas. Sebagai gambaran, laporan keuangan sebuah instansi yang tersusun dari ratusan ribu transaksi per tahun, harus diaudit oleh 3-4 orang dalam waktu 2 minggu - 1 bulan. Bisakah mereka memeriksa semuanya dalam waktu yang sesingkat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab tantanga itu maka munculah audit khusus, salah satunya dikenal sebagai audit investigatif atau audit forensik. Audit ini mengadopsi prosedur-prosedur yang biasa dipakai detektif, kepolisian, atau ahli-ahli yang lain dalam membongkar sebuah kecurangan. Kelemahan audit ini adalah seperti ahli forensik yang dipanggil setelah adanya mayat yang terbunuh, auditor forensik dipanggil setelah adanya indikasi kasus korupsi. Tanpa ada indikasi awal audit ini sulit dilakukan. Beberapa kasus audit investigatif di Indonesia, adalah audit kasus Bank Bali oleh PwC, audit kasus LC bodong 1.3 T Bank BNI oleh PPATK, dan audit KPU oleh KPK. Ketiga-tiganya sukses membongkar kasus korupsi dan konspirasi yang sangat rumit, walaupun tidak berakhir dengan 'happy ending' di proses pengadilannya (kecuali untuk kasus KPU). Proseudur-prosedur tidak umum dalam Audit Investigatif ini antara lain,  menggunakan informan (seperti dalam kaus KPU), menelusur aliran keuangan lewat transaksi perbankan dengan bantuan BI dan 'melanggar' UU Kerahasian Bank (dalam kasus Bank Bali dan Bank BNI), tidak mungkin kita temukan dalam audit umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Audit lain yang berpotensi dalam membongkar korupsi adalah audit kinerja (due dilligence). Audit ini berfokus untuk mencari inefisiensi dalam kegiatan sebuah instansi atau BUMN. Audit kinerja dalam sebuah BUMN menemukan potensi kerugian ratusan milyar, jauh melebihi angka kerugian yang diakui dalam laporan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya mengapa semua audit umum tidak diubah menjadi audit investigatif atau audit khusus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah kendala biaya dan staf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk perbandingan, Audit Umum di sebuah BUMN perlu 5-6 orang dengan fee 600 juta, sedangkan Audit Kinerja pada BUMN yang sama oleh kantor yang sama memerlukan 100 orang dengan fee 10 Milyar! Selain itu sumber daya di Indonesia yang bisa melakukan Audit Investigatif sangatlah terbatas. Untuk Audit Investigatif di bank misalnya, disamping pengetahuan keuangan juga, diperlukan pengetahuan mendalam tentang sistem hukum, sistem IT dan teknik investigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, kita layak optimis. Sedikitnya kasus korupsi yang terungkap di jaman dahulu karena para penyelidik tidak punya alat yang tepat. Negara kita mendapat perbaikan signifikan dari segi Transparency Index dari 2.0 menjadi 2.2 tahun ini (dengan indeks 5 sebagai negara yang tidak kondusif untuk praktek korupsi). Mungkin, Presiden kita layak meniru Zhu Rongji, yang memesan 100 peti mati, dengan peti ke 100 bertuliskan namanya. Dia bersumpah untuk menembak mati siapapun yang berani korupsi dalam pemerintahnya, termasuk dirinya sendiri (kenyataannya mantan walikota Beijing ditembak mati di lapangan Tiananmen karena ketahuan korupsi). Seperti kata pepatah, kejahatan luar biasa memerlukan perlakuan yang luar biasa pula untuk memberantasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Bagi  yang tertarik mengetahui kisah dibalik "Khairinsyah" dan  kasus-kasus audit  investigasi diatas, bisa lewat  JAPRI saja, karena banyaknya informasi 'sensitif' he he.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8679985501303768857?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8679985501303768857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8679985501303768857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/audit-investigatif-di-indonesia.html' title='Audit Investigatif di Indonesia'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-4247551537981788928</id><published>2006-11-03T07:54:00.000+11:00</published><updated>2006-11-03T07:59:23.597+11:00</updated><title type='text'>Nikmat mana yang akan kau dustakan</title><content type='html'>Aku mengangkat drag-bar itu dengan nafas terengah-engah. Enam orang lainnyapun merasakan yang sama. “Bentar-bentar, berhenti dulu”, anak muda memakai kaca mata dengan peluh di sekujur badannya memberikan isyarat agar kita istirahat dahulu. “Erghh..”, aku mendengar erangan tertahan, dari bapak tua diatas tandu. Keadaan memang serba darurat. Drag-bar standar telah habis. Para relawan terpaksa membuat drag-bar dari bambu dengan anyaman tali-tali ditengahnya. Terbayang betapa sakitnya bagi bapak tua dengan kaki yang patah untuk berada diatasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok, ayo berangkat lagi, masih banyak pasien lainnya yang harus diangkat”, anak muda itu kembali mengkomando rekan-rekannya. Aku kagum dengan semangatnya. Kemudian kita berjalan pelan-pelan, melewati ratusan korban gempa yang bergeletakan sekedarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit pemerintah itu tidak kuasa menampung ribuan korban yang datang pada hari itu. Masih banyak korban yang hanya menunggu pasrah di luar rumah sakit, tanpa ada dokter yang bisa merawatnya. Sekali lagi, semua memang serba darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akhirnya sampai didepan ruang radiologi. Ruang yang sempit itu telah dikerubuti oleh ratusan orang. Mereka menunggu dengan tatapan-tatapan penuh harap. Didepannya bergeletakan korban-korban yang terluka parah, yang butuh perawatan segera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tua diatas tandu itu terus mengumandangkan takbir ditengah usaha menahan sakit. Dia masih bersabar, walau sekali lagi harus menunggu giliran (yang entah kapan datang). Terbayang siang tadi dia harus menunggu beberapa jam lamanya di halaman rumah sakit untuk mendapat perawatan. Namun dia merasa bersyukur, masih banyak ribuan korban lainnya yang bahkan belum sempat dievakuasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya panggilan itu datang, “Mana suratnya?” tanya seorang petugas yang terlihat lelah dan emosi karena  berkerja tanpa henti sejak pagi. Aku kemudian menyodorkan surat yang aku bawa, “Ini khan sudah dipanggil sejak tadi, ini juga tidak urgen, besok saja di rontgennya!” kata dia ketus. Aku langsung merasa lemas, “tetapi Pak, kita khan…, bapak tidak lihat…tambah repot nantinya kalau….” aku kemudian menguraikan satu persatu argument, hingga dia akhirnya mengijinkan bapak tua itu di roentgen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lebih dari 10 menit, prose situ berlangsung. Kemudian kita membawa kembali bapak tua itu, dengan tandu yang sama, melewati rute yang sama pula. Jarak ruang radiology dengan tempat bapak itu ditempatkan tidaklah jauh. Hari biasa mungkin bisa ditempuh dalam waktu 5 menit, tetapi malam itu kita harus menempuhnya dalam 35 menit, karena kita harus pelan-pelan dan berhati-hati dalam melangkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kita sampai ketempat bapak tua itu ditempatkan, disebuah gang tepat didepan klinik gigi. Tikar lusuh diatas tumpukan kardus, itulah tempat tidur bagi bapak tua itu. Sekali lagi, semua memang serba darurat. Aku melihat anak muda berkaca-mata itu, dan teman-temanya. Mereka semua muda dan bersemangat, walau nampak kelelahan luar biasa diwajahnya. Aku kemudian menawarkan air minum kepada mereka, mereka langsung menyambutnya seketika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sejenak beristirahat, dan aku kemudian bertanya pada anak muda itu tentang latar belakannya. Dia dan teman-temannya adalah mahasiswa UGM dan telah terbiasa menjadi sukarelawan. Kemudian aku bertanya “ Kalau boleh tahu, apa yang membuat mas tergerak menjadi relawan?”. Dia memandangku kaget, seolah tidak percaya dia balik bertanya “Apa mas tidak tergerak, ketika melihat korban yang sebegitu banyak? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagai tersengat petir!, aku diam seribu bahasa. Aku tidak mengira dia bakal balik bertanya seperti itu. Aku kemudian memandang bapak tua itu, kulihat tenang dia beristirahat. Ehmm, aku menarik nafas panjang, dan bertanya dalam hati, apa kalau bukan karena bapak tua itu, akankah aku berada dirumah sakit ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Sekali lagi sebagai bentuk terimakasih sedalam-dalamnya bagi para relawan gempa. Dan mengingatkanku bahwa orang yang paling celaka, adalah orang yang terkena bencana, dan dia tidak mengambil hikmah dibali bencana itu. Sebagai respon tulisan sahabatku &lt;a href="http://bootdir.blogs.friendster.com/bootdirs_log/2006/11/wong_jogja_dadi.html"&gt;Budi di sini&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-4247551537981788928?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4247551537981788928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/4247551537981788928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/nikmat-mana-yang-akan-kau-dustakan.html' title='Nikmat mana yang akan kau dustakan'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-8276240631100793796</id><published>2006-11-01T15:42:00.000+11:00</published><updated>2006-11-03T07:22:20.517+11:00</updated><title type='text'>Making my own path</title><content type='html'>If there is still unjustice conditions in our society, there will be a need for us to strugle &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;and now is the time!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/Spring/Image050-topoftheworld3.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ternyata bisa sangat menyenangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dulu adalah pendamba senja. Bagiku, senja memberikan misteri yang sangat menggoda. Lautan jingga yang menghias langit, dan udara yang beranjak mendingin, adalah sensasi tersendiri yang dirasa berbeda di setiap kota yang kukunjungi. Berada di senja bagaikan berada di sebuah dermaga, dengan perahu tertambat untuk mengarungi sebuah dunia antah berantah. Malam, sebagai penghujung senja, adalah dunia yang tidak habis-habisnya diarungi. Keremangannya yang ditutupi oleh bias sinar lampu-lampu dan kesunyiannya yang dikelabuhi oleh dentuman musik MP3, telah menjadi denyut yang menghiasi hari-hariku yang lalu. Betapa dulu aku pernah menjadi budak-budak angka dan timbunan kertas-kertas yang harus dihias kanan kiri agar menjadi sebuah produk yang disebut ‘informasi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah dunia malam, dunia yang begitu melelahkan. Dunia yang telah mengkaparkan diriku hingga aku tak bersalam sapa dengan sang mentari selama bertahun-tahun. Dunia yang membuatku lemah dan bemata kuyu. Dunia yang menipuku dengan mimpi-mimpi yang diakhir hari kemudian mengkhianatiku. Dunia yang membuat diriku terpenjara dalam kesepian ditengah keramaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang terlalu sayang ditinggalkan, kata orang-orang. Dan aku sadari aku masih terjebak dalam iramanya. Melewatkan malam sampai lampau jauh, dan terkapar tak sadarkan diri, sampai matahari telah meninggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia itu masih menyanderaku. Walau waktu telah berlalu, dan aku mencoba membuangnya jauh, tetapi dia tetap menghampiriku dan kuterima dengan ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini kucoba berubah. Now is the time! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru kemarin, aku mencoba lagi meluangkan diri mengais-ngais sisa-sisa ide yang begitu menggelora saat muda dulu. Mencoba memperbarui komitmen untuk mewujudkannya setapak demi setapak, sehingga kemudian tertulislah selarik strategi kedepan dengan tajuk “Make My Own Path”. Strategi yang sama, dengan puluhan strategi yang pernah aku tulis sebelumnya, kemudian aku bubuhi dengan semboyan “Now is the Time!” agar nampak menggelegar. Dan apa lagi? O ya, aku perlu tema, dan pagi ini aku menemukannya. Tidak lain dan tidak bukan “Pagi’ itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi adalah saatnya kita ‘bangun’ dan ‘berkemas-kemas’. Mungkin lebih lengkap kalau ditambah ‘menghias diri’ dan sedikit ‘sarapan’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pikir sudah cukup untuk saat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-8276240631100793796?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8276240631100793796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/8276240631100793796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/making-my-own-path.html' title='Making my own path'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-344270735169706310</id><published>2006-11-01T15:40:00.000+11:00</published><updated>2006-11-01T15:42:07.036+11:00</updated><title type='text'>I have a dream</title><content type='html'>The video speaks of million words&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/PbUtL_0vAJk"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/PbUtL_0vAJk" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S You have to be a member of YouTube to watch the video&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-344270735169706310?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/344270735169706310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/344270735169706310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/11/i-have-dream.html' title='I have a dream'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-619412479397020231</id><published>2006-10-28T16:44:00.000+10:00</published><updated>2006-10-28T16:46:50.829+10:00</updated><title type='text'>Bening</title><content type='html'>Bening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bening aku lihat dalam embun. Malam yang dingin meng-kondensasi uap air menjadi titik-titik air yang bening. Mengendapkan semua kotoran dan hanya meninggalkan kebaikan. Menempel lembut diujung-ujung daun dan memberikan ketenangan. Itulah sesuatu yang fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa lapar yang panjang, dahaga yang tertahan dan nafsu yang terkekang semoga seperti malam yang dingin. Meng-kondensasikan ruh yang fitri dan melarutkan kerak-kerak di hati. Agar hati ini menjadi bening dan lembut seperti embun. Membuat dirinya bisa menempel pada jiwa-jiwa yang tenang dan menuntun kita pada jalan kembali pulang. Ketempat dimana Adam dan Hawa dulu sebelum berbuat dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sesungguhnya Allah akan membinasan umat manusia, jika diantaranya tidak ada lagi ada yang berbuat dosa. Allah sadar bahwa manusia adalah makhluk yang rentan berbuat dosa. Konsep dosa dalam Islam adalah pentingnya kesadaran. Dosa bukanlah sesuatu yang kita dapat dari keturunan, dosa bukanlah warisan. Oleh karena itu, Islam memandang tinggi umat yang menyadari dosa-dosanya dan berbuat kebaikan untuk menebusnya. Subhanallah” Cerama Bp Nuim Khayath pada perayaan Iedul Fitri di Melbourne University. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahun kita diberi satu kesempatan. Kesempatan untuk terlahir lagi di dunia tak berdosa bagai bayi yang baru saja lahir. Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di masa lalu. Kesempatan untuk menjadi lebih baik. Kesempatan untuk menjaga diri dalam tatanan yang telah digariskan, agar kita bisa pulang ke tempat nenek moyang kita berasal. Tanah air bagi setiap umat manusia. Yaitu Surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Iedul Fitri 1427 H. dan Selamat terlahir lagi ke dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-619412479397020231?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/619412479397020231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/619412479397020231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/10/bening.html' title='Bening'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6760317782548829405</id><published>2006-10-15T11:57:00.000+10:00</published><updated>2007-09-21T16:53:05.819+10:00</updated><title type='text'>Ringkasan Ceramah Buka Puasa di Konjen 14 Okt 06</title><content type='html'>Menampilkan Wajah Islam yang Lembut&lt;br /&gt;Ringkasan Ceramah Bp Tolchah Hassan pada Buka Bersama di Konjen&lt;br /&gt;14 Oktober 2006 5.15 p.m – 6.30 p.m AEST&lt;br /&gt;Profil singkat beliau di : &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Tholchah_Hasan"&gt;wikipedia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;……. (saya datang telat jadi tidak tahu isi ceramah dari awal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam pada dasarnya memiliki kharakter moderat, misalnya, konsep shadaqah yang paling disukai Allah dan Rasul dalam Islam adalah&lt;br /&gt;(1) Mendamaikan dua orang yang sedang berkonflik&lt;br /&gt;(2) Mendekatkan hubungan antara dua golongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat ini ada dimensi-dimensi yang hilang dalam beragama, yaitu dimensi etis dan humanis, akibatnya semangat keislaman yang berlebihan (pada beberapa orang) justru melanggar nilai-nilai Islam itu sendiri, contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal dibawah ini harus ditunaikan oleh setiap muslim tanpa ada dispensasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Berbakti pada orang tua, tanpa memandang apakah mereka muslim atau kafir. (ilustrasi) saat ini jangankan berbeda agama, berbeda partai saja ada anak yang tidak mau lagi bersilaturahmi dengan orang tuanya.&lt;br /&gt;(2) Memenuhi janji, baik kepada sesame muslim ataupun orang kafir. &lt;br /&gt;(3) Menjalankan amahah, baik menyangkut umat Islam atau umat Kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai moral tersebut saat ini sering dilupakan atas dasar semangat beragama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu saat ini perlu adanya komunitas Islam yang ramah, damai dan bisa hidup dengan siapa saja tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekstrimitas, baik kanan maupun kiri, dalam Islam sebenarnya telah ada sejak jaman dahulu (hanya penyebutannya saja yang berbeda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Khawarij adalah kaum yang sanagat ketakukutan akan tercemar nilai-nilai dari luar Islam. Mereka kemudian menjadi sangat eksklusif dan hanya menerima segala sesuatu yang berasal dari Islam. Akibatnya seringkali mereka bersikap keras dan radikal atau saat ini sering disebut sebagai sikap fundamentalis. Fundamentalisme adalah sikap yang mengakar yang tidak mau berhubungan (bersosialisasi) dengan pihak lain.&lt;br /&gt;(2) Mu’tazilah atau saat ini dikenal dengan sebutan liberalis. Kadar ke mu’tazilahan itu berbeda-beda, ada yang 24 karat dan ada yang 2 karat. Kadar yang 24 karat, adalah kelompok yang terlepas dari agama, dan hanya menjalankan agama berdasarkan hawa nafsu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, bahwa (seharusnya) umat Islam menjadi umat yang bisa menjaga dirinya sendiri (prinsip) tetapi tidak melakukan tindakan yang berlebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh orang yang berlebihan dalam menjalankan Islam adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga orang yang baru masuk Islam di jaman nabi, orang pertama tidak mau kawin agar ibadahnya tidak terganggu, orang kedua setiap hari berpuasa dan tidak mau bekerja, dan orang ketiga malam harinya dihabiskan seluruhnya untuk ibadah sehingga dia menelantarkan istrinya. Suatu hari mereka berkumpul di masjid, dan terlibat perdebatan siapakah diantara mereka yang  terbaik. Perdebatan itu tidak berkesudahan, kemudian mereka bersepakat membawa masalah tersebut ke Nabi Muhammad SAW. Setelah mendengar semua cerita mereka Nabi bersabda bahwa apa yang mereka lakukan tidak ada yang baik. “Saya adalah utusan Allah. Wahyu datang kepada Saya, selayaknya saya adalah manusia yang paling bertaqwa diantara kalian, namun aku tidak setiap hari puasa, aku masih berkerja, aku tidur dimalam hari dan aku juga kawin”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ceramah ditutup dan dilanjutkan tanya jawab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 1 : Dedi Ghazi (Angkatan Udara RI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nama saya Dedi Ghazi, dan saya tidak keberatan dipanggil Al Ghozi, (kemudian dia bercerita tentang keadaan di Iraq yang tidak lebih baik setelah Saddam jatuh), kemudian bertanya bagaimana seharusnya umat Islam merespon masalah tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bp Tolchah Hassan menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya akan menjawab apa yang saya bisa, karena Imam Malik berkata “ menjawab sesuatu yang tidak kita ketahui adalah kebodohan”. Bp Tolchah tiga kali ke Iraq, dua kali sebelum Perang Teluk 1, dan satu kali setelah Perang Teluk 1. Suatu ketika saat mengikuti sebuah Konferensi Negara-Negara Islam, Bp Tolchah berdialog dengan akademisi Iraq, yang sebenarnya tidak sepaham dengan Saddam, tetapi mereka berkata “paling tidak Saddam tidak pernah menjual Islam dan Arab, seperti Raja Fahd”. Iraq adalah negara yang sangat kaya minyak dan memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi, maka Amerika Serikat bependapat negara ini harus segara dihancurkan sebelum jadi ancaman nyata bagi mereka. Invasi Amerika bukan hanya menginjak-injak harga diri sebagai bangsa, tetapi juga telah menginjak-injak harga diri sebagai manusia, oleh karena itu tidak heran invansi ini menimbulkan banyak sikap radikal untuk menentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika datang ke Iraq dengan dalih ingin menegakkan demokrasi, tetapi apakah itu benar? Kita bisa melihat kasus di Palestina dimana Hammas menang pemilu secara sah namun Amerika Serikat menolak kenyataan tersebut (dan terus menyudutkan Hammas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan  2 : dari anggota kelompok pengajian Footscray&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan: “Dalam kasus Hezbollah vs Israel ada salah satu ulama yang menyatakan bahwa kita tidak wajib membela Hezbollah karena mereka Syiah, bagaimana tanggapan Bapak atas masalah ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bp Tolchah Hassan menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama mereka masih Islam, maka ikatan ukhuwah antara sesama muslim masih berlaku” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah bersabda bahwa jikalau Allah menginginkan maka Allah bisa saja menciptakan manusia itu sama (kenyataaannya sebaliknya), oleh karena itu perbedaan adalah salah satu keniscayaan, maka kita harus sadar bahwa perbedaan itu ada dan tidak boleh menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk permusuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan jadikan kebencian terhadap suatu kaum membuat kita berlaku tidak jujur (adil)”. Allah tidak memberikan kewenangan kepada manusia untuk membuat penilaian atas keislaman orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus bisa membedakan apakah sikap sebuah negara (Arab Saudi –pen) adalah sikap agama atau sikap politis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Arnold Tonybee adalah “kebencian warisan/turunan” bangsa Arab terhadap bangsa Persia (Iran), karena pada abad 4 H dimasa Bani Abbasiyah, kekuasaan Islam telah bergeser dari Bangsa Arab ke Bangsa Persia”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan 3: Bp Eko dari Essendon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat ini banyak pihak disebut ekstrimis atau fundamentalis, apakah karena masyarakat terlalu lentur dalam menjaga nilai-nilai agama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bp Tolchah Hassan menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu kita ingat, agar kita terhindar dari sikap-sikap yang berlebihan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran mutlak hanya ada pada kebenaran wahyu. Diluar itu ada pemikiran-pemikiran Islam, yang bersumber pada pemahaman terhadap kebenaran wahyu tersebut. Tetapi kita harus ingat, bahwa selama itu produk manusia maka tidak ada kebenaran absolute padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Madzab. Imam Syafii berkata “Pendapatku, menurutku adalah yang paling benar, namun tidak menutup kemungkinan pendapat orang lain bisa jadi lebih benar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah Sholat Tarawih. Apakah kita harus melakukannya dengan 8 rakaat atau 20 rakaat?, atau 36 rakaat? Semuanya memiliki dasar hukum. Pada Konferensi di Mesir tahun 1977 yang diikuti oleh Bp Tolchah Hassan, disimpulkan bahwa Sholat Tarawih adalah Sholat sunat “tantawu’ (mohon dikoreksi kalau tulisannya salah) atau sholat sunat sukarela. Sehingga tidak ada batasan baku mengenai waktu dan jumlah rakaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip yang kedua, adalah Ulama seharusnya tidak egois dan berpaku pada faedah umat. Contohnya pengalaman Bp Tolchah Hassan saat umrah pada waktu yang lalu. Saat itu Sholat Jum’at dan suhu menunjukkan 43 derajat Celsius. Imam Besar Masjidil Haram memperpendek ceramah menjadi hanya 10 menit, dan mengimami sholat dengan membaca Al Kautsar dan Al Ikhlas karena beliau tahu bahwa jamaah sedang kepanasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip lain yang perlu kita ingat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Agama itu pada dasarnya menghilangkan kesulitan, misalnya Sholat kalau kita tidak mampu berdiri, duduk, kalau tidak mampu berbaring dan seterusnya.&lt;br /&gt;(2) Agama itu pada dasarnya mudah. Ayat-ayat dalam Al-Quran selalu dimulai dengan ‘bashiran’ – kesenangan  baru ‘nadhiran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, Bp Tolchah Hassan mengambil contoh waktu Nabi Muhammad SAW meninggal, beliau masih menggadaikan (berhutang) kepada orang Yahudi. Sesungguhnya Nabi sangat bisa meminjam dari sahabat-sahabatnya, namun hal ini memberikan kita contoh, bahwa selain masalah ibadah tidak ada batasan-batasan dalam kita bergaul dengan kaum non-Muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita terakhir sekaligus memberikan jawaban bagi pertanyaan seorang Ibu, tentang apa batasan kita berhubungan dengan orang Non-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Acara tanya jawab ditutup diteruskan buka bersama dan Sholat Maghrib berjamaah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara selanjutnya adalah penjelasan mengenai Indonesian Islamic Center yang akan segera dibangun dan sedikit taushiah mengenai pembangunan masjid oleh Bp Tolchah Hassan. (berhubung saya tidak membawa buku catatan saya pada waktu itu, maka dalam kesempatan ini saya tidak bisa membuat ringkasannya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posting Terkait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rudyland.blogspot.com/2006/12/membumikan-al-quran.html"&gt;Ringkasan ceramah Quraish Shihab di Monash&lt;/a&gt; - Membumikan Al-Qur'an&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6760317782548829405?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6760317782548829405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6760317782548829405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/10/ringkasan-ceramah-buka-puasa-di-konjen.html' title='Ringkasan Ceramah Buka Puasa di Konjen 14 Okt 06'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-25237819847511094</id><published>2006-10-12T14:02:00.000+10:00</published><updated>2006-10-12T14:10:36.417+10:00</updated><title type='text'>Tulip Festival and Old Train Journey</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tulip Festival&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/Spring/Image012-tulip-1.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comment: I hope someday I can see the 'real tulip' in Netherland&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From Puffing Dilly to Belgrave with Steam Train&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/Spring/Image108-kereta.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comment: It is look very dangerous, Don't you think? But many kids love it. I remember when I went "Mudik" in Lebaran back home.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-25237819847511094?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/25237819847511094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/25237819847511094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/10/tulip-festival-and-old-train-journey.html' title='Tulip Festival and Old Train Journey'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1489855163296242724</id><published>2006-10-12T12:20:00.000+10:00</published><updated>2006-10-12T13:51:46.143+10:00</updated><title type='text'>Hey Mate! Where is my Country?</title><content type='html'>It was just an ordinary boring lecture yesterday evening, nothing special really,until I woke up by a small incident in the middle of our case study discussion. We were discussing about Singaporean Port and came up with identifying major ports in Asia. There was a map showing major ports in Asia, and suddenly my friend who sitting next to me shouted, " hey I lived in there (Guangzhou) ". Then I started to scroll down the map to look for other major port in Asia, interestingly all of our group member's country were on the map, except for me! Hey Mate where is my Country?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What's wrong with my country? Do we have the largest archipelago in the world? But why don't we have any single port which we can proud of? There is something missing here. I think my country has forget something, that our ancestor was sailorman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last week we also dicussed about a trend in US where the company started to outsource their IT to off-shore. There was also a similiar map with mark in Bangalore, Dalian, Singapore, Malaysia and other off-shoring IT plance, and once again none of them in Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What's wrong with my country? I think that we are losing a direction while other neighbour has find their track. At first we have forget our history (ancestor) and second, now we have lost the track. We are the country in nowwhere, so not surprisingly that nobody need to put us in the map.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1489855163296242724?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1489855163296242724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1489855163296242724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/10/hey-mate-where-is-my-country.html' title='Hey Mate! Where is my Country?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7350089033024744108</id><published>2006-09-30T11:28:00.000+10:00</published><updated>2006-09-30T11:33:38.848+10:00</updated><title type='text'>Pendidikan di Indonesia</title><content type='html'>Berikut ini saya posting tanggapan saya untuk sebuah diskusi di milis Kagama_Victoria. Semoga berguna dan mohon tanggapannya. Terimakasih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di Australia saja diperkirakan sekitar 200.000 WNI yang sekolah atas beaya sendiri/ortu yang uangnya dikirim dari Indonesia. Kalau seorang untuk selesai studi habis 500 juta maka sudah 100 triliun uang mengalir ke OZ selama katakanlah 4-5 tahun.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Pertanyaan saya , biar diskusinya makin membumi, bisakah PTN dan PTS di Indonesia menarik 50% saja dari jumlah mahasiswa diatas....?. Anggap saja ini sebagai tantangan dan peluang dalam menghadapi kompetisi global...?.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;Silakan yang punya pendapat menanggapi, dari berbagai sudut pandang tentu.&lt;br /&gt;                 &lt;br /&gt;                nuwun,&lt;br /&gt;                Widodo (sambil nunggu sahur....)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikut urun rembug,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih pada mas Wid, karena ini tema favorit saya, masalah pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengajar di UMY, saya dulu pernah bekerja di salah satu kantor akuntan internasional bersama mas Gatot.Saat itu kantor tersebut merupakan kantor favorit bagi lulusan akuntansi. Ada 70 orang yang diterima pada saat itu, 27 dari UI, 11 dari UGM, 8 dari UNPAD, 3 dari Brawijaya sisanya lulusan Universitas swasta baik dalam maupun luar negeri. Hal yang mengagetkan saya peringkat ketiga terbanyak diduduki oleh lulusan Universitas Tarumanegara dengan meloloskan 11 anak (sebetulnya sama banyak dengan UGM tetapi saya posisikan di nomer tiga saja, he he).  Jujur saat itu saya belum pernah dengar Universitas Tarumanegara dan saya lebih kaget lagi katanya satu angkatan di jurusan akuntansi mahasiswa bisa sampai 1000 orang! (UGM satu angkatan saya dulu hanya 100 orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya terbuka saat itu, image yang digembar-gemborkan dosen kita dulu bahwa Jurusan Akuntasi UGM dan UI adalah terbaik di Indonesia pupus sudah. Saya bertanya apa sebenarnya ukuran yang kita jadikan patokan untuk menentukan yang 'terbaik' atau bermutu 'baik'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari situ, saya membuat  usulan bagi UMY untuk mengukur kualitas jurusan Akuntansi UMY dengan sebarapa besar tingkat serapan lulusan UMY di dunia kerja. Ukurang itu menurut saya lebih obyektif dan lebih diterima pasar dari pada ukuran-ukuran lain, misal gedung, fasilitas, jenjang pendidikan dosen, dan bahkan akreditasi (sebagai catatan Jurusan Akuntasi UMY baru saja memperoleh akreditasi A). Ukuran tersebut jelas tidak mencerminkan semua kualitas, namun kalau saya disuruh memilih fokus saya akan pilih ukuran itu, karena kenyataannya sekarang mayoritas orang tua dan mahasiswa berorientasi cepat kerja setelah lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pakai ukuran itu Jurusan Akuntansi UGM bisa dikatakan menang kalau pasar kerjanya BUMN dan pegawai negeri. Tetapi kalau pasarnya perusahaan multinasional UGM kalah jauh dengan UI dan Univ. Swasta di Jakarta. Sebenarnya kalau kita jeli, UI secara sistem pendidikan sebenarnya juga telah kalah sama Uni. Pelita Harapan (UPH), Uni.Bina Nusantara (Binus), hanya karena UI memiliki input mahasiswa yang jauh lebih unggul maka UI saat ini lebih unggul dari Uni.-Uni swasta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali lagi pada kualitas dan bagaimana kita mengukurnya. Kalau kita bisa menawarkan kualitas dengan ukuran yang tepat, saya yakin bahwa banyak mahasiswa tertarik kuliah di Indonesia. Seperti misalnya cerita teman saya yang mengurus Program Internasional jurusan akuntansi UGM, banyak calon mahasiswa dari Cina yang tertarik bersekolah di UGM, karena disamping murah, kualifikasi dosennya luar biasa (mayoritas doktor luar negeri).Tetapi masalahnya siap tidak kita memberikan pelayanan yang berkelas internasional, jangan-jangan dosen-dosen itu cuma pasang nama saja dan lebih sibuk berproyek diluar (seperti saya he he). Siapkah kita memberikan pelayanan kepustakaan dan database seperti standar internasional? Banyak PTS dan PTN kita yang menanamkan dana milyaran rupiah untuk membangun gedung tetapi sedikit yang menanamkan milyaran rupiah untuk membangun sistem informasi seperti yang dilakukan Binus dan UPH, dan lebih sedikit lagi yang mengalokasikannya untuk membangun database dan melengkapinya dengan jurnal-jurnal terbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah prasarana, dalam hal ini buku dan bahan ajar selalu saja jadi masalah saya. Ketika saya mengajar Audit Internal di UMY, dan saya ingin menyamakan dengan praktek di dunia saat ini, saya dihadapkan pada kenyataan bahwa buku yang saya perlukan tidak ada di Indonesia, dan saya harus membeliknya di Amazon seharga Rp1.7 juta. Perlukah saya membelinya dengan uang saya sendiri?, ketika dana dari institusi tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain, saat ini saya mencoba mendalami perkembangan akuntansi baru yang biasa dikenal dengan Akuntansi Forensik. Cabang ini masih sangat baru sehingga sangat sedikit literatur yang membahasnya. Bahkan di perpustakaan Unimelb saja buku-buku yang membahas tentang cabang ini disimpan di Reserve Area, alias hanya boleh meminjam selama 2 jam. Kalau kita mau bersaing mampu tidak kita investasi besar-besaran untuk membeli prasarana penunjang seperti buku, jurnal elektronik dan lain sebagainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, saya pribadi sebenarnya tidak bermasalah dengan banyaknya orang Indonesia yang bersekolah di Luar Negeri berapun biayanya, karena saya yakin biaya itu jauh lebih sedikit dibanding yang dikeluarkan pemerintah Malaysia atau India mengirimkan anak didiknya ke seluruh penjuru dunia. Ketika India ditanya, apa mereka tidak takut terjadi 'brain drain' karena mayoritas orang India yang bersekolah di Luar Negeri tersebut memilih untuk tidak pulang alias bekerja di Luar Negeri. Salah satu pemimpin India pada saat itu bilang, tidak apa-apa, India saat ini belum bisa mempersiapkan infrastruktur untuk menunjang kepintaran mereka (mayoritas orang India mendalamai Finance dan IT), pada saatnya nanti saat India telah siap mereka akan bersama-sama kita membangun India menjadi besar dan maju. Saya berharap seperti itu yang terjadi di Indonesia, saat ini Indonesia belum mampu mengahargai dan menampung banyak lulusan luar negeri. Tetapi seperti burung malam, suatu saat mereka akan rindu pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudy&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7350089033024744108?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7350089033024744108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7350089033024744108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/pendidikan-di-indonesia.html' title='Pendidikan di Indonesia'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-6079382066124664674</id><published>2006-09-29T11:37:00.000+10:00</published><updated>2006-09-29T12:19:52.302+10:00</updated><title type='text'>Untuk Bangsaku : Buku ini Aku Pinjam</title><content type='html'>"Buku ini aku pinjam, &lt;br /&gt;Khan kutulis sajak indah,&lt;br /&gt;hanya untukmu seorang,&lt;br /&gt;temani mimpi-mimpi malam" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- "Buku ini aku pinjam, by Iwan Fals -- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah berjanji kepadamu untuk menuliskan cerita-cerita tentang perjalananku dalam buku harianmu, walau saat ini aku tidak lagi bisa menulisnya sesering dulu. Begitu banyak hal yang harus aku kerjakan, sehingga menulis bukan lagi aktifitas yang bisa dilakukan tiap saat. Kadang aku harus mencuri-curi waktu ditengah pagi atau dipenghujung malam untuk sekedar menuliskan apa yang ada diangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok. Aku tidak akan berpanjang kata, dan menghabiskan Bukumu yang saat ini telah mulai menipis. Perjalananku menyusuri kemana arah matahari terbit telah jauh sudah. Banyak peristiwa yang semakin memperkaya pandanganku, bahwa bumi ini sebegitu luasnya namun tetaplah satu, dan kita harus belajar untuk berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kamu sedikit kaget, kalau aku bisa berubah. Seorang yang keras kepada dan punya pendirian seperti karang, toh juga manusia, ada kalanya dia belajar, mendengar, merenung dan kemudian berjalan ke arah baru yang diyakininya. Kamu tentu masih ingat tentang semangat kita yang membara, dan bagaimana kita akan mencapai kemenangan. Semangat itu masih ada, namun aku tambahi sedikit dengan semangat untuk berbagi. Termasuk juga berbagi kepada mereka yang selama ini kita anggap musuh-musuh kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku perlu sedikit bercerita tentang apa yang kita perangi selama ini, musuh terbesar dari segala zaman, yaitu korupsi. Selama aku mengembara aku pernah singgah sejenak di rumah salah seorang cendekia muda negeri kita, jangan heran dua atau tiga  tahun lagi kalau dia bakal sering muncul di media karena tulisannya, dia memberikan sedikit ilustrasi sederhana namun tajam, dia bilang bahwa apa yang kita perangi selama ini yaitu korupsi, muncul akibat adanya perubahan peraturan di negeri kita. Dahulu kala, nenek moyang kita, biasa memberi upeti kepada raja atau pejabat negara sebagai bentuk penghormatan, namun sekarang kita tidak bisa lagi karena itu korupsi.  Dahulu pejabat kita biasa meninjau daerah kekuasaannya dan pulang dengan berbagai macam pemberian dari rakyatnya, sekarang kita tidak bisa lagi karena itu adalah korupsi. Banyak yang dulu biasa kita lakukan, dan orang sekarang menyebutnya itu 'budaya' yang sekarang tidak bisa kita lakukan lagi, karena jaman telah berubah. Apa yang menjadi kebiasaan jaman dulu sekarang menjadi penyakit masyarakat yang dihujat dimana-mana, oleh karena itu kita tidak perlu khawatir, rakyat kita hanya butuh waktu  barang sebentar untuk mempelajari 'budaya baru' itu, selanjutnya mereka akan menjalaninya tanpa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;reserve&lt;/span&gt;  (maaf aku lupa apa istilahnya dalam bahasa kita, sudah mulai pikun rupanya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan lain aku berbicara dengan salah satu pembesar kita di negeri orang ini. Dia berkata bahwa negara-negara yang sedang berkembang pesat sekarang ini adalah negara-negara yang dipimpin oleh pemimpin semi-otoriter, beliau mencontohkan Cina, Malaysia, Singapura dan Vietnam. Aku kemudian jadi berpikir, apakah haluan demokrasi yang sedang kita kayuh salah jalan? Tempo hari sebelumnya ada orang Malaysia yang memberikan pujiannya terhadap apa yang telah kita capai, dan dia bilang "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Once&lt;/span&gt; negara kita telah punya pondasi demokrasi yang kuat, maka negara kita akan jadi bangsa yang besar dan maju", aku berpikir ya itu benar, kalau saat itu kita tidak lagi memiliki korupsi seperti sekarang ini. Kemudian aku mencoba merenung, apa yang sebenarnya kita inginkan dan perlu lakukan? Mungkin kita perlu duduk bersama dan merumuskannya, daripada mendengarkan petuah-petuah dari orang-orang yang merasa tahu akan bangsa kita. Kenapa kita tidak menulis jejak takdir kita sendiri, bukan mengikuti apa yang dimaui orang? atau apa yang lagi nge-tren di dunia global saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku disini juga belajar 'merasa menjadi minoritas'. Dan itu adalah pengalaman berharga yang sangat aku syukuri. Kamu tahu khan kalau aku lahir di suku terbesar, memeluk agama terbesar di negeri kita. Mana pernah aku merasa terkucilkan dan kecil? Dalam sebuah diskusi di asosiasi yang aku ikuti disini ada perdebatan hangat tentang "Perlukah kita mengorbankan kepentingan sedikit golongan untuk mencapai kepentingan yang lebih besar?". Presiden asosiasiku yang terhormat menekankan dan sangat memperjuangkan kepentingan minoritas, sampai-sampai mengorbankan prioritas yang menurutku sangat penting. Kami, sebagai anggota, tentu saja tidak sepenuh hati mendukungnya, dan kamu menginginkan adanya voting. Kemudian presidenku dan seperti pernah juga cendekia muda yang aku ceritakan diatas mengatakan sesutu yang menyengat kepalaku bagaikan listrik, bahwa demokrasi bukan melulu pada suara terbanyak, apabila suara terbanyak tersebut menghasilkan keputusan yang bisa mencederai keharmonisan hidup bersama maka keputusan tersebut harus dibatalkan. Oleh karena itu demokrasi harus dibingkai dalam semangat 'ethic' dan keterwakilan kalangan minoritas (minority rights). Oo begitu, aku baru menyadari bahwa apa yang aku anggap buruk, tidak seburuk yang aku sangka. Aku mungkin perlu berjalan lebih jauh lagi ke arah matahari terbit, untuk melihat segala sesuatu yang lebih bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir aku mengikuti diskusi tentang perkembangan terakhir di tanah air kita. Kembali cendekia muda yang aku ceritakan diatas menjadi pembicara. Aku merasa sangat tergugah dan tergerak untuk berbicara, membela sesuatu yang selama ini aku anggap benar. Tetapi mungkin aku perlu menyimpannya dulu, aku perlu mengangkasa lebih tinggi lagi dan berputar-putar sejenah. Mungkin aku terbang berlawanan angin, tetapi seperti itulah aku sebagai pengembara, bagai elang yang terbang sendirian diantara tebing-tebing curam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar mereka bicara, telinga kita terkunci,&lt;br /&gt;biar tahu, biar rasa, maka tersenyumlah kasih&lt;br /&gt;tetap langkah, jangan hentikan,&lt;br /&gt;cinta ini milik kita"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Buku ini aku pinjam, by Iwan Fals --&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brunswick, catatan september 06&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/1600/Image087.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/320/Image087.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;Photo 1: Sedang jaga di Federal Square waktu acara Festival Indonesia&lt;/br&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/1600/Image104.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/320/Image104.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br&gt;Photo 2 : Waktu dilantik oleh Pak Djoko Kirmanto sebgai pengurus Kagama Victoria&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-6079382066124664674?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6079382066124664674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/6079382066124664674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/untuk-bangsaku-buku-ini-aku-pinjam.html' title='Untuk Bangsaku : Buku ini Aku Pinjam'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-760047258545154399</id><published>2006-09-25T14:09:00.000+10:00</published><updated>2006-09-25T15:27:03.036+10:00</updated><title type='text'>Ramadhan 1 - Astaghfirullah</title><content type='html'>"...nafsu jiwa yang membuncah, menutupi mata hati....&lt;br /&gt;seperti terlupa bahwa nafas khan terhenti..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rindu menelisik hati, ketika melewatkan ramadhan di negeri orang. Tidak ada orang memukul tetabuhan untuk membangunkan kita sahur. Tidak ada sirene tanda buka puasa atau kolak untuk pelepas dahaga. Tidak juga ada sendau gurau dengan saudara ketika menunggu waktu Sholat Tarawih datang. Terasa sepi, hanya lagu Opick yang aku putar berkali-kali untuk menimbulkan sedikit suasana yang berbeda, bahwa ini Ramadhan. Ramadhan pertamaku yang aku lewatkan di negeri orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir empat bulan kulewatkan disini, dan tidak pernah sekalipun ada rasa rindu rumah (homesick) sekuat ini. Walau siang hari telah melewatkan sejenak waktu untuk menelopon anggota keluarga di Jogja, namun masih ada sesuatu yang hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mendengarkan lagu-lagu Opick, yang selayaknya tembang di tengah padang gersang, aku mulai menghitung-hitung apa saja yang telah aku lakukan Ramadhan kemarin (1426 H).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/1600/100_7885-idul%20fitri.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger2/459/655/320/100_7885-idul%20fitri.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Photo diatas diambil saat Idul Fitri 1426 H di Masjid At-Taqwa. Tema Ramadhan tahun lalu adalah "Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir kita". Sungguh menyentuh dan bermakna ketika aku melihatnya setahun kemudian (betapa gempa yang hebat telah menjadikan tema tersebut kenyataan bagi beberapa orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kemudian bersemangat lagi mencari photo-photo yang lain. Ada photo saat Ramadhan 1424 H yang sangat berkenang, yaitu saat mengikuti Pengajian Aa Gym. Photo tersebut sekarang berada di Komputer Sekretariat AMT (Angkatan Muda At-Taqwa). Aku jadi teringat saat dulu kita berjuang mengumpulkan uang sedikit-demi-sedikit untuk membeli komputer buat AMT. Saat-saat dimana aku sangat bersemangat untuk berkarya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;di pending dulu, sambil nyari photo2 yang lain&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-760047258545154399?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/760047258545154399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/760047258545154399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/ramadhan-1-astaghfirullah.html' title='Ramadhan 1 - Astaghfirullah'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7193628080453086545</id><published>2006-09-15T15:19:00.000+10:00</published><updated>2006-09-15T15:21:10.911+10:00</updated><title type='text'>Sepotong Semi</title><content type='html'>Sepotong semi yang sempat terekam oleh kamera&lt;br /&gt;&lt;br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://img.photobucket.com/albums/v305/Rudyland/Spring/Image046.jpg" border="0" alt="Photobucket - Video and Image Hosting"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7193628080453086545?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7193628080453086545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7193628080453086545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/sepotong-semi.html' title='Sepotong Semi'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3673741356501783644</id><published>2006-09-13T13:32:00.000+10:00</published><updated>2006-09-13T13:51:44.859+10:00</updated><title type='text'>Semi</title><content type='html'>Tak terasa kaki telah melangkah jauh dan waktu juga terasa begitu cepat lewat. Mencoba melihat kebelakang, sambil menikmati segelas teh yang segera menjadi dingin oleh balutan angin winter. Hidup seperti menaiki feri kecil. Singah sebentar dari terminal ke terminal, dan selanjutnya kita tahu bahwa terminal itu bukanlah terminal terakhir, dan kita harus tetap terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah musim semi datang. Ketika badan mulai letih dan tenaga telah jauh berkurang. Kelopak mentari yang terlihat terang, dan sinarnya yang menembus daun-daun kecil di ranting-ranting yang kering, menimbulkan sebuah harapan baru. Di tengah ganasnya pertarungan di rimba kehidupan, selalu ada kebun yang menawarkan waktu sejenak untuk beristirahat. Berhenti sebentar untuk menikmati apa yang telah kita dapatkan. Termenung dan terpekur. Bahwa hidup sangatlah beruntung, ketika kita masih bisa mengingat kapan kita kalah, tersungkur dan kembali ingat bahwa kita hanya makhluk kecil  di tenggah panggung raksasa kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebunku kutemukan disini. Didalam hati, tidaklah jauh, dan selalu kubawa beserta kemanapun kaki melangkah. Hati itu memberi sebuah ketenangan, seperti cahaya bintang kecil menuntun perahu ditengah badai. Hati inilah yang menjadi pelita, kala gelap pekat perangkap dunia menyergap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan jauh, bukan lagi mencari taman gantung untuk menggantikan kebun kecilku. Aku hanya menari-nari mengikuti gendang kehidupan, tanpa menjadi mabuk. Aku hanya berlari-lari tanpa menjadi lelah. Aku hanya ingin sedikit berbagi, kepada beberapa penggemabara yang tengah tersesat dalam perjalannya (sama seperti ketika seseorang dulu menunjukkan kebun kecil dalam hatiku). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan musim semi kembali datang. Membawa pengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Sedang mempersiapkan diri menyambut "Musim Semi 1427"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3673741356501783644?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3673741356501783644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3673741356501783644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/semi.html' title='Semi'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-7492645656367072290</id><published>2006-09-13T13:28:00.000+10:00</published><updated>2006-09-13T13:32:10.091+10:00</updated><title type='text'>Sukseskan Festival Indonesia 14 -17 September 2006</title><content type='html'>Bukti nyata kreasi anak bangsa di tengah terpuruknya kondisi Indonesia akibat bencana dan korupsi yang tidak berujung, segelintir anak muda di Melbourne didukung penuh KJRI menggelar acara bertajuk Festival Indonesia 2006. Acara yang didukung kurang lebih 200 penampil, puluhan stand, food bazar dan kunjungan pejabat tingkat tinggi di Indonesia tahun lalu telah berhasil menyedot puluhan ribu pengunjung. Untuk lebih detail bisa di lihat di &lt;a href="http://festivalindonesia.com.au/about.htm"&gt;Festival Indonesia Web Site&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S Dalam acara ini Rudyland dilibatkan sebagai "Crowd Control". Untuk cerita dan liputan lebih lanjut, panteng terus blog ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-7492645656367072290?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7492645656367072290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/7492645656367072290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/sukseskan-festival-indonesia-14-17.html' title='Sukseskan Festival Indonesia 14 -17 September 2006'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-1126356970128083036</id><published>2006-09-04T00:00:00.000+10:00</published><updated>2006-09-04T00:25:11.273+10:00</updated><title type='text'>Cuaca dalam hidupmu</title><content type='html'>"Andai saja hidup itu semudah membaca berita cuaca di Melboune...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melbourne dikenal dengan kota 'sehari 4 musim' karena cuacanya yang bisa setiap saat berubah dalam satu hari yang sama. Misalnya hari ini, pagi tadi cuaca mendung dan kemudian hujan rintik-rintik, namun siangnya panas dan berangin, sore kembali hujan deras, malam berangin dan sangat dingin. Untungnya kota ini memiliki lembaga meteorologi yang handal sehingga rencana bepergian bisa dikompromikan (disesuaikaan) dengan perkiraan cuaca. Berbeda dengan keadaan di Indonesia yang hanya punya dua musim dan pergerakan cuaca yang monoton, membaca atau mendengar berita cuaca hanya jadi sesuatu yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hidupku 2 tahun terakhir ini, seperti 4 musim sehari tanpa ada berita cuaca.  Tengoklah paruh akhir 2004, aku masih terjebak di rutinitas sebagai 'pencari kutu' di sebuah kantor ternama di Jakarta. Setelah melewati pergulatan panjang (coba baca archive bulan Juni-Augustus 2004) maka aku memberanikan diri mengambil langkah nekat untuk keluar dari pekerjaan tanpa kejelasan setelahnya akan mengerjakan apa. Pahitnya menjadi pengangguran-setelah-bekerja selama 2 bulan (yang aku yakin jauh lebih berat dari pengangguran-sebelum-pernah-bekerja)membuat aku 'terpaksa' menerima pekerjaan (lagi-lagi) sebagai 'pencari kutu' di kantor pesaing kantorku sebelumnya.  Enambulan kemudian berpindah kerja lagi sebagai 'penerang bangsa' meninggalkan karir yang telah dibangun selama 2.5 tahun. Turbulensi hidup ternyata tidak berhenti disitu, baru saja senang ingin pulang kampung sekaligus ingin mengabdi kepada bangsa, datang tawaran yang tidak bisa ditolak untuk menjadi 'juru itung partikelir' di sebuah lembaga ternama di Indonesia. Selanjutnya mencoba menjalani dua karir di dua tempat yang berbeda yang memaksa harus pulang balik Jkt-Jogja satu minggu sekali, Senin sampai Kamis di Jkt, Jum'at sampai Minggu di Jogja, benar-benar luar biasa. Setelah proyek di Jakarta selesai satu lagi tantangan menghadang, upaya bersekolah ke luar negeri yang digagas lama ternyata telah menemukan jalannya. Belum lagi kejutan terakhir di tahun 2005, yang sangat diluar perkiraan aku sendiri, keluarga, maupun sahabat-sahabatku yaitu akhirnya aku menemukan seseorang yang mau menikah denganku. Lengkap sudah dua tahun tanpa jeda pergumulan cita dan pergantian segala macam cuaca didalam hidupku. Semua kelihatan begitu sempurna sampai datanglah gempa yang memporakporandakan semua,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja ada berita cuaca untuk memperkirakan cuaca hidupku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpikir sejenak aku baru sadar, betapa monotonnya hidup kalau segala sesuatu yang terjadi bisa kita perkirakan sebelumnya. Mungkin manusia bisa menjadi sombong, karena dia merasa dia berkuasa akan masa depan. Perasaan lemah, kecil dan malu mungkin tak ada dihati kita saat kita sujud, karena kita merasa bisa membuat rencana mahahebat untuk menggurui masa depan. Kita tidak merasa bahwa Allah-lah penentu akhir dari segala rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah cuaca, pagi ini aku memakai jaket tebalku lengkap dengan perlengkapan musim dingin. Beberapa temanku hanya memakai jaket tipis karena sekarang sudah masuk musim semi. Pakaianku nampak aneh, ditengah orang-orang yang telah memakai pakaian musim panasnya. Tetapi itulah untungnya membaca berita cuaca, saat siang harinya angin dingin kencang menerpa, aku sudah siap (sedang dua temenku kedinginan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin begitulah juga dalam hidupku, seringkali kita menjalani sesuatu yang tampak aneh dan tidak masuk akal. Namun kalau kita sudah membaca 'cuaca hidup' kita dan memperkirakan apa yang bakal terjadi kemudian, maka semuanya akan jadi masuk akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya cuma bisa mengulangi kata-kata yang telah aku yakini dari dulu " Pastilah rencana Allah pada akhirnya indah..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-1126356970128083036?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1126356970128083036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/1126356970128083036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/cuaca-dalam-hidupmu.html' title='Cuaca dalam hidupmu'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3441823821648045274</id><published>2006-09-01T08:41:00.000+10:00</published><updated>2006-09-01T09:18:19.918+10:00</updated><title type='text'>Apa arti sebuah maaf?</title><content type='html'>"Kata kadang bisa lebih tajam dari belati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Melben sini banyak koran gratis. Salah satunya namanya MX. Istriku biasa mengambilnya dari stasiun saat dia pulang dari kerja. Ada rubrik yang sangat aku suka, judulnya "Dr Bella". Isinya mirip-mirip artikelnya Cherie di "Sex and the City". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sometimes when we often do not realize, somebody's word can hurt us, at the same effect as physical blow..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Bella yang wajahnya mirip-mirip Luna Maya ini, menceritakan tentang pengalamannya dilecehkan oleh beberapa laki-laki gara-gara pakaian yang ia kenakan. Kata-kata itu begitu menyakitkan sehingga sampai waktu lama berlalu rasa itu tetap sama menyakitkannya seperti saat ia baru dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat salah satu nasehat "...ketika seorang anak muda diminta menancapkan sebuah paku di dinding ketika dia menyakiti hati orang lain, dan mencabutnya ketika dia sudah minta maaf. Awalnya begitu banyak paku di dinding itu, namun akhirnya satu-persatu paku itu tercabut hingga habis, yang tersisa adalah banyaknya lubang di dinding tersebut. Begitu pula hati orang yang kita sakiti, mereka bisa memaafkan kita namun sakit akibat perbuatan kita tidak mesti ikut hilang juga..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kita emosi atau disakiti maka seringkali pikiran kita adalah membalas sakit tersebut ke orang yang kita anggap menyebabkan itu semua. Sayangnya seringkali kita disakiti oleh masa lalu atau keadaaan, sesuatu yang membuat kita kesulitan untuk balas dendam. Akhirnya kita memusuhi apapun yang menjadi perlambangan 'representasi' dari masa lalu atau keadaan tersebut. Seperti misalnya anak yang disakiti orang tuanya, dia akan cenderung menyakiti anak lain, agar anak lain merasakan sakit yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat masa kecil Hitler, atau penghinaan yang diterima oleh Napoleon. Kepahitan hidup akibat kalah perang, merasa hidup di negara yang tak terhormat dan masa kecil yang tidak bahagia membuat Hitler dan Napoleon mempunyai ambisi untuk menguasai dunia, menjadi yang terhebat, walau untuk itu dia harus mengorbankan jutaaan nyawa. Versi lain adalah Alexander, menurut intepretasi Oliver Stone dalam filmmnya "Alexander", Alexander menjadi begitu haus kekuasaan karena pengaruh ibunya yang merasa tersakiti oleh suaminya "Philip". Napoleon, Hitler dan Alexander semua mati dalam sengsara. Kemenangan yang telah dia peroleh tidak mampu memuaskan dahaganya, karena saat mereka membenci masa lalu atau keadaan akhirnya mereka membenci dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyalahkan keadaan atau masa lalu, membuat kita bisa menjadi Hitler-kecil. Pola-pola pikir seperti "aku menjadi keras, karena aku dididik menjadi keras dari kecil", atau "aku tidak toleran karena mereka tidak menghargaiku", sebenarnya adalah pola-pola dari menyalahkan keadaan dan masa lalu. Pola-pola pikiran tersebut kalau kita pelihara hanya akan membuat diri kita punya 'pembenaran' untuk berlaku kejam terhadap orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu aku telah menyakiti beberapa orang dengan kata-kataku. Sifat yang telah lama aku jinakkan dengan 'ilmu-ilmu hati', akhirnya kumat juga. "Sifat asli seseorang akan nampak, jika ia dalam tekanan". Aku dulu pernah tumbuh menjadi pribadi yang sangat keras, bukan karena bintangku Taurus, sama dengan bintang Hitler dan Napoleon, tetapi karena aku hidup di lingkungan yang biasa melecehkanku. Keluargaku adalah keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang,namun sekali keluar dari sangkar emas itu, aku mendapati lingkungan yang sangat tidak bersahabat. Entah karena fisikku, pikiranku, gaya hidupku atau bahkan pakaianku aku sering diperlakukan dengan tidak hormat. Aku lama menerima hal itu sebagai 'sesuatu yang sudah seharusnya', sampai suatu saat aku menyadari bahwa 'semakin aku mengalah semakin mereka menjadi-jadi'. Kemudian saat itu tiba, ketika aku menantang berkelahi seseorang yang ditakuti orang, karena sudah tidak tahan lagi. Sangat mengejutkan karena dia tidak berani menanggapi tantanganku, dan kemudian dia menjadi sangat baik bagiku. Saat itu aku belajar 'kita harus melawan, saat dilecehkan'. Hal itu menjadi kebiasaan, sehingga akhirnya aku menjadi 'seseoarang yang ditakuti' dengan tidak terhitung lagi berapa orang yang telah aku sakiti (mayoritas dengan kata-kataku). Sampai suatu saat, ada seseorang yang berani melawanku. Sejarah berulang, orang-orang yang teraniaya ketika berkuasa juga akan cenderung menganiaya orang lain, apabila mereka tidak kuasa mengalahkan dendam di hatinya. Tidak mengejutkan bukan ketika 6 juta kaum  Yahudi dibantai saat Holocoust, 30 tahun kemudian mereka menjadi sama kejamnya ketika membantai orang-orang Palestina. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekarang menghitung-hitung berapa banyak lubang-lubang yang telah aku tinggalkan.  Pengembaraan yang jauh ini, tidak lebih dari upaya mengalahkan ego hati, mengalahkan ketakutan-ketakutan, dan mengalahkan rasa rendah diri bangsa yang kucintai ini. Sejauh apapun aku berjalan aku masih melihat dinding itu. Dinding penuh lubang-lubang yang belum tertutup. Atas nama sejarah yang selalu berulang aku minta maaf, dan semoga di akhir cerita kedamaian itu kutemukan. Semoga bisa seperti Sang Nabi yang kembali ke Mekkah dan memaafkan semua orang yang pernah mencelanya, melecehkannya, dan berusaha membunuhnya. Semoga bisa mengambil semangat Gandhi yang merelakan dirinya menderita demi kedamaian di Negerinya. Atau mengambil semangat Mandela yang menyerukan rekonsiliasi kepada rejim yang telah begitu represif terhadap kaumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3441823821648045274?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3441823821648045274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3441823821648045274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/09/apa-arti-sebuah-maaf.html' title='Apa arti sebuah maaf?'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-3157289857138725360</id><published>2006-08-29T07:12:00.000+10:00</published><updated>2006-08-29T08:20:46.798+10:00</updated><title type='text'>Out of Radar</title><content type='html'>"...within split second you're not up dated, the opportunity has gone...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The world isn't be the same after you married or moved away from your hometown. People still know that you're somewhere outthere but nobody cares about you. They are talking,  planning something and joking, without you on their list. As everyday I read and sometimes reply to some postings in the mailing list, I realized that I am out of radar. People talk to each other without even notice that I'm replying to them. In fact my blog also do not as crowded as before. Only one year ago, they are all my good friends, and I know that it would last forever, but  it just a little bit weird that they are now looking me like I am a stranger for them. Just because I'm married???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a different it would make just because I'm married? Off course I do not have plenty of times for hanging around like the old times, or I do not spend much time for talking about girls and what rummours around them, and then I also do not post the blog as many as before. If that are all of the reason behind the keep-the-pace-with-rudy thing, I would entirely agree and relieved. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On the other way around, maybe they have a different perspective about me. Some people considered a married person as a different level with a single. It is like when you graduated from your school and you're entitled with a new label. We feel different because we think that a marriage is like another achievement, so when you don't achieve it you feel that you haven't 'passed' something. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is just my writing based on what I was afraid to be happened, which thankfully it is not happened, except for the downturn of so-called blog traffic. My best friends are as warm as it used to be, although we do not communicate as intensive as before. I move to the next level indeed, but It doesn't mean that I have to change everything. I am still rudy as rudy they known before, and this blog will always be the blog as you ever know before. So if you still a friend who I knew before just keep on reading and commenting to this blog.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-3157289857138725360?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3157289857138725360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/3157289857138725360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/08/out-of-radar.html' title='Out of Radar'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-115630502171782887</id><published>2006-08-23T12:21:00.000+10:00</published><updated>2006-08-23T14:21:23.483+10:00</updated><title type='text'> Dancing with the Storm</title><content type='html'>"Conquer your biggest enemy! It is the fear inside you"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Not a very long time ago, in the middle of a conference, I have talked to Mr. D, one of guest lecturer in my faculty. He is maybe one of a few excellent men who had succesfully achieved something beyond his expectation by maximasing self motivation.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He studied psychology in University of Gadjah Mada, although he achieve a pretty good mark, at least twice he is almost kicked out because of his low attendace. He finnaly graduated after spent at least 8 years in the college, despite of 4 years as he should normally had. He told me that he rarely study.He more interested to climbed the mountain, adventured in the jungle or discovered the places people seldom to go. However he study seriously in the final year whenever he had to finish the thesis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maybe because I am a phycologist, so I knew better who I am". He knew how to maximize his strenght and how to keep on steady in the stressful condition. He started a good career as HRD staff at a multinational company like other psychology graduates. After one day he offered to manage one Operation Project. The project is very technical, it suppose to be somebody from engineering who took it. "If that day, I think that I cannot do the job since I am not engineer, well maybe there will be a different story then'. He would rather to choose to conquer his fear to fail than to give up in the beginning. Afterward, he learned that the project was not as difficult as he imagine. He found that, the project previously failed not because techical matters but simply because the previous manager failed to encourage the workers to participate and engaged to the project. So he started to make communications with the workers, listened to their problem, and discussed with other colleque to find the solution, something that he has ussually to do. Finnaly they formulated better solution for the problem. The project was very successfull.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maybe because I am an adventurer so I never be afraid to travel to a new place...". The project is not his most important and challenging achievement indeed. His boss once again offered him to participate to join the team to implement new approach in m the Companny which known as Six-Sigma (to know more about Six-Sigma please click &lt;a href="http://www.isixsigma.com/sixsigma/six_sigma.asp"&gt;this&lt;/a&gt;. The approach is relatively new in the operation management. The team has to follow 3 months intensive training in the US. "One of the biggest challenge in my life is to separate with my family..." he said to me deeply.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finnaly, after thinking fro a while, Mr D came to conclusion that he accepted to be part of the project. Mr D along with 3 other employees joined the training in US. The training was though. After one months, one of his friend went back home since he cannot stand on anymore. Six-Sigma needs thoroughly understanding of some statistics matters. This is another challenge for Mr D, since he comes from social science. He took extra hours for statistic tutorial then, compared to the other three fellow who has already master that stuff. However It was not the biggest challenge. He has to initiate a project within the the parent Company and implemented what they have learned during the two months training.  He was very stress at that time. The other three employees decided to give up and comeback to Indonesia, because it seems imposible to initiated and managed a project in  the parent Company which most of their workers are US residents. Once again Mr D, in the middle of dillema. If he want to carry on then he will work like hell, but if he want to stop like the other 3 employees then he felt that the last two months was useless. So he decided to took the challenge. He tell me with detail what are problems that he had to solve (which unfortunately I cannot share here due to vey technical matters), and finnaly he did. The company can save USD 1.2 Million by completing his project. He received a certificate and the CEO announce it trough email to all employees all around the world. He cried at that time. Something unbelieveable he actually can achieve, by keep on motivated his self that he can do it. It seems that there is no other high mountain he cannot climb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. It is a very interesting story indeed. I wish I could tell it better, but the morale story is that in many times we failed not because our capabilities, but more because we do not have endurance to stay in the demanding and stressfull situation. Maybe if we can stand a little bit more, it will go easier. It is like when Col. Sanders try his 9.999th recipe, if he stop at that point maybe there will be no KFC in our town right now. To stay in the middle of the  worst condition without getting  frustated is like to dance with the storm. We have to make 'a friend' with the stress not think it is 'an enemy'. Along many stress there will be many success&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S I still trying to keep motivate myself the study for so called "the hardest spot in this program" Security Valuation. Wish me luck guys for the next thursday quiz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/1852/179/1600/100_9963.jpg"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/1852/179/320/100_9963.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-115630502171782887?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/115630502171782887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/115630502171782887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/08/dancing-with-storm.html' title='&lt;strong&gt; Dancing with the Storm&lt;/strong&gt;'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5366219.post-115621861230996096</id><published>2006-08-22T13:24:00.000+10:00</published><updated>2006-08-22T13:50:12.576+10:00</updated><title type='text'> 1st Report </title><content type='html'>This is my first posting direct from my little gadgdet. Couple days ago a friend of mine gave me a fantastic Pocket PC software for browsing the internet. So here I am, pushing tiny stick to my virtual PDA keyboard to make a very first live report.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melbourne,a wellknown city of "4 season a day", is getting warmer these days. No more frozy  orning, although the heater still turning on. I am still strugling with adaptation process to the new environment, especially related with my study. Too much assigment, reading material and tutorial which I have to cover has make my days shorter. So little time,So much to do. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have dedicated my self to keep focus on the most important thing which is to study effectively, but this demanding program need more than hardwork, It need smart work, which means carefully set priorities, execute quickly and keep on alert. I have missed some of homeworks and appointments because I am not stick with the agenda which I have agreed before.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My liasion officer had suggested me to maintain tight time management, and I responsed with implemented "Get the Things Done" stuff. I can complete my tasks quicker, but I am less alerted since I am only concern to finish something as quickly a  possible. Maybe I have try another self management suggestion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, everything seems on track right now. I am really enjoying life with many challenges. It seems unbeliveble one year ago I was still single with many messy things to do.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(wow It's quite long, isn't it? To type in this tiny keyboard as not difficult as I thought before)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5366219-115621861230996096?l=rudyland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/115621861230996096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5366219/posts/default/115621861230996096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rudyland.blogspot.com/2006/08/1st-report.html' title='&lt;strong&gt; 1st Report &lt;/strong &gt;'/><author><name>Rudyland</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05520451949101483709</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
